Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

Australia Capai Positivity Rate di Bawah 1 Persen, Indonesia Masih Tinggi, Apa Kata Epidemiolog?

Saat ini positivity rate Australia berada di kisaran 0,2 persen, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengam Indonesia yang berada di atas 10 persen. 

Australia Capai Positivity Rate di Bawah 1 Persen, Indonesia Masih Tinggi, Apa Kata Epidemiolog?
WARTAKOTA/Henry Lopulalan
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengadakan program vaksinasi bagi 1000 pekerja atau buruh di Kantor Kemnaker, Jalan Gatot Subroto,Jakarta Selatan, Selasa (4/5/2021). Pelaksanaan vaksinasi diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day Tahun 2021. (Warta Kota/Henry Lopulalan) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Negara Australia nampaknya kini dapat dijadikan sebagai contoh dalam menanggapi pandemi Covid-19. Australia tidak lagi mewajibkan penggunaan masker hingga di pusat perbelanjaan. 

Walau di sisi lain, menurut pejabat sementara Menteri Utama Victoria, James Merlino, masker masih harus digunakan bila bepergian menggunakan transportasi umum, taksi, di rumah sakit dan di rumah perawatan lansia.

Saat ini  positivity rate Australia berada di kisaran 0,2 persen, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengam Indonesia yang berada di atas 10 persen. 

Menurut Ahli Epidemiologi Indonesia dan Peneliti Pandemi dari Griffith University, Dicky Budiman, hal ini bukanlah suatu yang mengherankan. Australia telah tegas, ketat dan cepat menanggulangi Covid-19, bahkan sebelum kasus infeksi pertama muncul.

Baca juga: Empat Orang di Inggris Tewas oleh Varian Baru Covid-19 dari India

Dan saat kasus telah muncul, Australia langsung mengadakan lockdown untuk mengurangi angka infeksi. Namun apakah Indonesia dapat melakukan hal yang serupa dengan Australia? 

Baca juga: Fatin Positif Covid-19, Arafah Rianti Beberkan Kondisi Terbaru, Pakai Alat Bantu Pernafasan

Menurut Dicky, Indonesia saat ini sepertinya tidak akan sanggup melakukan lockdown secara serentak. Terutama dalam skala besar karena dirasa terlalu berat. 

Melihat Indonesia saat ini levet terburuk yaitu berada di Community transmision. Berbeda dengan Australia yang sudah beberapa lama tidak ada kasus baru. Kalau pun memang ingin melakukan pembatasan, tentunya tidak terlalu besar.

"Tidak akan sanggup. Mungkin jika PSBB dilakukan dua Minggu total se-Jawa dan Bali mungkin bisa dilakukan. Namun yang utama sekali adalah penting penanganan terhadap temuan kasus aktif serta penjangkauan, itu yang harus dilakukan,"katanya pada Tribunnews, Sabtu (15/5/2021).

Dilihat dulu upaya konsisten dari penegakan protokol kesehatan. Walaupun ada vaksin, hal ini tidak bisa dijadikan sebagai strategi utama. 

Ikuti kami di
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas