Tribun

Tak Berobsesi Maju Pilpres 2024, Gus Yahya Cerita Momen Jadi Presiden Dadakan Gantikan Gus Dur

KH Yahya Cholil Staquf blak-blakan dirinya tak akan berobsesi untuk maju di Pilpres 2024. Menurutnya, menjadi Presiden RI itu tidak enak.

Penulis: Reza Deni
Editor: Willem Jonata
Tak Berobsesi Maju Pilpres 2024, Gus Yahya Cerita Momen Jadi Presiden Dadakan Gantikan Gus Dur
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Tribun Network di Jakarta, Sabtu (4/12/2021). TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reza Deni

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - KH Yahya Cholil Staquf blak-blakan dirinya tak akan berobsesi untuk maju di Pilpres 2024. Menurutnya, menjadi Presiden RI itu tidak enak.

Alasan Gus Yahya, begitu dia akrab disapa, mengatakan hal tersebut lantaran satu peristiwa saat menjabat sebagai Juru Bicara Presiden ke-4 RI Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Dia berguyon bahwa pernah merasakan jadi Presiden RI.

"Jadi saya ikut Gus Dur sebagai juru bicara dalam konferensi OKI di Doha, Qatar. Waktu itu saya enggak ada kerjaan di sana itu, berapa hari cuma keluyuran di lobi ketemu orang sana sini ngobrol," katanya saat berbincang dengan Tribun-Network di kediamannya, Sabtu (4/12/2021).

Baca juga: Gus Yahya Jelaskan Alasannya Mencalonkan Ketua Umum PBNU

Saat perhelatan tersebut, Gus Yahya hanya berkeliaran di sekitar venue, menunggu acara berakhir pada pukul 10 malam waktu Qatar.

"Presiden (Gus Dur) keluar dengan Menlu (Alwi Sihab) kemudian disambut oleh para staf, termasuk saya ikut menggerombol di situ menyambut presiden. Tiba-tiba Gus Dur bilang saya capek sekali ini, saya sudah enggak kuat, mau istirahat saja," katanya.

Gus Dur pun diingatkan oleh para staf, termasuk Gus Yahya, bahwa pertemuan akan berakhit sebentar lagi setelah jeda sejenak.

Namun, Gus Dur tetap tidak mau ikut dan justru menyuruh Gus Yahya menggantikan posisinya. Gus Yahya dan semua staf kaget bukan main.

"Kita enggak ada pilihan selain patuh ya. Akhirnya saya masuk bersama Menlu Alwi Sihab, sampai di sana itu setiap delegasi negara disediakan dua kursi: Presiden dan Menlu," katanya.

"Saya sampai di sana bingung. Loh ini saya duduk di mana? Di situ, kata Pak Alwi kan. Lah ini kursinya Presiden saya enggak berani. Tukaran saja pak saya enggak berani. Enggak bisa, kata Pak Alwi, saya Menlu saya harus duduk di kursi saya. Loh saya bagaimana ini? Menlu bilang perintah Presiden ya kamu duduk di situ. Duduklah saya di kursi presiden itu," katanya.

Baca juga: Gus Yahya Akui Mental Sebagian Besar Pengurus NU Masih Ada Orientasi Politik Tertentu

Tak berhenti sampai di sana, Gus Yahya menceritakan bahwa setelah duduk di kursi yang mana seharusnya ditempati Gus Dur, sebuah kamera menyoroti wajahnya dan ditampilkan dalam sebuah layar monitor besar.

"Kamera itu tadinya shoot memutar dari jauh ke delegasi, lewati saya, sedikit dia balik lagi. Tadinya kan long shot terus dizoom in akhirnya dicloseup sebesar tembok itu muka saya itu. Saya kan bagaimana rasanya itu. Saya mau senyum malah mau meringis, saya mau kelihatan serius malah keliatan cemberut," katanya.

"Habis itu kamera turun, menyorot name tag di depan saya: President of The Republic Indonesia. Jadi saya sudah pernah dan enggak enak. Serius enggak enak!" tandasnya diikuti tawa.

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas