Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Respons Kejadian di UIN Walisongo Semarang, Legislator PKB Minta Kebebasan Akademik Harus Dihormati

Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdullah komentari Diskusi Mahasiswa di Semarang Didatangi Pria Berseragam TNI

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Reza Deni
Editor: Wahyu Aji
zoom-in Respons Kejadian di UIN Walisongo Semarang, Legislator PKB Minta Kebebasan Akademik Harus Dihormati
HandOut/IST
DUGAAN INTIMIDASI MAHASISWA - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Abdullah komentari diskusi mahasiswa di Semarang didatangi pria berseragam TNI. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdullah, menyesalkan peristiwa intimidasi anggota TNI yakni Babinsa Koramil Ngaliyan Sertu Rokiman terhadap Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) dan Forum Teori dan Praktik Sosial (FTPS) saat menggelar diskusi bertajuk "Fasisme Mengancam Kampus: Bayang-Bayang Militer Bagi Kebebasan Akademik" di samping Auditorium 2 Kampus III UIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah (Jateng).

“Terkait peristiwa di UIN Walisongo itu, saya ingin menyampaikan bahwa kebebasan akademik, HAM dan supremasi sipil adalah prinsip demokrasi yang harus dihormati oleh semua pihak, termasuk TNI,” kata Abduh sapaan akrabnya, kepada wartawan, Kamis (17/4/2025).

Diketahui, ada perbedaan pandangan dari panitia diskusi dan TNI menilai kedatangan Sertu Rokiman yang sempat menanyai identitas panita dan peserta diskusi. 

Panitia dan peserta diskusi menilai kedatangan dan sikap Sertu Rokiman adalah bentuk intimidasi, karena saat ditanyakan balik identitas Sertu Rokiman, ia tak menjawabnya. 

Namun, Kepala Dinas Penerangan (Kadispenad) TNI Angkatan Darat, Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menyatakan ini bukan bentuk intimidasi, melainkan monitoring wilayah yang menjadi tugas Babinsa.

Legislator Dapil Jateng VI ini menjelaskan perbedaan pandangan dari mahasiswa dan Kadispenad, Brigjen TNI Wahyu Yudhayana bukanlah bentuk miskomunikasi. 

Dia cenderung melihat peristiwa yang dialami mahasiswa UIN Semarang adalah bentuk intimidasi terselubung.

Rekomendasi Untuk Anda

“Ini bukan sebagai bentuk miskomunikasi rasanya. Bisa dibilang peristiwa ini adalah intimidasi terselubung yang dapat menciptakan iklim ketakutan dan juga mengancam kebebasan berpikir dan bersikap kritis mahasiswa, karena yang saya dengar juga ada peserta gelap saat diskusi yang tidak mau membuka identitas, dan Babinsa juga tidak hadir rutin atau mendatangi diskusi-diskusi sebelumnya yang diselenggarakan oleh mahasiswa,” ujar Abduh.

Lebih jauh, Abduh menegaskan kampus bukanlah barak. 

Menurutnya, kampus adalah benteng dari kebebasan akademik yang mesti menjadi ruang aman untuk mahasiswa berpikir, berdiskusi, dan berpendapat tanpa rasa takut. 

“Saya mengajak semua civitas akademika, organisasi mahasiswa, dan masyarakat sipil untuk tetap kritis dan solid dalam menjaga independensi kampus,” kata Mas Abduh.

Dia juga mendorong Komisi I DPR RI agar memanggil pihak terkait melalui rapat kerja atau rapat dengar pendapat untuk meminta pertanggungjawaban dan memastikan peristiwa serupa tidak terulang di UIN Walisongo Semarang atau kampus lainnya.

“Dalam rapat nanti, mesti diingatkan kembali terkait reformasi TNI bahwa tentara profesional adalah tentara yang tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil dan hak asasi manusia,” pungkas dia.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Brigjen Kristomei Sianturi menanggapi pemberitaan terkait pria berseragam TNI yang mendatangi diskusi Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) bersama Forum Teori dan Praksis Sosial (FTPS) di samping Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo pada Senin (14/4/2025).

Kristomei mengatakan kehadiran Sertu Rokiman yang merupakan Babinsa Koramil Ngaliyan Kelurahan Tambak Aji hanya semata-mata dalam rangka menjalankan tugas rutin sebagai aparat teritorial untuk memonitor setiap kejadian yang ada di wilayah tanggung jawabnya.

Menurutnya kehadiran Sertu Rokiman pun hanya di area depan kampus dan tidak masuk ke dalam lokasi acara diskusi.

Kedatangan Sertu Rokiman, kata Kristomei, karena sebelumnya beredar pamflet undangan diskusi yang bersifat terbuka untuk umum.

Sehingga, lanjut dia, Sertu Rokiman, berusaha mencari tahu tentang kegiatan itu sebagai bagian dari tugas Babinsa dalam memonitor apa yang terjadi di wilayah tanggung jawabnya di antaranya kedukaan, bencana alam, kericuhan, perkelahian, dan lain lain.

Ia menegaskan tidak ada intervensi atau upaya dalam bentuk apa pun untuk menghentikan atau mempengaruhi kegiatan diskusi dan menegaskan Sertu Rokiman sama sekali tidak masuk ke area forum diskusi, melainkan tetap berada di luar kampus.

Selain itu, ungkap dia, Sertu Rokiman juga tidak pernah memanggil mahasiswa keluar kampus untuk menemuinya.

Sertu Rokiman, kata Kristomei, hanya berkomunikasi dengan petugas keamanan.

"Terkait dengan keberadaan seseorang yang disebut-sebut sebagai intelijen dalam video yang beredar, TNI memastikan bahwa individu tersebut bukanlah anggota TNI," ungkapnya saat dihubungi Tribunnews.com pada Rabu (16/4/2025).

"TNI sangat menghormati kebebasan akademik di lingkungan pendidikan dan tidak memiliki kepentingan untuk mencampuri urusan internal kampus," pungkasnya.

Diberitakan Kompas.com sebelumnya, sebuah diskusi yang diadakan oleh Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW) bersama Forum Teori dan Praksis Sosial (FTPS) di samping Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo pada Senin (14/4/2025) diwarnai oleh insiden yang menegangkan.

Diskusi yang mengangkat tema “Fasisme Mengancam Kampus: Bayang-Bayang Militer bagi Kebebasan Akademik” itu dihadiri oleh seorang pria tak dikenal yang tiba-tiba meminta untuk mengikuti forum.

Pria tersebut, yang mengenakan kaus hitam dan celana jeans, berperawakan agak gempal, langsung masuk ke lokasi dan duduk mengikuti jalannya diskusi.

Rektor KSMW, Ryan Wisnal, mengungkapkan kehadiran pria tersebut membuat para peserta kaget.

"Kami kan itu masih dalam sesi memperkenalkan kawan-kawan yang hadir kan. Eh, itu pas di dia suruh ngenalin itu dia enggak mau," jelas Ryan saat dikonfirmasi Selasa (15/4/2025).

Setelah beberapa waktu, pria tersebut meninggalkan lokasi diskusi.

Namun, tidak lama kemudian, dua pria berseragam TNI muncul di tempat yang sama.

"Pas di tengah-tengah diskusi ada itu apa militer. Satu memakai seragam militer, satu lagi memakai baju hitam," ungkap dia.

Pria berseragam TNI tersebut menanyakan identitas peserta diskusi serta tema yang sedang dibahas.

"Kami juga tanya tujuannya datang ke sini dan mengetahui dari mana. Tapi dia hanya sekadar senyum-senyum. Seakan-akan dia menunjukkan apa ya, bahwa dia lebih kuat seperti itu," tambah Ryan.

Baca juga: Nasib Mahasiswa UIN Maliki Malang yang Diduga Rudapaksa Mahasiswi, Sudah Dikeluarkan dari Kampus

Meski mengalami insiden tersebut, Ryan menegaskan bahwa ancaman seperti itu tidak akan menyurutkan semangat anggota KSMW untuk terus berdiskusi. 

"Kegiatan organisasi masih berjalan seperti biasa," tegasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas