Tribun

Hasil Penelitian, Polusi Udara Kurangi Angka Harapan Hidup Masyarakat

Polusi udara menjadi salah satu bahaya kesehatan terbesar bagi manusia di seluruh dunia. Termasuk Indonesia.

Penulis: M Alivio Mubarak Junior
Editor: Willem Jonata
zoom-in Hasil Penelitian, Polusi Udara Kurangi Angka Harapan Hidup Masyarakat
Financial Times
Ilustrasi polusi udara. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mohammad Alivio

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polusi udara menjadi salah satu bahaya kesehatan terbesar bagi manusia di seluruh dunia. 

Direktur Air Quality Life Index (AQLI) Kenneth Lee mengatakan, tingginya angka polusi udara akan berdampak terhadap angka harapan hidup masyarakat. Termasuk di Indonesia.

“Rata-rata orang Indonesia diperkirakan dapat kehilangan 2,5 tahun dari usia harapan hidupnya akibat polusi udara saat ini, karena kualitas udara tidak memenuhi ambang aman sesuai pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk konsentrasi partikel halus (PM 2.5),” kata Kenneth Lee, saat diskusi virtual bertajuk "Krisis Udara Bersih, Kita Harus Apa?” Kamis (9/9/2021).

Ken mengungkapkan, berdasarkan data dari Energy Policy Institute di University of Chicago (EPIC), dampak kesehatan dari polusi udara paling besar terjadi di Depok, Bandung, dan Jakarta, di mana konsentrasi polusi udara adalah yang tertinggi.

“Di DKI Jakarta, rata-rata orang diperkirakan dapat kehilangan 5,5 tahun dari usia harapan hidup jika tingkat polusi seperti tahun 2019 bertahan sepanjang hidup mereka. Di beberapa daerah penurunan usia harapan hidup bahkan lebih besar, mencapai lebih dari enam tahun usia hidup mereka,” lanjutnya.

Baca juga: Selain Paru-paru, Polusi Udara Dapat Pengaruhi Perkembangan Otak Anak

Kendati demikian, Ken menuturkan, masyarakat Indonesia kini sudah mulai menyadari ancaman polusi PM2.5 terhadap kesehatan manusia.

Tangkapan Layar Diskusi Virtual Bertajuk  Krisis Udara Bersih, Kita Harus Apa?”, Kamis (9/9/2021).
Tangkapan Layar Diskusi Virtual Bertajuk Krisis Udara Bersih, Kita Harus Apa?”, Kamis (9/9/2021). (tangkapan layar)

Ia menambahkan bahwa Pemerintah Indonesia juga telah mulai mengambil beberapa langkah awal untuk mengatasi masalah polusi udara ini.

“Misalnya, pada 2017, pemerintah Indonesia mewajibkan semua kendaraan berbahan bakar bensin mengadopsi standar bahan bakar Euro-4 pada September 2018. Pemerintah Indonesia juga telah meningkatkan upaya memerangi polusi udara dari kebakaran lahan gambut dan hutan dengan memberlakukan moratorium pengembangan lahan gambut baru dan mendirikan Badan Restorasi Gambut (BRG),” terangnya.

Baca juga: Pengendalian Polusi Udara Perlu Dilakukan Pemerintah Secara Menyeluruh

Baca juga: WHO Ingatkan Anak Muda untuk Sadar Bahaya Polusi Udara

Kemudian, dikatakan Ken, sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya kebijakan udara bersih yang efektif.

Ia pun memberikan contoh Pemerintah Tiongkok yang telah mencetak kemajuan luar biasa dalam meningkatkan kualitas udara dalam beberapa tahun terakhir, dengan mengurangi polusi udara sebanyak 30 persen.

“Indonesia berpeluang mengalami kemajuan serupa. Jika Indonesia ingin mencapai dan mempertahankan pengurangan polusi 30 persen yang sama seperti yang dialami di Tiongkok, rata-rata penduduknya akan bertambah usia harapan hidupnya satu tahun,” ucapnya.

Sementara itu, Aktivis Bicara Udara Amalia Ayuningtyas mengatakan, sebagai komunitas yang fokus pada edukasi mengenai pentingnya peningkatan kualitas udara sebagai salah satu hak hidup dasar masyarakat, pihaknya mendorong kebijakan yang signifikan seperti Clean Air Act untuk Indonesia.

“Selain itu, yang perlu didorong juga penerapan kebijakan dan penindakan pada pihak-pihak yang melanggar, peralihan energi agar tidak tergantung dengan energi fosil, serta perbaikan dan transparansi data mengenai kualitas udara,” pungkasnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas