Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Suhu di Indonesia Naik 4 Derajat Celcius Jika Gas Rumah Kaca Tidak Terkendali

Dwi mengatakan terjadi peningkatan gas rumah kaca dari 372 ppm pada tahun 2004 menjadi 408 ppm sekarang ini.

Suhu di Indonesia Naik 4 Derajat Celcius Jika Gas Rumah Kaca Tidak Terkendali
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Awan Cumulonimbus menyelimuti perairan Teluk Jakarta di kawasan perairan kepulauan Seibu, Jakarta, Minggu (10/01/2021). Perairan Teluk Jakarta sejak beberapa hari terakhir diselimuti cuaca ekstrem yang berbahaya bagi pelayaran dan penerbangan seputar Kota Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan kejadian ekstrem mulai dari hujan lebat, kemarau, dan gelombang tinggi yang melanda Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini merupakan dampak dari perubahan iklim.

"Jadi dampak dari perubahan iklim ini kesimpulannya adalah jumlah kejadian ekstrem akan semakin sering. Semakin meluas dan durasinya semakin panjang, bahkan intensitasnya semakin melompat," kata Dwi dalam rapat dengan DPR pada, Senin (22/3/2021).

BMKG menurut Dwi telah memonitor perubahan iklim global, sejak tahun 2004 sesuai dengan tugas yang diamanatkan undang-undang. Perubahan iklim terjadi karena efek gas rumah kaca.

"Kami memonitor bahwa perubahan iklim global tersebut sangat dikontrol oleh adanya gas rumah kaca atau CO2 dan beberapa gas rumah kaca lainnya," kata Dwi.

Baca juga: Info Cuaca BMKG Besok Selasa 23 Maret 2021: 23 Daerah Berpotensi Cuaca Ekstrem

Baca juga: Ahli dari BMKG Bantah Teori Konspirasi Tsunami Aceh 2004 Rekayasa Amerika Gunakan Senjata Nuklir

Dwi mengatakan terjadi peningkatan gas rumah kaca dari 372 ppm pada tahun 2004 menjadi 408 ppm sekarang ini.

Peningkatan tersebut terbilang signifikan meski masih di bawah rata-rata global yakni 413 ppm.

Berdasarkan hasil analisis BMKG tentang proyeksi perubahan iklim ini, kata Dwi, bila gas rumah kaca tersebut tidak dikendalikan terutama yang berasal dari fosil fuel atau bahan bakar fosil di sektor transportasi dan industri, maka akan terjadi kenaikan suhu di seluruh wilayah Indonesia pada akhir abad 21 sebesar 4 derajat celcius.

Sejumlah aktivis lingkungan saat menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Kementerian Lingkunga Hidup dan Hutan di Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (11/12/2020). Aksi ini dipelopori tiga kelompok anak muda sadar iklim yaitu Extinction Rebellion Indonesia (XR), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Jaga Rimba yang menuntut keseriusan pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan iklim. Sesuai dengan perjanjian paris bahwa Indonesia menyatakan komitmen untuk mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) 29% di bawah Business As Usual (BAU) pada tahun 2030 dan sampai dengan 41% dengan bantuan internasional. Tribunnews/Jeprima
Sejumlah aktivis lingkungan saat menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Kementerian Lingkunga Hidup dan Hutan di Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (11/12/2020). Aksi ini dipelopori tiga kelompok anak muda sadar iklim yaitu Extinction Rebellion Indonesia (XR), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Jaga Rimba yang menuntut keseriusan pemerintah Indonesia dalam menangani persoalan iklim. Sesuai dengan perjanjian paris bahwa Indonesia menyatakan komitmen untuk mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) 29% di bawah Business As Usual (BAU) pada tahun 2030 dan sampai dengan 41% dengan bantuan internasional. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/JEPRIMA)

"Padahal peringatan dunia tidak boleh melampaui 2 derajat Celcius," kata dia.

Dwi menambahkan tidak terkendalinya gas rumah kaca tersebut juga yang menyebabkan terjadi cuaca ekstrem di Indonesia, karena suhunya yang semakin panas.

Oleh karena itu BMKG meminta dukungan parlemen dalam membuat langkah-langkah antisipasi dalam pengendalian gas rumah kaca.

"Untuk adanya program yang sistemik untuk mengerem kenaikan suhu dengan mengendalikan gas rumah kaca tersebut," ujarnya.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas