Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Aktivis Kampus UIN Makassar Soroti Dimensi Pemberdayaan Ekonomi Program MBG

Penggunaan bahan pangan dari hasil pertanian, peternakan, dan perikanan masyarakat sekitar akan menciptakan efek ganda terhadap ekonomi daerah.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Erik S
zoom-in Aktivis Kampus UIN Makassar Soroti Dimensi Pemberdayaan Ekonomi Program MBG
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
DAPUR MBG - Penggunaan bahan pangan makan bergizi gratis (MBG) dari hasil pertanian, peternakan, dan perikanan masyarakat sekitar akan menciptakan efek ganda terhadap ekonomi daerah. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (Presma UINAM), Muh. Zulhamdi Suhafid menyoroti dimensi pemberdayaan ekonomi lokal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke anak-anak sekolah.

Dia menilai penggunaan bahan pangan dari hasil pertanian, peternakan, dan perikanan masyarakat sekitar akan menciptakan efek ganda terhadap ekonomi daerah.

“MBG ini punya efek domino yang besar. Selain menyehatkan pelajar, juga menghidupkan ekonomi desa. Pangan lokal seperti sayur, ikan, telur, dan buah daerah bisa jadi tulang punggung penyediaan bahan baku,” kata Muh. Zulhamdi dalam keterangan tertulis dikutip Rabu (8/10/2025). 

Baca juga: SPPG di Karanganyar Jateng Ditutup Imbas Dugaan 168 Siswa Keracunan MBG

Untuk menyempurnakan program ini agar tepat sasaran, dia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) agar menjalin kerja sama dengan pemerintah guna memperkuat sistem monitoring, mulai dari proses pengadaan bahan pangan hingga penyajian di dapur sekolah.

Menurutnya, kualitas gizi dan keamanan pangan harus menjadi aspek utama, bukan sekadar kuantitas distribusi.

Dia berpendapat, program MBG bersifat strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam jangka panjang. 

Karena itu dia menekankan pentingnya pengawasan terhadap standar gizi dan tata kelola dapur di berbagai daerah oleh BGN agar pelaksanaan MBG semakin efektif dan merata.

Rekomendasi Untuk Anda

“Program MBG ini langkah visioner Presiden dalam membangun generasi yang sehat dan cerdas. Tapi pengawasan gizi dan tata kelola dapur harus benar-benar dijaga agar pelaksanaan di lapangan tetap sesuai standar nasional,” ujar Zulhamdi.

Menurutnya, dengan asupan gizi yang cukup, anak-anak Indonesia akan tumbuh lebih sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi, sebuah pondasi penting untuk masa depan bangsa.

“Anak-anak merupakan aset bangsa. Jika mereka sehat dan bergizi baik, itu berarti kita sedang menyiapkan generasi unggul untuk 10–20 tahun ke depan,” kata dia.

“Jangan sampai ada daerah yang hanya fokus pada penyaluran tanpa memperhatikan kandungan gizi dan higienitas makanan. Ini penting untuk menjaga kepercayaan publik,” tambahnya.

Baca juga: Program MBG Diklaim Bangun Ekosistem Ekonomi Rakyat Lewat SPPG

Menurutnya, keberhasilan MBG akan menjadi tolok ukur keseriusan pemerintah dalam membangun SDM unggul dan berdaya saing global. Ia juga mendorong kampus, lembaga riset, dan organisasi mahasiswa untuk ikut berkontribusi dalam edukasi gizi dan riset pangan lokal.

“Program MBG bisa jadi ruang kolaborasi lintas sektor dari pemerintah, kampus, dunia usaha, dan masyarakat. Semuanya punya peran untuk memastikan generasi Indonesia tumbuh kuat dan sehat,” ujarnya.

10.681 SPPG Sudah Beroperasi

Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sebanyak 10.681 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di seluruh Indonesia. 

Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan, tahun ini BGN menargetkan jumlah layanan meningkat hingga 25.400 unit di daerah aglomerasi, serta 6.000 unit di wilayah tertinggal/terpencil.

"Target yang selalu berbeda bervariasi, akan ada 25.400 SPBG dan di daerah aglomerasi serta 6.000 SPBG di daerah terpencil," kata Dadan dalam acara Food Bussiness Opportunity Zona Pangan yang digelar HIPMI, di Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (7/10/2025).

Seluruh SPPG yang berjalan saat ini dibangun tanpa dana APBN. Adapun SPPG dibangun dari hasil kontribusi para mitra dengan investasi minimal sekitar Rp 2 miliar per unit. 

"SPPG saya kira saat ini 100 persen dari 10.681 itu adalah kontribusi dari para mitra,  dan belum satupun SPPG yang dibangun melalui dana APBN," ucapnya. 

Menurut Dadan, keberadaan SPPG tidak hanya menjadi sarana penyediaan makanan bergizi bagi anak-anak, tetapi juga penggerak ekonomi lokal. 

Pasalnya, setiap SPPG disebut mampu menyerap sekitar 50 tenaga kerja serta setidaknya membutuhkan 15 suplier bahan pangan/pokok.

Dengan demikian adanya SPPG disebut mendorong rantai pasok pangan dari pertanian, peternakan, hingga usaha kecil di sekitarnya.

"Jadi kalau nanti ada 31.000 SPPG saya kira tinggal dihitung berapa entrepreneur yang dibutuhkan di dalam memasok bahan baku program makanan gizi gratis ini," ujarnya. 

Setiap SPPG rata-rata melayani 3.000 siswa. (tribunnews/fin)

 

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas