Tribun

Pengamat: Demokrasi Indonesia Masih Prosedur, Belum Substansial

Ia sependapat dengan pihak yang menyebut bahwa demokrasi di Indonesia masih sebatas prosedural, dan belum mengarah ke substansial.

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Pengamat: Demokrasi Indonesia Masih Prosedur, Belum Substansial
Istimewa via Tribunnews.com
Ujang Komarudin 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin sependapat dengan pihak yang menyebut bahwa demokrasi di Indonesia masih sebatas prosedural, dan belum mengarah ke substansial.

Hal ini ia sampaikan dalam diskusi publik 'Masa Depan HAM dan Demokrasi di Indonesia' secara daring, Senin (6/9/2021).

"Kita ini demokrasi prosedural, belum ke arah demokrasi substansial," kata Ujang.

Bukan tanpa alasan penyebutan tersebut. Pasalnya demokrasi di Indonesia masih diwarnai banyaknya politik uang, yang bahkan terjadi hampir di setiap kontestasi pemilihan baik pilkada maupun pemilu.

"Karena kita, demokrasi kita diwarnai oleh banyaknya money politic yang ada setiap kontestasi pemilu," ucapnya.

Baca juga: Pelaksanaan Pemilu Jangan Sekadar Jadi Instrumen Demokrasi

Menurutnya praktik politik uang bahkan menjadi fakta sosiologis yang tidak bisa dibantah. Masyarakat bahkan familiar dengan serangan fajar dan sebutan praktik politik uang lainnya.

Ia mengambil contoh kasus tangkap tangan yang menjerat anggota DPR RI Bowo Sidik Pangarso. Bowo kedapatan menyiapkan 400 ribu amplop berisi uang pecahan Rp20 ribu dan Rp50 ribu, dengan nilai seluruhnya mencapai RP8,45 miliar.

Amplop berisi uang tersebut diduga akan dibagi-bagikan kepada warga untuk kepentingan Bowo sebagai calon anggota DPR di Pemilu 2019.

"Kasus Bowo Sidik itu fakta dan kenyataan bahwa itu sebenarnya adalah gunung es. Itu hanya satu kasus diantara semua kasus yang ada dalam persoalan pemilu kita," jelas dia.

Ujang menegaskan jika praktik semacam ini terus dibiarkan, maka kualitas demokrasi Indonesia jangan harap akan membaik.

"Kalau ini terus dilakukan, maka kualitas demokrasi kita tidak akan membaik," pungkasnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas