Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Bom di Makassar

Jubir Kubu Moeldoko: Semasa SBY Jadi Presiden, Paham Radikal Tumbuh Subur

Muhammad Rahmad menyebut, paham radikalisme tumbuh subur pada masa kepemimpinan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Jubir Kubu Moeldoko: Semasa SBY Jadi Presiden, Paham Radikal Tumbuh Subur
Tribun Timur/Sanovra Jr
Aparat Brimob melakukan penggeledahan rumah Lukman, tersangka bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar yang berlangsung di Jalan Tinumbu 1 Lrg 132, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (29/3/2021). Aparat menggunakan robot penjinak bom dengan tujuan untuk menggeledah barang bukti di dalam rumah tersangka. Tribun Timur/Sanovra Jr 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru bicara Partai Demokrat kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad menyebut, paham radikalisme tumbuh subur pada masa kepemimpinan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Hal itu, kata Rahmad, mengakibatkan banyak kasus intoleransi terjadi di era SBY.

"Semasa SBY menjadi Presiden, diakui bahwa paham radikal tumbuh subur dan seakan-akan mendapat tempat di Indonesia," kata Rahmad kepada wartawan, Senin (29/3/2021).

Dilanjutkan Rahmad, ketika organisasi radikal dibubarkan oleh pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), pihaknya mendeteksi kalau organisasi itu mencari tempat berlindung ke Partai Demokrat.

Menurutnya organisasi berpaham radikal itu merasa nyaman dengan Demokrat.

"Setidaknya, kelompok radikal itu merasa nyaman dengan Partai Demokrat. Apalagi jika dikasih ruang untuk masuk ke dalam legislatif, maka itu akan membahayakan masa depan Indonesia," ujarnya.

Oleh karena itu, Rahmad menegaskan, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko bersedia memimpin Partai Demokrat.

Baca juga: Teror Bom di Makassar, Moeldoko Mengaku Sudah Cium Bahaya Radikalisme di Indonesia

Menurutnya, Moeldoko berani mengambil risiko supaya Demokrat terhindar dari pengaruh-pengaruh radikal yang akan membahayakan masa depan bangsa dan negara.

"Jika paham radikal berlindung di dalam partai demokrat disebut omong kosong oleh pendukung SBY dan AHY, itu sah,sah saja. Silahkan saja. Mereka tentu berusaha membela diri," ucapnya.

"Yang kita lihat adalah fakta sejarah dimana kelompok radikal saat ini berusaha mencari tempat berlindung dan kelihatannya kelompok radikal itu nyaman berada dibelakang bayang bayang SBY," pungkasnya.

Penulis: chaerul umam
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas