Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

BMKG Prediksi Tahun 2025 Tidak Ada Lagi Lapisan Es di Puncak Jayawijaya

Dari 2010 lalu terjadi penyusutan lapisan es di puncak Gunung Jayawijaya setebal 23,46 meter. 11 tahun lalu lapisan es di Jayawijaya 31,49 meter.

BMKG Prediksi Tahun 2025 Tidak Ada Lagi Lapisan Es di Puncak Jayawijaya
IST
Puncak Jayawijaya (Carstensz Pyramid) Papua

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati memprediksi bahwa es di Puncak Gunung Jayawijaya akan habis pada 2025 mendatang.

Hal itu diakibatkan perubahan iklim yang terjadi sekarang ini.

"Dampak dari perubahan iklim dan kondisi ekstrem tersebut juga kami memprediksi bahwa es di Gunung Jayawijaya, di Puncak Jayawijaya ini tahun 2025 akan habis," kata Dwi dalam rapat dengan DPR, Senin (22/3/2021).

Dwi mengatakan dari 2010 lalu terjadi penyusutan lapisan es di puncak Gunung Jayawijaya setebal 23,46 meter. 11 tahun lalu lapisan es di Jayawijaya, mencapai 31,49 meter.

"Sampai saat ini sudah susut 23,46 meter berarti ini tersisa tinggal 7 meter dan diprediksi tahun 2025 kalau kita tidak melakukan tindakan akan habis semua," katanya.

Baca juga: Ahli dari BMKG Bantah Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika Gunakan Senjata Nuklir

Baca juga: Info BMKG Selasa, 23 Maret 2021: Waspada Gelombang Tinggi di Perairan Barat Lampung Capai 4 Meter

Perubahan iklim juga kata Dwi menyebabkan cuaca ekstrem terjadi di Indonesia.

Saat musim kemarau total curah hujan cenderung berkurang, kemudian intensitas hujan lebat dalam satu hari bertambah di banyak daerah saat musim hujan tiba.

"Jadi dampak dari perubahan iklim ini kesimpulannya adalah jumlah kejadian ekstrem akan semakin sering. semakin meluas dan durasinya semakin panjang, bahkan intensitasnya semakin melompat," katanya.

BMKG menurut Dwi telah memonitor perubahan iklim Global, sejak tahun 2004 sesuai dengan tugas yang diamanatkan undang-undang. Perubahan iklim terjadi karena efek gas rumah kaca.

"Kami memonitor bahwa perubahan iklim global tersebut sangat dikontrol oleh adanya gas rumah kaca atau CO2 dan beberapa gas rumah kaca lainnya," kata Dwi.

Puncak Jayawijaya (Carstensz Pyramid) Papua
Puncak Jayawijaya (Carstensz Pyramid) Papua (IST)

Dwi mengatakan terjadi peningkatan gas rumah kaca dari 372 ppm pada tahun 2004 menjadi 408 ppm sekarang ini. Peningkatan tersebut terbilang signifikan meski masih di bawah rata-rata global yakni 413 ppm.

Berdasarkan hasil analisis BMKG tentang proyeksi perubahan iklim ini, kata Dwi, bila gas rumah kaca tersebut tidak dikendalikan terutama yang berasal dari fosil fuel atau bahan bakar fosil di sektor transportasi dan industri maka akan terjadi kenaikan suhu di seluruh wilayah Indonesia pada akhir abad 21 sebesar 4 derajat celcius.

"Padahal peringatan dunia tidak boleh melampaui 2 derajat Celcius," kata dia.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas