Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Menko PMK Minta Data Stunting di Daerah Tidak 'Disulap' 

Muhadjir mengatakan penanganan stunting tidak akan optimal jika data yang disampaikan tidak sesuai realita. 

Menko PMK Minta Data Stunting di Daerah Tidak 'Disulap' 
Tribunnews/Jeprima
Petugas medis menyuntikkan vaksin kepada seorang balita yang mengikuti imunisasi di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (26/11/2020). Imunisasi rutin lengkap merupakan program vaksin dasar yang diberikan kepada bayi kurang dari 24 jam hingga anak berusia 3 tahun dengan tujuan mempertahankan tingkat kekebalan optimal sekaligus mencegah terjadinya stunting pada anak. Tribunnew/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta agar data stunting di daerah tidak disulap atau dipalsukan. 

Dirinya meminta para petugas menyampaikan data secara menyeluruh mengenai angka stunting

"Pesan saya kepada para petugas baik PLKB (Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana), petugas BKKBN, dari Kemenkes, datanya jangan disulap (dipalsukan). Sampaikan data apa adanya," ujar Muhadjir melalui keterangan tertulis, Rabu (17/3/2021). 

Muhadjir mengatakan penanganan stunting tidak akan optimal jika data yang disampaikan tidak sesuai realita. 

Baca juga: Menko PMK: Penanganan Stunting Hingga HIV Tidak Boleh Terabaikan di Tengah Pandemi Covid-19

Penanganan yang dilakukan dengan memberikan pengetahuan yang baik seperti pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan pengetahuan tentang gizi untuk mencegah stunting sejak dini.

"Karena kalau datanya tidak benar nanti kemudian kita keliru dalam mengatasinya. Sampaikan apa adanya. Kalau dia stunting sampaikan dia stunting. Kalau dia gizi buruk sampaikan gizi buruk. Sehingga nanti pihak dari Kemenkes, BKKBN, bisa mengatasi dan menangani dengan sungguh-sungguh," tutur Muhadjir. 

Penanganan stunting penting untuk dilakukan sejak dini sebelum terjadi pernikahan, terutama pada perempuan sejak remaja. 

Perempuan dan anak, menurut Muhadjir, merupakan kelompok rentan dan kelompok strategis. 

Menurutnya, pencegahan stunting pada perempuan dan anak perlu dilakukan jauh-jauh hari sejak dini.

"Masa depan bangsa indonesia ditentukan oleh mereka-mereka yang masih bayi ini yang masih balita ini. Indonesia emas tahun 2045 ini ditentukan oleh mereka yang masih balita ini," pungkas Muhadjir. 

Seperti diketahui, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Status Gizi Balita pada 2019, prevalensi stunting di Indonesia masih sebesar 27,67 persen. 

Presiden RI Joko Widodo mencanangkan target penurunan stunting menjadi 14 persen di tahun 2024.

Ikuti kami di
Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Hasanudin Aco
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas