Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Sejarah Hari Kereta Api Nasional 2025 dan HUT ke-80 KAI, Delapan Dekade Perkeretaapian Indonesia

Sejarah Hari Kereta Api Nasional diperingati setiap tanggal 28 September dan HUT ke-80 KAI menandai delapan dekade perjalanan panjang kereta api.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan

TRIBUNNEWS.COM - Hari Kereta Api Nasional diperingati setiap tanggal 28 September, yang tahun ini jatuh pada hari ini, Minggu (28/9/2025).

Bangsa Indonesia memperingati Hari Kereta Api Nasional, sebuah momen bersejarah yang menandai lahirnya sistem perkeretaapian modern di Tanah Air sekaligus tonggak berdirinya perusahaan transportasi publik milik negara, PT Kereta Api Indonesia (KAI Persero). 

Tahun 2025 menjadi peringatan yang istimewa karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 KAI, menandai delapan dekade perjalanan panjang kereta api sebagai urat nadi mobilitas rakyat, penggerak ekonomi, dan simbol kemajuan teknologi transportasi nasional.

Sejarah Hari Kereta Api Nasional bermula dari pengambilalihan aset dan operasional perkeretaapian milik Belanda oleh bangsa Indonesia pada 28 September 1945, hanya beberapa minggu setelah proklamasi kemerdekaan. 

Momen ini terjadi di kantor pusat perkeretaapian di Bandung, ketika para pegawai pribumi yang tergabung dalam Djawatan Kereta Api (cikal bakal KAI) berhasil merebut kendali dari tangan Jepang dan Belanda. 

Tindakan heroik tersebut bukan hanya simbol perlawanan, tetapi juga awal dari pengelolaan transportasi publik secara mandiri oleh bangsa sendiri. 

Sejak saat itu, tanggal 28 September dikenang sebagai Hari Kereta Api Nasional, dan menjadi refleksi atas semangat kemandirian, pelayanan, dan transformasi.

Rekomendasi Untuk Anda

Selengkapnya berikut, sejarah Hari Kereta Api Nasional 2025 merangkum dari website resmi KAI dan Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Sejarah Hari Kereta Api Nasional 2025

Sejarah perkeretaapian Indonesia dimulai pada masa kolonial Belanda, tepatnya tanggal 17 Juni 1864, ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. L.A.J Baron Sloet van de Beele melakukan pencangkulan pertama jalur kereta api Semarang–Vorstenlanden (Solo–Yogyakarta) di Desa Kemijen. 

Pembangunan ini dilaksanakan oleh perusahaan swasta NV. Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dengan lebar sepur 1435 mm. 

Keberhasilan NISM mendorong pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api negara melalui Staatssporwegen (SS) pada 8 April 1875, dengan rute pertama Surabaya–Pasuruan–Malang. 

Baca juga: KAI Revitalisasi 200 Kereta Ekonomi, Kapasitas Kursi Dikurangi dari 80 Jadi 72

Tak lama kemudian, investor swasta turut membangun jaringan trem dan kereta api di berbagai wilayah, seperti SJS, SCS, SDS, OJS, Ps.SM, KSM, Pb.SM, MSM, MS, Mad.SM, dan DSM.

Pembangunan rel tak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga merambah ke Aceh (1876), Sumatera Utara (1889), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan Sulawesi (1922). Studi kelayakan sempat dilakukan di Kalimantan, Bali, dan Lombok, meski belum berlanjut ke tahap konstruksi. 

Hingga akhir 1928, total panjang rel kereta api dan trem di Indonesia mencapai 7.464 km, terdiri dari 4.089 km milik pemerintah dan 3.375 km milik swasta.

Pada masa pendudukan Jepang (1942–1945), perkeretaapian Indonesia diambil alih dan diubah namanya menjadi Rikuyu Sokyoku. 

Operasional kereta api difokuskan untuk kepentingan perang, termasuk pembangunan lintas Saketi–Bayah dan Muaro–Pekanbaru untuk pengangkutan batu bara. 

Namun, Jepang juga membongkar rel sepanjang 473 km untuk dikirim ke Burma.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pengambilalihan stasiun dan kantor pusat kereta api dari Jepang dilakukan secara bertahap. 

Puncaknya terjadi pada 28 September 1945, ketika Kantor Pusat Kereta Api di Bandung berhasil direbut dan dikelola oleh bangsa sendiri. 

Momen ini menjadi dasar penetapan Hari Kereta Api Nasional dan berdirinya DKARI. Meski Belanda sempat kembali dan membentuk SS/VS (gabungan SS dan perusahaan swasta), akhirnya seluruh aset perkeretaapian diserahkan kepada Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949.

Transformasi kelembagaan terus berlangsung. DKARI berganti menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) tahun 1950, lalu menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) tahun 1963. 

Pada 1971, statusnya berubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), kemudian menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) tahun 1991. 

Akhirnya, pada tahun 1998, lahirlah PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai bentuk modernisasi dan komersialisasi layanan kereta api nasional.

Dalam perjalanannya, PT KAI membentuk tujuh anak perusahaan untuk mendukung layanan dan diversifikasi usaha, yakni KAI Services, KAI Bandara, KAI Commuter, KAI Wisata, KAI Logistik, KAI Properti, dan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia. 

Di sisi lain, regulasi perkeretaapian juga mengalami pembaruan, mulai dari pembentukan Direktorat Perkeretaapian hingga pengesahan Perpres No. 10 Tahun 2005 yang menetapkan Direktorat Jenderal Perkeretaapian sebagai lembaga eselon I di bawah Kementerian Perhubungan.

Periode Sejarah Perusahaan Perkeretaapian Indonesia

  • 1864 - 1864: Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM)
  • 1864 - 1864: Staatssporwegen (SS)
  • 1864 - 1864: Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS)
  • 1864 - 1864: Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS)
  • 1864 - 1864: Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM)
  • 1864 - 1864: Malang Stoomtram Maatschappij (MS)    
  • 1864 - 1864: Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM)
  • 1864 - 1864: Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM)
  • 1864 - 1864: Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM)    -
  • 1864 - 1864: Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM)
  • 1864 - 1864: Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS)
  • 1864 - 1864: Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS)
  • 1864 - 1942: Deli Spoorweg Maatschappij (DSM)    
  • 1942 - 1945: Rikuyu Sokyoku (Dinas Kereta Api)    
  • 1945 - 1950: Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI)
  • 1950 - 1963: Djawatan Kereta Api (DKA)    
  • 1963 - 1971: Perusahaan Nasional Kereta Api (PNKA)
  • 1971 - 1991: Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA)    
  • 1991 - 1998: Perusahaan Umum Kereta Api (PERUMKA)    
  • 1998 - sekarang: PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Meski telah mengalami berbagai transformasi, tantangan perkeretaapian Indonesia masih besar. Infrastruktur yang menua, keterbatasan modernisasi, dan persaingan dengan moda transportasi lain membuat kereta api belum sepenuhnya menjadi tulang punggung transportasi nasional. 

Padahal, dari sisi efisiensi energi dan rendahnya emisi karbon, kereta api jauh lebih unggul dan berpotensi menjadi moda utama yang berkelanjutan.

Baca juga: Rangkaian HUT ke-80, KAI Siapkan 31 Lokasi Donor Darah dan 18 Lokasi Kesehatan Gratis

Sejarah Hari Kereta Api Nasional bukan hanya tentang rel dan lokomotif, tetapi tentang perjuangan, kemandirian, dan harapan bangsa. Dari rel pertama di Kemijen hingga layanan KRL Jabodetabek, kereta api telah menjadi saksi perjalanan Indonesia menuju masa depan. 

Di usia ke-80 tahun PT KAI, mari kita jadikan momentum ini sebagai refleksi dan dorongan untuk terus membenahi, mengembangkan, dan menghidupkan kembali semangat transportasi publik yang menghubungkan negeri.

Memasuki usia ke-80 tahun pada 2025, PT KAI telah menjelma menjadi perusahaan transportasi modern yang tidak hanya mengelola layanan kereta api antarkota, tetapi juga KRL, LRT, dan logistik berbasis rel. 

Dalam kurun waktu delapan dekade, KAI telah melalui berbagai fase: dari masa kolonial, nasionalisasi, modernisasi, hingga digitalisasi layanan. 

Peringatan HUT ke-80 KAI tahun ini menghadirkan apresiasi bagi masyarakat dalam rangka HUT ke-80. Melalui KAI Mini Expo yang digelar di 11 stasiun besar pada 24 September 2025.

Tercatat 7.280 tiket promo KAI spesial HUT ke-80 terjual hanya dalam satu hari untuk keberangkatan periode 24 September hingga 8 November 2025.

Di sisi lain, masyarakat diajak untuk mengenang peran kereta api dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari perjalanan mudik, distribusi barang, hingga pembangunan wilayah terpencil. 

Kereta api bukan hanya moda transportasi, tetapi juga bagian dari memori kolektif bangsa.

Peringatan tahun ini juga menjadi momentum penting untuk menyoroti transformasi digital yang dilakukan KAI, seperti integrasi aplikasi perjalanan, sistem e-ticketing, dan pengembangan layanan berbasis AI dan IoT. 

Di tengah tantangan mobilitas urban dan tuntutan efisiensi energi, kereta api menjadi solusi transportasi masa depan yang ramah lingkungan dan inklusif. 

Dukungan masyarakat dan inovasi berkelanjutan, KAI diharapkan terus menjadi pelopor transportasi publik yang menghubungkan generasi, wilayah, dan harapan.

(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas