Tribun

Penyakit Tidak Menular Jadi Penyebab Kematian Remaja, Ini Langkah Kemenkes dan UNICEF

Dalam Riskesdas 2018, Kemenkes mencatat prevalensi penyakit kronis yang bertanggung jawab atas sebagian besar kematian akibat penyakit tidak menular.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Penyakit Tidak Menular Jadi Penyebab Kematian Remaja, Ini Langkah Kemenkes dan UNICEF
Ist
Program “Youth for Health Innovation Challenge”. Kemenkes bersama United Nations Children's Fund (UNICEF) mengajak remaja Indonesia khususnya di Aceh dan Bandung untuk mengatasi tantangan kesehatan di masa depan. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan melalui melaporkan Indonesia mengalami peningkatan dalam prevalensi penyakit tidak menular.

Dalam Riskesdas 2018, Kemenkes mencatat prevalensi penyakit kronis yang bertanggung jawab atas sebagian besar kematian akibat penyakit tidak menular.

Penggunaan tembakau, termasuk merokok merupakan salah satu risiko global kematian akibat penyakit tidak menular.

WHO bahkan menyebut merokok baik aktif maupun pasif menyumbang lebih dari 8 juta kematian setiap tahun.

Baca juga: Selandia Baru akan Berikan 800.000 Dolar AS ke UNICEF untuk Bantu Sri Lanka

Indonesia sendiri menghadapi ancaman serius akibat peningkatan jumlah perokok, bahkan 22 dari 100 remaja usia 15-19 tahun telah merokok.

Kemenkes bersama United Nations Children's Fund (UNICEF) mengajak remaja Indonesia khususnya di Aceh dan Bandung untuk mengatasi tantangan kesehatan di masa depan.

“Remaja berhak untuk didengar dan berpartisipasi secara otentik dan bermakna dalam semua hal yang mempengaruhi mereka, termasuk kesehatan dan kesejahteraan," ujar Sojung Yoon, perwakilan dari UNICEF Indonesia berdasarkan keterangan resmi, Senin, (03/10/2022).

"Peluang untuk partisipasi dan pengambilan keputusan membantu meningkatkan ketahanan remaja dan perkembangan yang sehat. Sayangnya, remaja belum terlibat secara bermakna dalam berbagai upaya pengendalian penyakit tidak menular,” tambah Sojung Yoon.

UNICEF mengundang remaja usia 10-19 tahun untuk mencari solusinya dengan cara ko-kreasi dengan menggunakan pendekatan inovasi untuk memastikan partisipasi remaja dalam program “Youth for Health Innovation Challenge”.

Dalam program tersebut, remaja akan diberikan tantangan untuk menemukan cara inovatif menyuarakan ide, pemikiran, dan aspirasi mereka untuk mengatasi ancaman kesehatan yang muncul.

"Program ini akan memungkinkan remaja untuk membingkai ulang isu saat ini, membayangkan kemungkinan masa depan, dan menguji ide-ide inovatif mereka berdasarkan pengalaman mereka sendiri," jelas Sojung Yoon.

Baca juga: 6 Tips Menjaga Mental Health Menurut UNICEF

Youth For Health Innovation Challenge juga akan membekali para remaja dengan pengetahuan kontekstual dan keterampilan abad ke-21 dan merancang ide inovatif yang dapat ditransfer ke komunitas mereka masing-masing.

"Program ini akan memastikan keterlibatan dan partisipasi remaja, termasuk mereka yang paling terpinggirkan dan rentan," ucap Sojung Yoon.

Adapun kegiatan pertama dari program tersebut baru saja dilaksanakan pada hari Sabtu (1/10) di Amel Convention Center Hall, Banda Aceh dan berjalan sukses dengan diikuti oleh kurang lebih 200 peserta remaja usia 10-19 tahun dari berbagai sekolah di Banda Aceh.

Acara ini menghasilkan berbagai ide inovasi yang bisa dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi solusi atas permasalahan tersebut di atas.

Untuk penyelenggaraan kegiatan ini, UNICEF menggandeng PT Investasi Inovasi Indonesia atau Innovesia sebagai mitra konsultan inovasinya yang juga didukung oleh sejumlah mitra lainnya dari Banda Aceh seperti Aceh Youth Action, Youth ID, Mitra Muda, Ate Fulawan, dan PBKI Aceh.

Tak hanya di Aceh, program Youth For Health Innovation Challenge juga bisa diikuti secara langsung di kota Bandung pada 8 Oktober 2022, tepatnya di Horison Ultima Bandung, Jalan Pelajar Pejuang 45 No. 121, Buah Batu, Bandung.

“Kami berharap “Youth for Health Innovation Challenge” dapat membuka pintu bagi remaja di dua kota tersebut untuk partisipasi yang berarti dalam masalah kesehatan remaja dan memungkinkan mereka untuk membuat perbedaan dalam kehidupan dan komunitas mereka sendiri,” pungkas Sojung Yoon.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas