Tribun

Komisi I DPR akan Tanya BIN soal Isu Penggunaan Mortir Serbia untuk Operasi di Papua

Badan Intelijen Negara (BIN) disebut membeli sebanyak 2.500 mortir dari Serbia untuk dijatuhkan di desa-desa di Papua pada 2021 lalu.

Penulis: chaerul umam
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Komisi I DPR akan Tanya BIN soal Isu Penggunaan Mortir Serbia untuk Operasi di Papua
Tribunnews.com/Chaerul Umam
Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (24/1/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chaerul Umam

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Intelijen Negara (BIN) disebut membeli sebanyak 2.500 mortir dari Serbia untuk dijatuhkan di desa-desa di Papua pada 2021 lalu.

Demikian laporan dari Conflict Armament Research (CAR), sebuah lembaga pemantau senjata yang berasal dari London.

Menanggapi laporan itu, Komisi I DPR akan mengonfirmasi hal itu jika ada rapat dengan BIN.

"Apakah perlu ada klarifikasi dari BIN? Ya kita akan tanyakan kalau ada rapat dengan BIN," kata Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin saat dihubungi Tribunnews.com, Minggu (5/6/2022).

Di sisi lain, Hasanuddin mengungkapkan dirinya tak memiliki data atau informasi bahwa BIN pernah mengimpor mortir dari Serbia.

Baca juga: CAR Tuding BIN Impor 2.500 Mortir dari Serbia, Dipakai untuk Membombardir Desa di Papua

Yang pasti, lanjut Hasanuddin, senjata yang dipakai BIN adalah senjata untuk mempertahankan diri dalam melaksanakan tugasnya bukan senjata kombatan.

"Jenis senjata mortir biasanya dipakai oleh satuan infantery TNI AD," ujarnya.

Badan Intelijen Negara (BIN) disebut membeli sebanyak 2.500 mortir dari Serbia untuk dijatuhkan di desa-desa di Papua pada 2021 lalu.

Demikian laporan dari Conflict Armament Research (CAR), sebuah lembaga pemantau senjata yang berasal dari London.

Dilansir Reuters, Sabtu (4/6/2022), ribuan mortir tersebut diproduksi di Krusik.

Kemudian mortir-mortir itu dimodifikasi, dijatuhkan dari udara ketimbang dari tabungnya.

Tak hanya itu, pihak CAR melaporkan bahwa pembelian tersebut tak dilaporkan ke DPR untuk kemudian disetujui anggarannya.

Selain itu, BIN juga menerima 3 ribu inisiator elektronik dan tiga alat pengatur waktu yang difungsikan untuk membasmi bahan peledak.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas