Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Bahaya Anak Terpapar Pornografi, Orangtua Harus Hati-hati

Orang tua harus mampu membangun hubungan terbuka dalam jangka panjang, tidak langsung memarahi atau menghakimi anak

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Bahaya Anak Terpapar Pornografi, Orangtua Harus Hati-hati
Stok Warta Kota
PELECEHAN MURID - Ilustrasi pelecehan ini diunduh via situs Warta Kota pada Sabtu (8/3/2025). Cegah anak terpapar konten pornografi, orang tua harus mampu membangun hubungan terbuka dalam jangka panjang, tidak langsung memarahi atau menghakimi anak 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA - Belakangan ini banyak kasus pelecehan seksual yang melibatkan anak sebagai pelaku.

Kondisi ini tentu menjadi sorotan, mengapa kasus itu bisa terjadi?

“Pelecehan seksual (sodomi) anak terhadap balita merupakan isu yang serius dan kompleks, karena melibatkan banyak sekali faktor,” ungkap Psikolog, dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) Ike Herdiana  dikutip Jumat (20/6/2025).

Ada faktor seperti riwayat trauma kekerasan seksual di masa lampau.

Maupun kurangnya pendidikan seksual dan lingkungan sosial yang tidak aman.

Dari perkembangan kasus yang baru-baru ini terjadi, diduga pelaku yang masih berusia delapan tahun telah mendapat paparan pornografi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Peran orang tua jika menemukan anak-anak terpapar konten pornografi harus tetap tenang dan mampu mengedukasi dengan bahasa yang dipahami anak," ujar dia

Orang tua harus mampu membangun hubungan terbuka dalam jangka panjang.

Tidak langsung memarahi atau menghakimi anak.

Ajak bicara dengan pendekatan yang terbuka dan empati, serta orang tua harus mampu mendengarkan tanpa menginterupsi.

Baca juga: Kata Polisi soal Korban Pelecehan di Malang yang Dilaporkan atas Dugaan Pencemaran Nama Baik

Ia mengungkapkan, ciri - ciri anak yang berpeluang menjadi pelaku pelecehan seksual.

Misalnya menggunakan bahasa seksual atau istilah dewasa yang tidak sesuai dengan usianya, kesulitan mengendalikan emosi, dan terobsesi melihat bahkan menyentuh tubuh orang lain tanpa batasan.

Baik keluarga pelaku maupun korban perlu mendapat pendampingan psikologi.

Terapi keluarga dinilai dapat membantu untuk tidak hanya membantu tumbuh kembang anak, tapi juga membangun lingkungan yang aman dalam jangka panjang. 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas