Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Anggota DPRD DKI Nilai PIK Jadi Simpul Baru Wisata Religi dan Toleransi Jakarta

Anggota DPRD DKI Jakarta Kevin Wu menilai PIK menjadi simpul baru bagi wisata religi dan ruang toleransi di Jakarta.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Content Writer
zoom-in Anggota DPRD DKI Nilai PIK Jadi Simpul Baru Wisata Religi dan Toleransi Jakarta
Istimewa
SIMPUL WISATA RELIGI - Anggota DPRD DKI Jakarta sekaligus Ketua Umum Dharmapala Nusantara Kevin Wu. Ia menilai Pantai Indah Kapuk (PIK) telah tumbuh menjadi salah satu simpul penting wisata religi dan ruang toleransi di Jakarta. 

TRIBUNNEWS.COM - Anggota DPRD DKI Jakarta sekaligus Ketua Umum Dharmapala Nusantara, Kevin Wu menilai, kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) telah tumbuh sebagai salah satu simpul penting wisata religi dan ruang toleransi di Jakarta. 

Ia menyebut, kawasan ini bukan hanya destinasi urban modern, tetapi juga representasi dari kehidupan beragama yang inklusif dan saling menghargai.

“PIK telah menunjukkan bagaimana ruang publik bisa dibangun dengan semangat keberagaman, tanpa mengorbankan nilai spiritualitas. Ini bentuk konkret dari toleransi yang hidup dan berdaya,” ujar Kevin.

Menurutnya, wisata religi tidak selalu identik dengan tempat-tempat ziarah konvensional. Saat ini, konsep wisata juga dapat menyentuh dimensi kontemplatif—ruang di mana masyarakat bisa memperbaiki diri dari dalam, menemukan makna hidup, sekaligus menjalin harmoni antarumat.

Baca juga: Jadi Magnet Wisata Baru, Pakar Pariwisata: Kolaborasi Warga Jadi Syarat Pariwisata PIK Berkelanjutan

“Wisata jangan hanya identik dengan hiburan atau hingar-bingar. Kita perlu ruang-ruang perenungan. Tempat yang membangkitkan spiritualitas dan nilai kemanusiaan. Di sinilah letak pentingnya wisata religi yang dikemas secara inklusif,” kata Kevin.

Kevin mengapresiasi para pengembang yang dengan serius menghadirkan fasilitas ibadah untuk berbagai umat di kawasan PIK. Mulai dari pembangunan tempat sembahyang lintas agama, respons cepat terhadap kebutuhan kerohanian masyarakat, hingga rencana pendirian rumah ibadah bersama.

“Ketika ada masukan, misalnya belum terdengar azan atau belum ada fasilitas ibadah tertentu, pihak pengembang langsung merespons. Ini bukan hanya urusan teknis, tapi bagian dari tanggung jawab sosial dan penghormatan terhadap keragaman,” jelasnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia juga menyebutkan bahwa semangat keberagaman yang ditunjukkan di PIK bisa menjadi contoh bagi kawasan lain, bahkan sebagai acuan untuk menyelenggarakan kegiatan lintas agama berskala nasional maupun internasional.

“PIK telah menjadi pilot project. Titik awal dari bagaimana ruang publik bisa menjadi simbol harmoni. Ini bukan hanya tentang infrastruktur, tapi tentang visi kebersamaan,” tutupnya. 

Baca juga: PIK Jadi Simbol Toleransi, Doa Bersama Sambut Bhikkhu Thudong untuk Waisak 2025

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas