Tribun

Laporan EIU Sebut Demokrasi di Indonesia Mundur, Riza Ramli: Solusinya Hapus Presidential Threshold

Tokoh nasional, Rizal Ramli mengaku miris dengan kemunduran demokrasi di Indonesia.

Penulis: chaerul umam
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Laporan EIU Sebut Demokrasi di Indonesia Mundur, Riza Ramli: Solusinya Hapus Presidential Threshold
Tribunnews.com/ Chaerul Umam
Rizal Ramli dalam acara Halal Bihalal dan Pembukaan Rumah Konsolidasi Demokrasi di Kantor baru Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) di Jalan Veteran I, Gambir, Jakarta, Minggu (6/6/2021). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tokoh nasional, Rizal Ramli mengaku miris dengan kemunduran demokrasi di Indonesia.

Fakta terungkap terungkap dalam laporan The Economist Intelligence Unit (EIU) mengenai Indeks Demokrasi 2020 yang mencatat Indeks Demokrasi di Indonesia turun dari skor 6,48 di tahun 2019 menjadi 6,3 di tahun 2020.

Angka itu merupakan yang terendah selama 14 tahun terakhir.

Bahkan, skor tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-64 dari 167 negara dunia.

Menurut Rizal Ramli, ProDEM bersama para aktivis lainnya sudah berjuang melawan dan berkorban untuk menghapuskan sistem otoriter dan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Baca juga: Rizal Ramli: Kebangkitan Nasional Momentum Ubah Demokrasi Kriminal Jadi Bersih

Hal itu disampaikannya dalam acara Halal Bihalal dan Pembukaan Rumah Konsolidasi Demokrasi di Kantor baru Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) di Jalan Veteran I, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (6/6/2021).

"Kita berhasil mengubah sistem otoriter menjadi demokratis dan KKN dikurangi. Tapi kemenangan itu hanya sementara. Karena anasir-anasir otoriter dan KKN kembali merebut kekuasaan, membalikkan tonggak-tonggak kemenangan yang kita bangun. Kembali pada sistem otoriter, sehingga indeks demokrasi Indonesia anjlok 30 poin," kata Rizal Ramli.

Rizal Ramli mengingatkan dalam waktu 3 tahun ke depan sampai 2024, krisis akan semakin dalam.

Tentunya, rekayasa adu domba untuk menutupi hal itu akan semakin luar biasa.

Hal itulah yang membuat demokrasi Indonesia akan semakin hancur.

Baca juga: Stafsus Sri Mulyani: Rizal Ramli Terburu Nafsu Serang Menkeu 

"Setiap ada masalah di Indonesia, solusi mereka cuma satu, radikal radikul. Kok bisa nyelesain masalah dengan slogan bahwa semua masalah di Indonesia radikal radikul? Padahal masalah utama kita adalah, korupsi yang luar biasa. Tidak adanya konsistensi antara niat pemimpin, kata-kata pemimpin dan tindakan," ucapnya.

Selain itu, sambung Rizal Ramli, demokrasi kriminal hari ini dengan wujud presidential threshold atau ambang batas presiden juga telah merusak sendi-sendi demokrasi.

Karena, menurutnya, hal itu hanya melahirkan oligarki yang tentunya tidak setia kepada rakyat dan kepada tujuan kemerdekaan.

Baca juga: Defisit APBN Melonjak 89,7 Persen, Rizal Ramli: Menkeu Sembunyikan Data karena Anggaran Keropos

Dia pun mengajak semua pihak untuk mengubah agar demokrasi menjadi bersih dan amanah.

Sehingga, demokrasi akan bekerja untuk keadilan dan kemakmuran rakyat, bukan untuk bandar dan oligarki.

"Baru tahun 2021, Jokowi sudah ditinggalkan oleh rakyat dan partai-partai, padahal masih 3 tahun lagi 2024. Pasca Presiden, Jokowi akan power less tidak ada kekuasaan, almost nobody," ujarnya.

Rizal Ramli memberikan saran kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar tetap memiliki pengaruh pasca menjadi Presiden nantinya.

Sarannya adalah, Jokowi harus mendukung penghapusan Presidential Threshold menjadi 0 persen.

"Hanya dengan cara itu, Jokowi punya pengaruh pasca jadi presiden. Tinggal pilih, apakah Jokowi ingin punya arti atau ingin tidak berarti?" katanya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas