Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Menteri Wihaji: Tokoh Agama Perlu Dilibatkan Tekan Angka Pernikahan Dini

Kepala BKKBN Wihaji menyoroti remaja yang menikah dini belum memiliki pemahaman yang baik terkait kehamilan dan pola asuh anak.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Erik S
zoom-in Menteri Wihaji: Tokoh Agama Perlu Dilibatkan Tekan Angka Pernikahan Dini
Tribunnews.com/Rina Ayu
CEGAH PERNIKAHAN DINI- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan agar anak muda tidak menikah terlalu dini. Pernikahan dini bisa menjadi salah satu faktor penyebab stunting. Hal itu disampaikan Wihaji saat ditemui dalam kegiatan Kirab Bangga Kencana di kantor BKKBN Jakarta, Kamis (26/6). 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengingatkan agar anak muda tidak menikah terlalu dini.

Pernikahan dini bisa menjadi salah satu faktor penyebab stunting.

Ia menyoroti, remaja yang menikah dini belum memiliki pemahaman yang baik terkait kehamilan dan pola asuh anak.

Baca juga: 1.606 Surat Dispensasi Pernikahan Dini Dipalsukan Eks Panitera dan Pegawai KUA Sumedang, Masih Sah?

Selain itu, remaja masih membutuhkan pemenuhan gizi maksimal hingga usia 21 tahun.

“Salah satu penyebab stunting selain air bersih, asupan kisi, sanitasi, juga pernikahan dini,” kata dia saat ditemui dalam kegiatan Kirab Bangga Kencana di kantor BKKBN Jakarta, Kamis (26/6).

Di Indonesia saat ini masih banyak daerah yang memiliki angka pernikahan dini yang tinggi seperti di provinsi NTT.

Rekomendasi Untuk Anda

Karena itu menurut Wihaji diperlukan edukasi yang tepat melalui pendekatan tokoh masyarakat dan agama.

“Problem lokal pernikahan dini itu butuh melibatkan para tokoh-tokoh lokal. Perlu kiai, romo, pendeta yang mungkin tiap hari melakukan pendekatan secara psikologis untuk tidak menikah di usia terlalu muda. Jangan melakukan pernikahan dini, nanti bisa stunting, pendidikannya bisa rusak, kemudian reproduksinya juga tidak baik, ekonominya juga tidak baik, kemudian bisa putus sekolah dan sebagainya,” terang mantan bupati Batang ini.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas