Mendikbudristek Nadiem Makarim: Data Kekerasan di Sekolah Menyeramkan
Kemendikbudristek, kata Nadiem, telah mengidentifikasi adanya kekerasan seksual melalui Asesmen Nasional.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Malvyandie Haryadi
Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan kekerasan di lingkungan sekolah terjadi cukup masif.
Kemendikbudristek, kata Nadiem, telah mengidentifikasi adanya kekerasan seksual melalui Asesmen Nasional.
"Saat kita melakukan identifikasi, kita dalam Asesmen Nasional untuk pertama kali kita melihat survei semua sekolah untuk melihat risiko kekerasan baik itu intoleransi, kekerasan seksual, maupun perundungan," ujar Nadiem dalam peluncuran Merdeka Belajar Episode ke-25, Selasa (8/8/2023).
Dalam pengumpulan data kekerasan di lingkungan sekolah, Kemendikbudristek bekerjasama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Menurut Nadiem, data kekerasan di lingkungan sekolah yang tercatat menyeramkan karena sangat tinggi.
"Data yang kita dapatkan dan validasi dengan organisasi seperti KPAI, ini datanya menyeramkan," ucap Nadiem.
Pada tahun, 2022 pengaduan kekerasan di lingkungan sekolah yang masuk KPAI sebanyak 2.133 kasus.
Nadiem menilai kejadian sebenarnya bisa lebih banyak dibandingkan yang tercatat.
"Saat kita lakukan AN, sensus hampir itu 34 persen peserta didik berpotensi mengalami kekerasan. itu yang kekerasan seksual," ungkap Nadiem.
Lalu sebanyak 26 persen siswa berpotensi mengalami hukuman fisik atau kekerasan fisik. Sementara 36 persen siswa berpotensi mengalami perundungan.
"Kalau kita mengambil yang paling konservatif saja. Kalau misalnya dari 36 persen ini cuma setengahnya atau seperempat saja yang mengalami kekerasan, itu adalah 10 persen dari seluruh anak kita di Indonesia. Bisa bayangkan enggak 1 dari 10 anak kita mengalami satu bagian dari kekerasan," pungkas Nadiem.