Tribun

Budiman Sudjatmiko: Bukit Algoritma Ingin Indonesia Menjadi Bangsa Berbasis Pengetahuan

negara yang dinilai siap dalam merepresentasikan DRL maupun TRL adalah Amerika Serikat dan China

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
zoom-in Budiman Sudjatmiko: Bukit Algoritma Ingin Indonesia Menjadi Bangsa Berbasis Pengetahuan
Tribunnews.com/Chaerul Umam
Budiman Sudjatmiko. TRIBUNNEWS.COM/CHAERUL UMAM 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia sekaligus CEO KSO (Kerja Sama Operasi) Bukit Algoritma, Budiman Sudjatmiko, menilai Indonesia masih terhambat dalam mengembangkan kemandirian teknologi.

Hal itu, menurut dia, disebabkan karena kecanggungan bangsa Indonesia dalam memadukan Demand Readiness Level (DRL)  dan Technology Readiness Level (TRL).

“Sehingga inovasi hasil riset dan pengembangan produk dari berbagai peneliti banyak yang tidak termanfaatkan sepenuhnya atau hanya berakhir sebagai dokumen yang manfaatnya tidak dapat dirasakan oleh masyarakat atau pengguna,” kata Budiman saat memberikan paparan dalam diskusi melaui webinar HIMPERINDO (Himpunan Perekayasa Indonesia) bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimulyono, Kepala BPPT (Badan Pengajian & Penerapan Teknologi), Hammam Riza, dan Kepala BRIN (Badan Riset & Inovasi Nasional), Laksana Tri Handoko, Kamis (27/5/2021).

Baca juga: Amarta Karya Garap Proyek KEK Bukit Algoritma di Sukabumi

Menurut dia, hal tersebut terjadi karena adanya permasalahan dalam proses pengembangan teknologi inovasi hasil riset yang tidak cocok dengan kesiapan pasar menyerap teknologi tersebut.

Budiman mengungkapkan, tingkat kesiapan teknologi (technology readiness level) merupakan metode pengukuran kematangan atau kesiapan dari pengembangan produk teknologi tertentu.

“Permasalahan inovasi teknologi tersebut dapat diselesaikan apabila pada tahap pengembangan teknologi dilakukan penilaian secara objektif menggunakan TRL untuk mengetahui teknologi tersebut telah siap atau belum untuk dikomersialisasikan,” papar Budiman.

Baca juga: Budiman Sudjatmiko Sebut Silicon Valley  Indonesia Siap Dibangun, Lokasinya di Sukabumi

Menurut dia, negara yang dinilai siap dalam merepresentasikan DRL maupun TRL adalah Amerika Serikat dan China yang masing-masing memakai pendekatan pasar dan negara.

Sementara Indonesia hanya sebatas "tanam, gali, tebang dan jual".

Padahal di lain pihak sekarang permintaan pasar teknologi sangat tinggi, akibatnya pasar mencari jalan yang instan dan mengandalkan impor.

"Ketika menyangkut teknologi akhirnya mencari merek yang lebih branded, karena perilaku konsumen teknologi Indonesia tidak mendukung kemandirian teknologi.
Karena masyarakat Indonesia, terutama yang di perkotaan, banyak mengejar merek dalam.berbelanja teknologi. Padahal produk teknologi dalam negeri banyak berkualitas,” ungkap Budiman.

Baca juga: Budiman Sudjatmiko : Indonesia Harus Punya Komite Sains Kepresidenan dan “Silicon Valley”

Di lain pihak, Budiman pun mengungkapkan bahwa masyarakat kita masih minder memasarkan produk teknologinya meskipun negara-negara asing berpandangan bahwa potensi pasar teknologi bangsa ini sangat besar.

Oleh karenanya, Budiman menjelaskan bahwa Bukit Algoritma menawarkan pengembangan teknologi rekayasa teknologi yang memadukan DRL dan TRL berbasis komunitas sebagai alternatif pendekatan pasar dan negara yang banyak dilakukan AS (Amerika Serikat), China & negara-negara maju lain.

Diharapkan dengan pendekatan DRL dan TRL berbasis komunitas ini maka dampak sosial, budaya dan ekonomi akan lebih besar bagi kebangkitan teknologi bangsa Indonesia menuju bangsa berbasis pengetahuan (knowledge-based nation)

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas