Mantan Gubernur Lemhannas Andi Widjajanto: Indonesia Harus Bersiap Hadapi Pergeseran Tatanan Global
Andi Widjajanto tegaskan Indonesia tak bisa netral dalam konflik global dan soroti peran Prabowo dalam diplomasi strategis dunia.
Penulis:
Malvyandie Haryadi
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:Dunia sedang mengalami pergeseran menuju tatanan global baru.Amerika Serikat mengalami kemunduran sebagai adikuasa pasca Perang Dunia II.China diprediksi akan menjadi kekuatan hegemonik baru dengan pendekatan ofensif.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Mantan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Andi Widjajanto, menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa menghindar dari keterlibatan dalam konflik global yang tengah berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi terbatas bertema “Strategi Indonesia Menghadapi Pergeseran Tatanan Global” yang digelar oleh Perhimpunan Agenda 45 di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Pakar pertahanan dan strategi global yang pernah mengenyam pendidikan di National Defense University, Washington D.C, Amerika Serikat ini menambahkan, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar dalam tatanan geopolitik dunia hampir selalu terjadi melalui perang.
“Kita membutuhkan perang untuk memajukan peradaban, dalam segala lini,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Minggu (19/10/2025).
Ia merujuk pada 17 kali perubahan hegemoni global sejak era Yunani, di mana hanya satu—runtuhnya Uni Soviet—yang tidak diwarnai oleh perang besar.
Namun, Andi juga menyoroti bahwa strategi paling efektif tanpa kekerasan adalah perdamaian nuklir, di mana ketakutan terhadap kehancuran bersama menciptakan stabilitas. “Strategi yang paling sukses dan terbukti berhasil tanpa perang adalah perdamaian nuklir,” tambahnya.
Dalam konteks kekinian, Andi menilai Amerika Serikat tengah mengalami kemunduran sebagai adikuasa, sementara China menunjukkan kecenderungan ofensif untuk merebut hegemoni global.
Ia menyebut bahwa negara yang ingin menjadi kekuatan dominan harus unggul dalam berbagai pilar: demokrasi, nuklir, keamanan, aliansi, stabilitas finansial, perdagangan, pembangunan, dan konektivitas.
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang berada di zona strategis Asia Pasifik, memiliki posisi penting dalam perebutan pengaruh global.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, menurut Andi, telah menunjukkan postur diplomasi aktif dengan pendekatan komunikasi berkecepatan tinggi.
Dalam setahun terakhir, Prabowo telah menjalin hubungan dengan berbagai pemimpin dunia, termasuk dari China, Rusia, dan Amerika Serikat, sesuai dengan kepentingan nasional Indonesia.
“Indonesia tidak mungkin untuk tidak terlibat dalam konflik global hari ini,” tegas Andi.
Diskusi tersebut merupakan bagian awal dari penyusunan naskah pemikiran bidang politik global oleh Agenda 45. Direktur Eksekutif Agenda 45, Warsito Ellwein, menyatakan bahwa rangkaian diskusi lanjutan akan digelar di berbagai daerah untuk memperdalam hasil pemikiran.
Sementara itu, KH Dr Abdul Wahid Maktub, mantan Duta Besar RI untuk Qatar, menambahkan bahwa pendekatan soft power berbasis nilai-nilai Pancasila sangat relevan dalam menghadapi tantangan global.
“Kita punya Pancasila, di mana sila ketiga persatuan bisa menjadi persatuan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa dunia kini membutuhkan pendekatan keberagaman dan spiritualitas yang mampu menjawab kebutuhan manusia secara fisik maupun metafisik—semua itu, menurutnya, telah terkandung dalam ideologi bangsa Indonesia.
Baca tanpa iklan