AHY: Menyakitkan, Jika Setiap Kritik Dianggap Sebagai Perlawanan
AHY mengatakan, sikap kritis partainya dalam memberikan masukan terkait pandemi Covid-19 sering disalah artikan oleh pemerintah.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Adi Suhendi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, sikap kritis partainya dalam memberikan masukan terkait pandemi Covid-19 sering disalah artikan oleh pemerintah.
Padahal, kata AHY, Partai Demokrat terus memberikan masukan yang konstruktif untuk pemerintah, serta menyuarakan harapan dan aspirasi masyarakat.
Hal itu disampaikan AHY dalam pidato Kebangsaan memperingati 50 tahun CSIS Indonesia secara virtual, Senin (23/8/2021).
"Pandangan atau masukan kritis dianggap sebagai bentuk serangan atau gangguan untuk kepentingan politik tertentu. Lebih menyakitkan, jika setiap masukan dan pandangan yang berbeda dianggap sebagai bentuk perlawanan," kata AHY.
AHY menyebut, bagi Partai Demokrat sikap dan posisi kritis seperti itu adalah sesuatu yang fundamental.
Baca juga: Demokrat: Wacana Amandemen UUD 1945 Sangat Tidak Bijaksana di Tengah Situasi Pandemi
Apalagi, partainya jelas berada di luar pemerintahan.
Ia mengatakan Partai Demokrat ingin pemerintah sukses dan masyarakat Indonesia selamat dari ancaman pandemi.
Namun, yang terjadi, justru masukan dan pandangan yang berbeda kerap dianggap sebagai bentuk perlawanan.
Baca juga: Partai Demokrat: Katanya Tidak Antikritik, Tapi Pembuat Mural Dikejar-kejar
"Menurut kami, yang tak Merah Putih adalah mereka yang hanya berdiam diri ketika tahu ada yang keliru di negeri ini. Atau mereka yang hanya berdiam diri menunggu pemimpin mereka berbuat kesalahan dan negaranya gagal," kata AHY.