Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Ekonom: 'Purbaya Effect' Sudah Terasa di Perekonomian

Baru dua bulan menjabat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut sudah memberi dampak nyata pada perekonomian. 

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dodi Esvandi
zoom-in Ekonom: 'Purbaya Effect' Sudah Terasa di Perekonomian
HANDOUT
Acara dialog bertajuk Ekonomi Tumbuh 5,04%: Bagaimana Prospek 2026? di Jakarta, Kamis (13/11/2025). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Baru dua bulan menjabat, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut sudah memberi dampak nyata pada perekonomian. 

Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menyebut fenomena ini sebagai Purbaya Effect, dengan bukti paling jelas terlihat dari likuiditas perbankan.

Setelah dilantik, Purbaya menempatkan dana Rp200 triliun di sistem perbankan. Langkah tersebut langsung mendorong penyaluran kredit, yang naik dari 6,96 persen pada Agustus menjadi 7,2%. 

“Pertumbuhan kredit itu sebagian besar ditopang oleh debitur BUMN, dari 1,69% melonjak menjadi 10,04%,” ujar Sunarsip dalam acara Katadata Policy Dialogue di Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Dampak ke Pertumbuhan Ekonomi

Kementerian Keuangan mencatat, dana Rp200 triliun yang ditempatkan di bank-bank milik negara (Himbara) sejak 12 September 2025 telah banyak terserap untuk pembiayaan kredit. 

Menurut Sunarsip, tanpa tambahan kredit ini, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 kemungkinan tidak akan mencapai 5,04%. 

“Mungkin tanpa ini, pertumbuhan kuartal III tidak bisa di atas 5%. Itu sebabnya saya bilang Purbaya Effect sudah bekerja,” tegasnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Meski demikian, ia menilai pertumbuhan ekonomi masih belum ditopang oleh konsumsi masyarakat. 

“Pertumbuhan saat ini banyak bergantung pada konsumsi pemerintah yang tumbuh 5,49% di kuartal III. Tanpa itu, ekonomi kita bisa lebih rendah lagi,” kata Sunarsip.

Fokus ke Sisi Supply

Sunarsip menyarankan agar pemerintah mengubah pendekatan dalam mendorong ekonomi. 

Jika sebelumnya fokus pada peningkatan demand, kini perlu diarahkan ke penguatan supply sektoral. 

“Lebih baik perbaiki sisi supply, bukan demand,” ujarnya. Ia menilai stagnasi konsumsi rumah tangga di bawah 5% disebabkan belum pulihnya sejumlah sektor industri pascapandemi Covid-19.

Optimisme Kelas Menengah

Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Lutfi Ridho menegaskan, pemerintah tetap berupaya memperkuat konsumsi rumah tangga. 

Namun, kunci utamanya adalah membangun kepercayaan publik terhadap prospek pendapatan. 

“Mereka harus yakin, terutama pada keyakinan pendapatan di masa depan,” kata Lutfi.

Ia menambahkan, DEN akan memfokuskan perhatian pada peningkatan optimisme dan stabilitas pendapatan masyarakat. 

Jika kepercayaan itu terbentuk, konsumsi rumah tangga bisa kembali menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, meski investasi diperkirakan tetap menjadi pendorong utama tahun depan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas