Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Khutbah Tema Maulid Nabi, Jumat 5 September 2025: Makna Cinta kepada Rasulullah SAW

Contoh teks khutbah bertema Maulid Nabi yang berjudul "Makna Cinta kepada Rasulullah SAW" ini bisa dibacakan saat shalat Jumat, 5 September 2025.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lanny Latifah
Editor: Salma Fenty
zoom-in Khutbah Tema Maulid Nabi, Jumat 5 September 2025: Makna Cinta kepada Rasulullah SAW
Canva/Tribunnews.com
GRAFIS KHUTBAH JUMAT - Grafis khutbah Jumat dibuat di Canva Premium pada Kamis (4/9/2025). Inilah contoh teks khutbah bertema Maulid Nabi berjudul "Makna Cinta kepada Rasulullah SAW" yang bisa dibacakan saat shalat Jumat, 5 September 2025. 

TRIBUNNEWS.COM - Teks khutbah bertema Maulid Nabi yang berjudul "Makna Cinta kepada Rasulullah SAW" ini bisa dibacakan saat shalat Jumat, 5 September 2025.

Teks khutbah ini dirilis oleh Kementerian Agama (Kemenag) pada Rabu, 3 September 2025.

Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.

Khutbah ini merupakan bagian penting dari ibadah salat Jumat dan memiliki beberapa fungsi, seperti memberikan nasihat, bimbingan moral, dan pesan-pesan agama kepada jamaah.

Tahun ini, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada Jumat, (5/9/2025).

Teks khutbah ini akan mengisahkan tentang makna cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Memaknai cinta kepada Nabi berarti meneladani akhlak beliau, menegakkan ajaran beliau, dan membela kehormatan beliau dengan cara yang mulia.

Rekomendasi Untuk Anda

Dikutip dari laman Simbi Kemenag, berikut teks khutbah Jumat, 5 September 2025.

Baca juga: 70 Link Twibbon Maulid Nabi 2025, Lengkap dengan Cara Membuat dan Bagikan di Media Sosial

Makna Cinta kepada Rasulullah SAW

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِيْنِ. الَّذِي حَبَانَا بِالْإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. خَاتَمِ الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْن. وَعَلَى آلِهِ الطَّيِّبِيِن. وَأَصْحَابِهِ الأَخْيَارِ أَجْمَعِين. وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ. أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

"Segala puji bagi Allah, Raja yang benar dan jelas, yang hidup dengan iman dan keyakinan. Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Nabi Muhammad, penutup para nabi dan rasul. Dan atas keluarganya yang baik. Dan atas para sahabatnya yang saleh, dan semua orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari kiamat. Sekarang, hai hamba-hamba Allah, aku menasihati diriku dan kalian untuk bertakwa kepada Allah, karena orang-orang yang bertakwa itulah yang akan menang. Dan Allah berfirman, 'Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam.'"

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Cinta kepada Nabi Muhammad saw adalah bagian dari iman. Rasulullah saw bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ.

"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia." (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Cinta ini bukan sekadar ucapan lisan atau hiasan perayaan, tetapi harus menjadi kesadaran batin dan diwujudkan dalam amal nyata. Memaknai cinta kepada Nabi berarti meneladani akhlak beliau, menegakkan ajaran beliau, dan membela kehormatan beliau dengan cara yang mulia.

Cara hidup Nabi Muhammad saw yang penuh dengan uswah hasanah (teladan yang baik) tergambar dari hampir semua aspek kehidupannya mulai dari ibadah, akhlak pribadi, hingga interaksi sosial dan kepemimpinan, di antara keteladanan tersebut yakni: pertama, kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah saw hidup sederhana walau mampu hidup mewah. Rumahnya kecil, makanannya sederhana, tidaklah pernah berlebihan, sepertiga perutnya diisi makanan, sepertiga minum, dan sepertiga lagi udara, menggambarkan betapa Nabi tidak pernah menjadikan perutnya penuh dengan makanan yang berlebihan.

Kesederhanaan beliau mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dan bersyukur atas nikmat yang ada. Pakaian yang dikenakan bukanlah pakaian yang glamor yang dapat membuat kaum yang memandangnya menjadi terpesona secara berlebihan. Nabi selalu berpenampilan rapi, bersih, wangi dan sederhana dalam berhias.

Kedua,kejujuran dan amanah. Sebelum menjadi nabi, beliau sudah dikenal sebagai Al-Amīn (orang yang terpercaya). Julukan tersebut bahkan bukan diberikan oleh orang-orang yang sudah memeluk Islam, akan tetapi orang-orang Arab jahiliah pada masa itu. Tidak pernah sekali pun beliau berbohong, bahkan kepada musuhnya. Itulah mengapa “Shiddiq” sebagai salah satu sifat wajib bagi Nabi begitu melekat pada beliau.

Dalam bisnis, beliau jujur, tidak curang, dan selalu memberi informasi yang benar tentang barang dagangannya. Nabi selalu profesional menjalankan kehidupan niaganya sebagai manusia yang juga berlaku hukum ikhtiar kepadanya. Dan hal tersebutlah yang menjadikan Perniagaan yang dikelolanya.

Sidang Jemaah Jum’at rahimakumullāh,

Ketiga, kesabaran dalam ujian. Sejak belia, Nabi telah terbiasa hidup tanpa orang tua, masa-masa dimana sebagian teman sebayanya sedang menikmati indahnya mendapat belai kasih sayang dari kedua orang tua, Nabi tidak dapat sepenuhnya merasakan hal tersebut. Saat dewasa dan memiliki kemapanan hidup, Nabi atas perintah Allah diuji untuk mengorbankan semua yang dimilikinya untuk kepentingan agama Allah. Ketika dihina, difitnah, bahkan disakiti, beliau membalas dengan doa dan kebaikan. Bahkan pada saat di Thaif, beliau dilempari batu hingga berdarah, tetapi tidak membalas dendam. Kesabaran beliau menjadi teladan dalam menghadapi ujian hidup dengan hati yang lapang.

Keempat, kelembutan dan kasih sayang. Beliau menyayangi anak-anak, menyalami mereka, dan memangku cucunya saat khotbah. Suatu hari, Rasulullah saw sedang berkhotbah di masjid. Tiba-tiba, dari kejauhan, datanglah dua cucunya, Hasan dan Husain, yang masih kecil. Mereka berjalan tertatih-tatih sambil terbungkus baju panjang hingga hampir terjatuh. Melihat itu, Rasulullah saw langsung menghentikan khotbahnya. Beliau turun dari mimbar, menggendong keduanya, lalu kembali ke atas mimbar sambil tersenyum.

Anas bin Malik r.a., seorang sahabat yang mengabdi kepada Rasulullah sejak kecil, bercerita:

خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَاللهِ مَا قَالَ لِي: أُفًّا قَطُّ وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا .

"Aku telah melayani Rasulullah saw selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekalipun berkata 'ah' kepadaku, dan tidak pernah berkata kepadaku terhadap sesuatu yang aku lakukan: 'Mengapa kamu lakukan itu?' atau terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan: 'Mengapa kamu tidak melakukannya?'" (H.R. Muslim).

Keempat, ketegasan dalam prinsip. Dalam hal akidah dan kebenaran, beliau tegas dan tidak kompromi. Menolak tawaran harta, tahta, dan wanita dari kaum Quraisy jika harus meninggalkan dakwah.

Kelima, kepemimpinan yang adil. Nabi senantiasa memperlakukan semua orang dengan adil tanpa membedakan suku atau status sosial. Saat ada bangsawan Quraisy yang mencuri, beliau menolak memberikan perlakuan khusus:

وَايْمُ اللَّهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا.

"Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya." (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Keenam, ibadah yang konsisten. Nabi bersyukur secara maksimal kepada Allah. Salat malam hingga kakinya bengkak. Selalu berzikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an. Nabi saw selalu menjadikan ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk kedekatan dan cinta kepada Allah.

Ma‘āsyiral muslimīn,

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang majemuk, kecintaan kepada Nabi Muhammad saw dapat diimplementasikan dengan berbagai cara yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Salah satunya adalah dengan meneladani akhlak mulia Nabi. Beliau adalah pribadi yang santun, pemaaf, dan penuh kasih sayang, tidak hanya kepada sesama muslim, tetapi juga kepada non-muslim. Di tengah keberagaman Indonesia, kita perlu menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘ālamīn, yaitu Islam yang membawa kedamaian dan kasih sayang bagi seluruh alam.

Selain itu, menegakkan keadilan dan kejujuran juga merupakan bentuk nyata cinta kepada Nabi. Rasulullah saw dikenal sebagai pribadi yang amanah dan jujur. Dalam konteks modern, hal ini dapat diwujudkan dengan menjunjung tinggi integritas, bersikap antikorupsi, serta tidak berkhianat terhadap kepercayaan publik. Keteladanan ini sangat penting diterapkan dalam dunia kerja, pemerintahan, pendidikan, maupun kehidupan sosial sehari-hari.

Kecintaan kepada Nabi juga tercermin dalam upaya menghidupkan semangat persatuan. Nabi saw telah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar sebagai contoh nyata persaudaraan atas dasar iman. Maka di Indonesia, kita harus menghindari perpecahan karena perbedaan suku, mazhab, atau pilihan politik, dan lebih fokus pada membangun kemaslahatan bersama. Persatuan menjadi kunci utama dalam menjaga keutuhan bangsa yang beragam.

Terakhir, semangat berinovasi dan bekerja keras juga merupakan bagian dari ajaran Nabi. Beliau mendorong umatnya untuk tidak berpangku tangan, melainkan terus berusaha dan berkarya. Dalam era modern, hal ini berarti kita harus aktif berkontribusi dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembangunan bangsa, sambil tetap memegang teguh nilai-nilai Islam. Dengan cara-cara inilah, cinta kepada Rasulullah saw dapat diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang plural.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

"Semoga Allah memberkati saya dan Anda dalam Al-Qur'an yang agung dan bermanfaat bagi saya dan Anda dengan apa yang ada di dalamnya dari ayat-ayat dan peringatan yang bijaksana. Aku ngomong gini dan minta maaf sama Allah buat aku dan kalian serta semua Muslim dari semua dosa, jadi minta maaf sama Dia karena Dia itu Maha Pengampun dan Penyayang."

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً .‎اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ. عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

"Segala puji bagi Allah sebagaimana yang Dia perintahkan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah yang tetap berkuasa atas segala sesuatu. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya, utusan-Nya, kekasih-Nya, dan sahabat-Nya, yang paling mulia di antara yang pertama dan yang terakhir, yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta. Ya Allah, berikanlah rahmat dan salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya, rahmat yang abadi selama langit dan bumi tetap ada. Sekarang, wahai hadirin, bertakwalah kepada Allah sebagaimana seharusnya dan tinggalkanlah perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan pertahankanlah ketaatan dan kehadiran pada hari Jumat dan jamaah dan puasa dan semua perintah dan kewajiban. Ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian dengan perintah yang dimulai dari diri-Nya sendiri. Dan Dia mengikutinya dengan malaikat-malaikat yang memuji-muji-Nya di tempat yang suci. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya mendoakan Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, doakanlah dia dan salamilah dia dengan salam. Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim, dan berikanlah berkah kepada Nabi kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim di alam semesta. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, ampunilah umat Islam laki-laki dan perempuan, serta orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Ya Allah, ampunilah mereka yang telah meninggal dunia."

Link download pdf. >>> di sini

(Tribunnews.com/Latifah)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas