Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Survei Median: Netizen Lebih Memilih Lockdown daripada PPKM

Hasil survei dimaksudkan untuk menggali persepsi pengguna media sosial Facebook di Indonesia.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Survei Median: Netizen Lebih Memilih Lockdown daripada PPKM
Tribunnews/Jeprima
Petugas merapikan tumpukan kantong sampah plastik kuning yang menumpuk di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (6/7/2021). Sejumlah petugas berpakaian alat pelindung diri (APD) lengkap tiap hari mengumpulkan kantong plastik berwarna kuning yang menumpuk berisikan APD bekas pakai, kardus makanan, dan sejumlah barang pasien yang sudah tidak terpakai. Kemudian tumpukan limbah itu disimpan di ruang khusus Tower 7 RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet. Sekali angkut, RSD Wisma Atlet bisa mengangkut 2 ton limbah medis corona. Dalam sehari petugas dapat mengangkut 3 kali yaitu pagi, siang, dan malam hari. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Survei media sosial terbaru yang dirilis Lembaga Media Survei Nasional (Median) mengetengahkan persepsi masyarakat terhadap pengetatan atau pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah selama pandemic covid-19 ini.

Hasilnya, ternyata lebih banyak masyarakat yang memilih pengetatan total seperti karantina (lockdown) ketimbang PPKM skala Mikro seperti yang telah diberlakukan pemerintah sejak awal tahun 2021 lalu.

"Mayoritas lebih banyak setuju langkah-langkah pengetatan total seperti karantina dan lockdown, yaitu bagi yang setuju angkanya 39,3 persen, sedangkan yang setuju PPKM mikro hanya sebesar 35,4 persen. Lebih banyak yang setuju karantina daripada PPKM mikro," ujar Direktur Eksekutif Median Rico Marbun dalam rilis survei, Rabu (7/7/2021).

Dalam survei tersebut, Median mendapati tiga alasan besar, mengapa masyarakat lebih memilih pengetatat total, antara lain karena dianggap bisa menghentikan penyebaran virus (11,9 persen), mencegah peningkatan korban lebih banyak (9 persen), lebih efektif efisien (4,8 persen) dan alasan-alasan lainnya.

"Pengetatan total ini lebih dipilih masyarakat karena tingkat keparahan COVID-19 yang semakin berat dibanding tahun sebelumnya,” ujar Rico.

Survei Median via Media Sosial ini menggunakan rancangan Non Probability Sampling.

Kuesioner berbasis Google Form disebarkan melalui Facebook dengan target pengguna aktif Facebook berusia 17-60+.

Rekomendasi Untuk Anda

Form Pertanyaan disebar secara proporsional terhadap populasi dan tersebar di akun Facebook di 34 Provinsi.

Hasilnya terkumpul sebanyak 1.089 responden yang tersebar di 32 provinsi.

Hasil survei dimaksudkan untuk menggali persepsi pengguna media sosial Facebook di Indonesia.

Baca Selanjutnya: Pt equity life bantah pernyataan anies soal paksa karyawan ibu hamil masuk kerja

Karena sampel adalah pengguna media sosial, maka survei ini tidak dimaksudkan untuk memberi gambaran persepsi populasi secara keseluruhan.

Pandemi 2021 Lebih Parah

Hasil survei Median juga menunjukkan, hampir separuh responden menyatakan situasi pandemi Covid-19 pada tahun ini lebih parah dibandingkan sebelumnya.

"Jadi 49,7 persen netizen itu menyatakan bahwa situasi Covid-19 itu makin parah sekarang ini dibandingkan dengan setahun yang lalu," kata Direktur Eksekutif Meidan Rico Marbun dikutip dari Kompas.com.

Sementara itu, 29,3 persen responden menyatakan situasi pandemi tahun ini sama saja dibandingkan tahun lalu, 14,2 persen responden menyatakan lebih baik, dan 6,8 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab.

Menurut Rico, temuan survei tersebut selaras dengen kondisi faktual di mana jumlah kasus positif Covid-19 dan kematian akibat Covid-19 terus meningkat.

"Kalau kita lihat hari ini begitu ya, betapa banyak tragedi yang kita dengar, memang orang itu mengatakan hampir 50 persen menyatakan situasi Covid-19 sekarang ini lebih parah dibandingkan dengan tahun lalu," kata dia.

Rico pun menduga, jumlah responden yang menilai situasi pandemi lebih buruk akan bertambah apabila survei dilakukan pada awal Juli 2021.

Tingkat kepuasan publik

Di samping itu, survei Median juga menemukan tingkat kepuasan publik atas kinerja pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 masih berada di bawah 50 persen.

Rico membeberkan, hanya ada 35,3 persen responden yang puas atas kinerja pemerintah pusat dalam menangani Covid-19, sedangkan yang tidak puas sebanyak 30,6 persen dan biasa saja 34,2 persen.

Sementara, di pemerintah provinsi terdapat 37,8 persen responden puas; 25,4 persen responden tidak puas; dan 36,7 persen responden biasa saja.

Lalu, di pemerintah kabupaten/kota ada 36,5 persen responden menyatakan puas; 24,5 persen responden tidak puas; dan 38,9 persen responden biasa saja.

"Kalau kita lihat rentang angkanya masih di bawah 50 persen, maka ini rentangnya antaara 30-40 persen, ini artinya eksekutif kita baik di tingkat kota/kabupaten maupun di tingkat provinsi atau bahkan di tingkat pusat itu perlu memperbaiki kinerjanya," ujar Rico.

Sumber: Tribunnews.com/Kompas.com

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas