Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Sejumlah Cendekiawan Luncurkan Simposium Memajukan Kesejahteraan Umum  

Melalui ruang akademik berbentuk Simposium Nasional, memungkinkan terbangunnya jaringan pengetahuan di kalangan kaum intelegensia

Sejumlah Cendekiawan Luncurkan Simposium Memajukan Kesejahteraan Umum  
HO/Tribunnews.com
Sudirman Said 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Forum 2045 menyelenggarakan peluncuran secara daring Simposium Nasional “Memajukan Kesejahteraan Umum,” pada Selasa (2/3/2021) malam. 

Acara simposium ini sendiri akan di gelar pada 7-10 April 2021 dan akan dilaksanakan secara daring yang dapat diikuti oleh masyarakat umum.

“Malam ini merupakan kick off, peluncuran menuju penyelenggaraan Simposium,” ujar Ketua Institut Harkat Negeri Sudirman Said yang juga merupakan steering commitee Simposium, Selasa (2/3/2021).

“Kedepannya setiap Jumat malam akan ada pidato, mengundang tokoh-tokoh nasional,” jelasnya.

Sekretariat Simposium Nasional Untoro Hariadi menjelaskan Simposium Nasional “Memajukan Kesejahteraan Umum,” merupakan inisiatif bersama, dalam wujud suatu ruang akademik untuk membahas tantangan bangsa ke depan, terutama dalam menyongsong satu abad proklamasi kemerdekaan.

“Pemilihan tema “Memajukan Kesejahteraan Umum” diyakini dapat menjadi visi utama yang ingin dicapai pada tahun 2045 sekaligus untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan yang tertera pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,” ujarnya.

Baca juga: Erick Thohir Posting Foto Pertemuannya dengan Para Mantan Menteri BUMN

Dia menjelaskan tema “memajukan kesejahteraan umum” diambil, bukan hanya karena term tersebut termuat di dalam teks Pembukaan Undang- Undang Dasar 1945. Namun diyakini bahwa itulah “yang ideal” yang hendak dicapai bangsa.

Menurut dia, kesejahteraan umum, tentu tidak perlu dipersempit hanya dalam pengertian ekonomi, melainkan harus dibebaskan agar dapat kembali kepada pengertiannya yang lebih luas dan dalam, yakni keadaan bangsa yang sepenuhnya terbebas dari segala ciri kolonial yang merendahkan martabat manusia dan bangsa.

Jika bangsa diandaikan sebuah kapal besar yang hendak berlayar, maka, kata dia, tentu dibutuhkan kejelasan lokasi yang hendak dituju, rute dan keseluruhan informasi tentang keadaan selama perjalanan, termasuk cuaca. Dengan demikian, pengetahuan (tentang segala sesuatu), merupakan hal yang mutlak ada, dan bahkan harus terus dikembangkan, mengingat keadaan yang terus bergerak dinamis.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Eko Sutriyanto
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas