Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Prabowo Melayat Kwik Kian Gie: Beliau Setia kepada Ekonomi Pancasila

residen Prabowo Subianto melayat ekonom senior dan juga tokoh nasional Kwik Kian Gie di Rumah Duka Sentosa RSPAD.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Prabowo Melayat Kwik Kian Gie: Beliau Setia kepada Ekonomi Pancasila
Tribunnews.com/Taufik Ismail
PRESIDEN MELAYAT - Presiden Prabowo Subianto melayat ekonom senior dan juga tokoh nasional Kwik Kian Gie di Rumah Duka Sentosa RSPAD, pada Rabu, (30/7/2025). (Taufik Ismail). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto melayat ekonom senior dan juga tokoh nasional Kwik Kian Gie di Rumah Duka Sentosa RSPAD, pada Rabu, (30/7/2025).

Mengenakan pakaian safari berwarna krem dengan kopiah hitam Prabowo tiba sekitar pukul 13.42 WIB. Prabowo disambut keluarga almarhum begitu tiba di rumah duka.

Prabowo lalu masuk ke rumah duka dan memberikan penghormatan kepada jenazah almarhum. Selain itu Prabowo juga tampak berbincang dengan keluarga almarhum.

Tampak juga hadir di rumah duka yakni Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan Wiranto.

Setelah berbincang Presiden lalu keluar rumah duka sekitar pukul 14.14 WIB.

"Ya saya datang untuk menghormati, berbelasungkawa terhadap tokoh bangsa yang sangat berjasa," kata Prabowo usai melayat.

Menurut Kepala Negara pemikiran Kwik semasa hidupnya sangat luar biasa. Kwik sangat mempertahankan ekonomi pancasila.

Rekomendasi Untuk Anda

"Ekonomi pasal 33, beliau tokoh sangat luar biasa," katanya.

Prabowo mengatakan Kwik sering memberikan nasihat kepadanya. Bahkan beberapa hari sebelum meninggal, Kwik mengirimkan pesan whatsapp berisi saran saran mengenai ekonomi.

"Saya merasa dekat sama beliau, beliau banyak kasih nasihat ke saya bahkan beberapa hari yang lalu pun ngirim WA ya, memberi saran, beliau masih terus memberi WA," pungkasnya.

Kwik Kian Gie dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan ekonomi Pancasila, terutama melalui tafsir terhadap Pasal 33 UUD 1945. Ia secara terbuka mengkritik arah liberalisasi ekonomi yang menurutnya membahayakan kedaulatan nasional dan memperbesar kesenjangan.

Ia pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) pada masa Presiden Abdurrahman Wahid (1999–2000) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas pada era Presiden Megawati Soekarnoputri (2001–2004).

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas