Tribun

Seleksi Kepegawaian di KPK

Novel Baswedan Curhat Tanggapi Perundungan Dirinya di Media Sosial

Novel Baswedan mengungkapkan perasaannya menanggapi perundungan atau bullying terhadap dirinya di media sosial.

Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Johnson Simanjuntak
Novel Baswedan Curhat Tanggapi Perundungan Dirinya di Media Sosial
Tribunnews/Irwan Rismawan
Penyidik nonaktif KPK, Novel Baswedan menggelar aksi dengan mendirikan Kantor Darurat Pemberantasan Korupsi di depan Gedung ACLC, Jakarta, Selasa (21/9/2021). Aksi dengan mendirikan kantor darurat tersebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap kinerja KPK dan pemberantasan korupsi saat ini serta meminta Presiden Joko Widodo untuk membatalkan pemecatan 57 pegawai KPK yang selama ini memiliki integritas tinggi dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengungkapkan perasaannya menanggapi perundungan atau bullying terhadap dirinya di media sosial.

Ia mengatakan resiko berbuat baik pasti banyak, salah satunya ada saja yang tidak suka, dan biasanya orang yang tidak suka memiliki motif terselubung.

“Yang tidak suka itu bisa jadi karena memang motif pribadi, bisa juga karena suatu kegiatan kolektif, seperti di bayar barangkali,” ujar Novel menanggapi pertanyaan istrinya, Rina Emilda di Youtube Channel Novel Baswedan yang diunggah pada Jumat (15/10/2021).

Novel mengatakan, merespon bullian hanya mengakibatkan timbulnya rasa lelah. Yang terpenting baginya adalah terus berbuat baik dan menyampaikan kebenaran.

“Berbuat kebaikan dan kebenaran kan bukan untuk dipuji atau diapresiasi. Soal kemudian ada yang muji tidak membuat kita mulia, yang mencaci juga tidak membuat hina. Yang terbaik adalah biarkan,” lanjutnya.

Baca juga: Novel Jawab Tudingan Bendera Tauhid di Meja Kerjanya di KPK dan Narasi Bohong Oknum Security KPK

Menurutnya orang yang memiliki motif terselubung akan sangat susah untuk dinasihati.

Sulitnya sama sebagaimana meyakinkan lalat kalau bunga itu lebih indah daripada sampah.

“Ada kata-kata bijak yang mengatakan, ketika orang mengatakan jorok, mengatakan buruk, mencemooh dengan kata-kata kotor, itulah isi hatinya. Sebagaimana teko isinya susu ya keluarnya susu, isinya comberan ya keluarnya comberan,” kata Novel.

“Ada kata-kata bijak juga yang mengatakan, sulit menasehati atau menyadarkan lalat bahwa bunga itu lebih indah daripada sampah. Lalat tetap saja pilihnya sampah, mana mau ke bunga. Jadi lebih baik kita biarkan,” lanjut Novel.
 

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas