Tribun

Pemilu 2024

Pengamat: Pemilih Muda Jangan Hanya Dijadikan Objek Eksploitasi Politik Saat Pemilu

Pengamat Politik Dimas Oky Nugroho, pemilih muda harus diperkuat pemahaman atau pendidikan dalam berpolitik praktis.

Penulis: Hasiolan Eko P Gultom
Editor: Wahyu Aji
zoom-in Pengamat: Pemilih Muda Jangan Hanya Dijadikan Objek Eksploitasi Politik Saat Pemilu
ist
Ketua Perkumpulan Kader Bangsa, Dimas Oky Nugroho saat Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Hasil Survey Kepedulian Segmen Pemilih Generasi Z pada Pemilu Serentak Tahun 2024 di Nusa Dua, Bali. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Pemilih muda diminta tidak hanya dijadikan objek eksploitasi politik.

Menurut Pengamat Politik Dimas Oky Nugroho, pemilih muda harus diperkuat pemahaman atau pendidikan dalam berpolitik praktis.

Pada Juli 2022, KPU Bali bersama tim peneliti Universitas Udayana (Unud) melakukan survei kepada 18.000 responden siswa SMA dan SMK di Bali.

Survei tersebut berisikan sejumlah pertanyaan mengenai perilaku politik dan komunikasi mereka sebagai calon pemilih pemula pada pemilu 2024 nanti. Sebanyak 83 persen dari 1.800 responden kalangan generasi Z di Bali mengaku ingin mengetahui proses pemilu di tempat pemungutan suara (TPS).

Ketua Perkumpulan Kader Bangsa, Dimas Oky Nugroho berujar bahwa hasil survei dan riset itu mengindikasikan generasi muda memiliki pengetahuan politik yang baik serta berminat mengetahui pemilu dan politik lebih jauh.

Ia menambahkan, generasi Z atau kalangan pemilih pemula memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelum mereka.

"Pemerintah melalui lembaga nasional seperti KPU harus bisa menyasar anak muda melalui isu-isu kepemudaan dalam melakukan komunikasi dan sosialisasi, sehingga pesan-pesan strategis sosialisasi dalam pemilu bisa tersampaikan dengan baik kepada anak muda," ujar Dimas kepada wartawan, Senin (28/11/2022).

Disampaikan Pengamat politik yang akrab disapa DON tersebut, saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Provinsi Bali menggelar Focus Group Discussion (FGD) Diseminasi Hasil Survei Kepedulian Segmen Pemilih Generasi Z pada Pemilu Serentak Tahun 2024 di Nusa Dua, Bali.

Baca juga: Dimas Oky Nugroho: Capres 2024 Harus Memperkuat Visi Kepemimpinan Pancasila

Doktor antropologi politik lulusan University of New South Wales (UNSW) Australia tersebut juga mengatakan, pemerintah, penyelenggara pemilu, dan peserta pemilu perlu menyiapkan strategi khusus untuk mendorong partisipasi pemilih muda dalam pemilu.

"Tapi anak muda jangan hanya dijadikan sebagai bahan justifikasi yang artifisial atau objek eksploitasi dari kepentingan-kepentingan politik yang bermain. Jangan hanya dijadikan sekedar pemilih pasif, tapi juga diperkuat pemahaman atau pendidikan politik kritis, serta ruang dan kesempatan yang lebih besar untuk ikut berpartisipasi aktif," ucapnya.

Pemilih muda merupakan kantong suara yang besar, diestimasikan lebih dari 50 persen dari seluruh pemilih dalam pemilu 2024.

Dengan begitu, keberadaan para pemilih muda akan berpengaruh signifikan pada pemilu mendatang.

"Anak muda bukan sekadar dijadikan obyek, melainkan perlu diedukasi mengenai pemilu karena mereka menjadi kunci dalam demokrasi, sehingga keterlibatan anak muda perlu didorong lebih maju dan paham tentang tanggung jawabnya untuk negeri ini," tutur Dimas.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas