Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bursa Calon Ketua Umum PSI: Bro Ron Pertama Maju, Jokowi Lesu?

Bukan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), melainkan Ronald Aristone Sinaga atau Bro Ron yang pertama mendaftar calon Ketua Umum PSI.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Bursa Calon Ketua Umum PSI: Bro Ron Pertama Maju, Jokowi Lesu?
Foto: Partai Solidaritas Indonesia
JOKOWI DAN PSI - Dokumentasi Presiden Joko Widodo saat menghadiri perayaan HUT ke-4 PSI di Jakarta, 11 November 2018. Pada 2025 ini, Jokowi santer disebut bakal bergabung dengan PSI. 

TRIBUNNEWS.COM - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akhirnya memiliki pendaftar bakal calon ketua umum pada Rabu (18/6/2025).

Bukan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi), melainkan Ronald Aristone Sinaga atau Bro Ron yang pertama mendaftar calon Ketua Umum PSI.

Bro Ron mengaku menerima tantangan Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep untuk mendaftar sebagai calon orang nomor satu di partai berlambang mawar itu.

“Jadi saya ditantang netizen, ditantang Ketua Umum kita (Kaesang) maju."

"Kita gas, kita bersama, kita maju menjadi calon Ketua Umum partai PSI, supaya ke depannya PSI lebih megah lagi dan 2029 adalah milik PSI dan PSI masuk Senayan,” ujar Bro Ron kepada wartawan seusai mendaftarkan diri di Kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, Rabu. 

Lantas bagaimana dengan Jokowi?

Jokowi diketahui saat ditanya wartaawan mengaku lebih memilih PSI daripada harus bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Rekomendasi Untuk Anda

Jokowi mengatakan banyak tokoh-tokoh hebat di PPP yang kapasitas hingga kompetensinya tidak diragukan.

"Yang di PPP saya kira banyak calon-calon ketua umum yang jauh lebih baik, yang punya kapasitas, kapabilitas, punya kompetensi."

"Banyak calon yang dipilih, banyak sekali," kata Jokowi kepada awak media, Jumat (6/6/2025).

Jokowi lalu menegaskan dirinya masih memilih tetap berada di PSI meski belum ada pencalonan resmi terhadap dirinya sebagai ketua umum di partai tersebut.

Baca juga: Profil dan Sosok Ronald A Sinaga, Bro Ron Terima Tantangan Kaesang Daftar Calon Ketum PSI

"Saya di PSI sajalah," ucapnya.

Ketika ditanya soal kemungkinan dilirik partai lain, Jokowi menjawab singkat.

"Ya enggak tahu, di PSI saja, dicalonkan juga belum," ujar dia.

Projo: Belum Ada Tanda Jokowi Gabung PSI

Sementara itu, Relawan Pro Jokowi (Projo) menyebut belum melihat tanda-tanda ayah Kaesang Pangarep itu bakal bergabung dengan partai politik, termasuk PSI.

Wakil Ketua Umum Projo Fredy Damanik membocorkan Jokowi pernah berjanji akan memberi tanda kalau akan masuk partai.

"Sampai saat ini kami belum terima arahan apapun dari Pak Jokowi," ujar Fredy kepada Kompas.com, Kamis (19/6/2025).

Fredy mengungkapkan Jokowi memang pernah mengajak mereka berdiskusi tentang niat mendirikan partai baru, yaitu partai super terbuka.

Di mana, kata dia, kebijakan-kebijakan penting partai ditentukan oleh semua anggota partai berdasarkan "one man one vote".

"Memang tidak gampang untuk mewujudkan ide partai super terbuka ini, karena harus mengubah peraturan, khususnya peraturan KPU. Dan bisa saja akan mendapat resistensi dari partai-partai yang sudah ada sekarang," jelasnya.

"Namun jika kita serius ingin menjawab permasalahan partai yang selama ini dikeluhkan, khususnya tentang biaya tinggi, transparansi, dan pertanggungjawaban kepada masyarakat, maka ide partai super terbuka ini sangat layak untuk diakomodir dalam sistem kepartaian di Indonesia," sambung Fredy.

KIPRAH JOKOWI - Dokumentasi Presiden Joko Widodo dalam sebuah acara di Universitas Tadulako, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, 30 Agustus 2023. Jokowi dinilai bisa kehilangan daya tarik bila menjadi ketua umum partai politik.
KIPRAH JOKOWI - Dokumentasi Presiden Joko Widodo dalam sebuah acara di Universitas Tadulako, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, 30 Agustus 2023. Jokowi dinilai bisa kehilangan daya tarik bila menjadi ketua umum partai politik. (Sekretariat Negara)

Fredy melihat Jokowi tidak mau terburu-buru untuk menentukan akan masuk partai mana ataupun membuat partai baru, mengingat harus dipertimbangkan secara matang.

Apalagi, lanjut Fredy, PSI pasti memiliki mekanisme tersendiri untuk bursa ketum, sehingga Projo belum melihat Jokowi mengikuti mekanisme itu di PSI, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh PSI kepada publik.

"Projo sebagai pendukung Jokowi prinsipnya mendukung Pak Jokowi masuk partai politik manapun, baik PSI maupun partai existing lainnya."

"Karena memang kehadiran Pak Jokowi masih sangat dibutuhkan oleh bangsa ini khususnya untuk memastikan negara kita bisa menjadi negara maju pada tahun 2045 sebagaimana yang dicita-citakan," katanya.

Tanggapan Sebut Agak Aneh kalau Jokowi Pimpin PSI

Sementara itu, pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, turut memberi tanggapan mengenai potensi Jokowi memimpin PSI.

Ia menyebut kehadiran Jokowi berpotensi mendongkrak elektabilitas PSI dan membuka peluang masuk ke Senayan pada Pemilu Legislatif 2029.

Namun, Jamiluddin menilai bahwa secara usia dan karakter partai, Jokowi tetap bukan sosok ideal untuk memimpin PSI

Ia menekankan bahwa PSI selama ini dikenal sebagai partai anak muda sehingga kepemimpinan idealnya juga berasal dari kalangan muda.

“Kalau Jokowi memimpin PSI, tentu aneh. Sebab, PSI partai anak muda yang dipimpin orang tua. Kalau terjadi tentu paradoks bagi PSI,” ujarnya kepada Tribunnews, Senin (9/6/2025).

Karena itu, ia menyarankan agar Jokowi menyadari posisinya dan tidak memaksakan diri untuk memimpin partai yang secara karakter tidak sesuai.

“Jadi, idealnya PSI dipimpin orang muda. Jokowi sebaiknya tahu diri bahwa dirinya tak pantas memimpin PSI,” kata Jamiluddin.

Meski begitu, Jamiluddin menilai lebih masuk akal Jokowi memilih PSI daripada PPP karena sama-sama menganut paham nasionalis.

Sedangkan PPP memiliki basis ideologi religius.

“Jokowi yang nasionalis tentu tak sejalan dengan PPP yang menganut religius. Perbedaan ideologis itu tentu aneh bila Jokowi memimpin PPP."

"Jokowi akan dinilai sosok yang menerima jabatan apa saja tanpa melihat kesesuaiannya,” kata Jamiluddin.

(Tribunnews.com/Gilang Putranto, Chaerul Umam) (Kompas.com)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas