Tribun

Virus Corona

Cerita Mendikbudristek Nadiem Susah Tidur Kala Dunia Pendidikan Terdampak Pandemi

Mendikbudristek Nadiem Makarim mengungkapkan kala itu dirinya turut merasa khawatir kepada kondisi pendidikan di tanah air.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Cerita Mendikbudristek Nadiem Susah Tidur Kala Dunia Pendidikan Terdampak Pandemi
istimewa
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim 

Cerita Mendikbudristek Nadiem Sampai Susah Tidur Kala Dunia Pendidikan Terdampak Pandemi

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang mulai melanda Indonesia sejak Maret 2020 turut memberikan dampak siginifikan kepada dunia pendidikan di Indonesia.

Mendikbudristek Nadiem Makarim mengungkapkan kala itu dirinya turut merasa khawatir kepada kondisi pendidikan di tanah air.

Dirinya mengkhawatirkan dampak negatif yang akan terjadi ketika proses pembelajaran tidak bisa dilaksanakan secara normal.

"Yang sudah jelas bukan biasa saja, macam-macam yang keluar. Ya jelas saya menjadi khawatir. Perasaan pertama, saya khawatir dan takut akan apa dampak permanen yang bisa terjadi dari generasi ini," ujar Nadiem saat berdialog khusus dengan Direktur Pemberitaaan Tribun Network Febby Mahendra Putra  secara virtual pada  Kamis (9/9/2021).

Baca juga: Cegah Penyebaran Covid-19 di Sekolah, Nadiem Minta Orangtua Ikut Vaksinasi

Bahkan Nadiem mengaku sulit tidur akibat memikirkan formulasi terbaik bagi pendidikan Indonesia di masa pandemi Covid-19.

Jajaran Kemendikbudristek, kata Nadiem, berupaya untuk menghadirkan pembelajaran tatap muka terbatas yang aman di tengah pandemi Covid-19.

"Itu yang menjadi hal yang bikin susah tidur malam hari. Terus makanya sejak bulan, bahkan sebelum Januari dari tahun lalu. Perjuangan kami selama 8 bulan ke belakang ini adalah untuk bisa mendorong daerah untuk melaksanakan tatap muka secepat mungkin dan seaman mungkin," ungkap Nadiem.

Berbagai macam dampak negatif, menurut Nadiem, dapat terjadi dari pembelajaran jarak jauh.

Potensi loss learning, menurut Nadiem, berpotensi terjadi jika pembelajaran tidak segera digelar secara tatap muka.

"Di luar itu masih banyak dampak lainnya dan kita ada satu lagi epidemi, epidemi putus sekolah yang terjadi," ucap Nadiem.

Banyak siswa yang berpotensi putus sekolah karena orang tuanya terpukul secara ekonomi.

Hingga tidak mampu untuk bayar sekolahnya.

Selain itu banyak pula siswa yang tidak memiliki akses Internet untuk melakukan PJJ.

Hingga dampak psikologis yang dapat dialami.

"Dari sisi psikologis juga luar biasa mengkhawatirkannya. Sisi psikologis seperti depresi anak, kekerasan domestik di dalam rumah tangga karena stres," tutur Nadiem.

Sehingga, Nadiem mengatakan Kemendikbudristek telah delapan bulan berjuang untuk memastikan sekolah memulai melakukan pembelajaran tatap muka terbatas dengan protokol kesehatan.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas