Khutbah Jumat 12 Desember 2025: Keteladanan Ulama Nusantara
Teks khutbah Jumat “Keteladanan Ulama Nusantara” akan dibacakan pada shalat Jumat 12 Desember 2025, membahas peran serta teladan para ulama.
Penulis:
Lanny Latifah
Editor:
Tiara Shelavie
Ringkasan Berita:
- Teks khutbah Jumat berikut berjudul “Keteladanan Ulama Nusantara” akan dibacakan pada salat Jumat 12 Desember 2025 dan membahas peran serta teladan para ulama.
- Ulama memiliki kedudukan mulia sebagai pemilik ilmu yang mengamalkan ajaran Islam dan berkontribusi besar dalam penyebaran dakwah, termasuk di Indonesia.
- Khutbah Jumat ini bertujuan memberikan nasihat dan bimbingan moral kepada jamaah sesuai ajaran agama.
TRIBUNNEWS.COM - Teks khutbah berjudul "Keteladanan Ulama Nusantara" bisa dibacakan saat salat Jumat pada 12 Desember 2025.
Khutbah Jumat adalah ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.
Khutbah merupakan bagian penting dari ibadah salat Jumat dan memiliki beberapa fungsi, seperti memberikan nasihat, bimbingan moral, dan pesan-pesan agama kepada jamaah.
Teks khutbah ini akan membahas mengenai keteladanan pada ulama.
Dalam Islam, ulama menempati kedudukan mulia sebagai pemilik ilmu dan pengamal ajaran Allah SWT.
Istilah ulama berasal dari kata ‘alima–ya‘lamu–‘ilman yang berarti mengetahui atau memahami.
Artinya, ulama adalah orang berilmu mendalam tentang agama dan mengamalkannya dalam kehidupan keseharian dan kemasyarakatan.
Para ulama memiliki peran besar dalam penyebaran dan dakwah Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.
Dikutip dari laman Simbi Kemenag, berikut teks khutbah berjudul "Keteladanan Ulama Nusantara" untuk shalat Jumat, 12 Desember 2025.
Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Seorang Khatib, Menentukan Sahnya Ibadah
Keteladanan Ulama Nusantara
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْعَلِيْمِ الْحَكِيْمِ، اَلْبَرِّ الرَّؤُوْفِ الرَّحِيْمِ، اَلَّذِيْ أَخْرَجَ عِبَادَهُ إِلَى النُّوْرِ مِنَ الظُّلُمَاتِ وَالْجَهْلِ الْبَهِيْمِ، وَأَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيْمِ، لِيُعَلِّمَ النَّاسَ بِالْقَلَمِ عَلَى النَّهْجِ الْقَوِيْمِ، وَيُوْصِلَهُمْ بِرَحْمَتِهِ إِلٰى جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، وَجَعَلَ مَقَامَ وَرَثَةِ الْأَنْبِيَاءِ مَقَامَ تَعْظِيْمٍ وَتَكْرِيْمٍ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْكَرِيْمُ، شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا النَّجَاةَ مِنْ عَذَابِ الْجَحِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْمِ، الْمُعَلِّمُ الْأَعْظَمُ بِالتَّعْلِيْمِ وَالتَّفْهِيْمِ، وَالْمُرَبِّي الْأَكْرَمُ بِالتَّوْجِيْهِ السَّلِيْمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى هٰذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، صَاحِبِ الْقَلْبِ السَّلِيْمِ، وَالصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمٍ عَظِيْمٍ، وَعَلٰى كُلِّ مُعَلِّمٍ لِلْخَيْرِ صَابِرٍ حَلِيْمٍ، وَكُلِّ مُرَبٍّ لِلنُّفُوْسِ صَادِقٍ أَمِيْنٍ كَرِيْمٍ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.
Hadirin jemaah salat Jum’at yang dirahmati Allah Swt,
Dalam Islam, ulama menempati kedudukan mulia sebagai pemilik ilmu dan pengamal ajaran Allah Swt. Istilah ulama berasal dari kata ‘alima–ya‘lamu–‘ilman yang berarti mengetahui atau memahami. Ulama berarti orang berilmu mendalam tentang agama dan mengamalkannya dalam kehidupan keseharian dan kemasyarakatan. Al-Qur’an menyebut ciri utama ulama adalah pada kepasrahan, ketundukan, dan ketakutan kepada Allah Swt:
إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا.
"Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama." (Q.S. Fathir [35]: 28).
Hadirin yang dirahmati Allah Swt,
Selain pada ketinggian spiritual, Al-Qur’an menyebut ulama memiliki derajat tinggi karena ilmunya, sebagimana Allah Swt berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ .
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujādalah [58]: 11).
Dengan kedudukan yang mulia dan tinggi tersebut, ulama dipilih dan diberi mandat Allah Swt sebagai pembawa dan penerus risalah dan pembimbing umat dalam kebaikan (ma’ruf) dan menjauhi yang mungkar, sebagaimana Al-Qur’an surah Ali ‘Imran [3] ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Hadirin jemaah salat Jum’at yang dirahmati Allah Swt,
Banyak hadis Nabi Muhammad saw yang juga menjelaskan kedudukan, posisi, dan fungsi ulama. Antara lain, Rasulullah saw menegaskan ulama adalah pewaris para nabi:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ.
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, ia telah memperoleh bagian yang banyak.” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Pada hadis lain, Nabi Muhammad saw menyatakan bahwa ulama adalah pelita dan penunjuk jalan lurus:
إِنَّ مَثَلَ الْعُلَماءِ فِي الْأَرْضِ كَمَثلِ النُّجُومِ يُهْتدَى بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، فَإِذَا انْطَمَستِ النُّجُومُ، أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الْهُدَاةُ.
“Sesungguhnya perumpamaan para ulama di muka bumi adalah seperti bintang-bintang yang dijadikan petunjuk dalam kegelapan di darat maupun di lautan, apabila hilangnya bintang-bintang tersebut, hampir-hampir kamu kehilangan petunjuk.” (H.R. Ahmad).
Hadirin yang berbahagia,
Penghargaan Al-Qur’an terhadap kedudukan ulama juga tercermin antara lain melalui penyebutan kata ‘alim beserta turunannya dalam sejumlah ayat Al-Qur’an yang mencapai sekitar 823 kali. Selain itu, terdapat pula sejumlah istilah lain yang maknanya berkaitan dengan aktivitas berpikir dan memahami, seperti al-‘aql, al-fikr, an-nazhr, al-basyar, at-tadabbur, al-‘ibār, dan adz-dzikr.
Tidak hanya Al-Qur’an dan hadis, para sarjana muslim baik klasik maupun kontemporer juga menempatkan ulama pada posisi yang terhormat, baik di sisi Allah maupun di mata manusia. Ibnu Katsir, misalnya, memaknai ulama sebagai orang yang benar-benar mengenal Allah (ma‘rifah) sehingga rasa takut kepada-Nya muncul secara sempurna.
Adapun Wahbah az-Zuhaili menjelaskan, secara naluriah, ulama ialah orang yang mampu menganalisis fenomena alam untuk memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat, serta memiliki rasa takut akan ancaman Allah apabila terjerumus dalam kemaksiatan. Sehingga ulama yang melakukan maksiat tidak dapat disebut ulama.
Sementara itu, menurut mufasir Indonesia, M. Quraish Shihab, ulama bukan hanya mereka yang menguasai ilmu agama, tetapi juga mereka yang menguasai ilmu pengetahuan lain, termasuk ilmu alam atau sains, selama keilmuannya digunakan untuk kemaslahatan umat manusia.
Hadirin jemaah,
Sebagai pewaris risalah Nabi Muhammad saw, para ulama memiliki peran besar dalam penyebaran dan dakwah Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Ulama nusantara menjadi tokoh sentral dalam seluruh proses tersebut. Ulama menggunakan berbagai cara dan strategi dakwah yang sesuai dengan konteks masyarakat.
Keberhasilan ulama dalam mengislamkan masyarakat tak lepas dari keteladanan mereka dalam ilmu, spiritualitas, dan kepemimpinan. Bagi ulama, ilmu bukan hanya pengetahuan, tetapi jalan mendekatkan diri kepada Allah Swt dan membimbing umat menuju kemaslahatan.
Ulama nusantara seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Mahfudz at-Tirmasi, Syekh Ahmad Dahlan, Syekh Yusuf al-Maqassari, Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, Syekh Arsyad al-Banjari, Syekh Ahmad Surkati, dan lain-lain dikenal memiliki kedalaman ilmu dan kesalehan tinggi.
Keteladanan juga tampak dalam perjuangan membela rakyat, seperti Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, dan Pangeran Diponegoro yang berjuang melawan penjajahan dengan semangat jihad fi sabilillah. Mereka menunjukkan keteguhan, keberanian, dan pengorbanan demi kebenaran.
Keteladanan lainnya tampak dalam semangat nasionalisme dan kebangsaan. Salah satu contohnya ialah Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang menjadi pemicu lahirnya perlawanan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Dengan tokoh-tokohnya seperti K.H. Wahid Hasyim, Haji Agus Salim, Buya Hamka, dan lain-lain. Dalam pendidikan, K.H. Hasyim Asy’ari menekankan adab, kedisiplinan, dan semangat kebangsaan. Sedangkan K.H. Ahmad Dahlan mengembangkan pendidikan modern dan pemberdayaan sosial. Keduanya membuktikan bahwa pendidikan Islam selaras dengan kemajuan dan menjadi fondasi moral serta intelektual bangsa.
Para ulama nusantara juga dikenal memiliki keteladanan dalam moderasi dan toleransi. Seperti ditunjukkan K.H. Ahmad Siddiq, K.H. Sahal Mahfudh, dan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Para ulama tersebut menampilkan nilai-nilai wasathiyyah (jalan tengah) menjadi fondasi kokoh bagi dialog antarumat beragama dan kehidupan berbangsa yang harmonis. Keteladanan ulama Nusantara pada akhirnya mencerminkan perpaduan antara ilmu, amal, dan akhlak. Mereka menjadi panutan dalam kesederhanaan, keikhlasan, keberanian, serta kecintaan kepada umat dan tanah air. Dalam konteks kekinian, teladan para ulama perlu terus dihidupkan sebagai inspirasi moral dan spiritual bagi generasi muda.
Hadirin jemaah salat Jum’at yang dirahmati Allah Swt,
Di tengah krisis nilai dan disorientasi moral di berbagai kalangan masyarakat, kehadiran figur ulama yang berilmu, berakhlak, dan berkomitmen pada kemaslahatan bangsa sangat dibutuhkan untuk menuntun bangsa Indonesia menuju masyarakat yang beradab dan berkeadilan.
Semoga Allah Swt senantiasa menganugerahkan kekuatan lahir dan batin kepada para ulama masa kini agar mampu meneladani perjuangan dan kebijaksanaan ulama-ulama nusantara terdahulu. Sementara kepada kita umat Islam, wajib memahami, dan meneladani ulama nusantara serta melaksanakannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari maupun bermasyarakat, Amiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ َالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللّٰهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّار، عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ .
(Tribunnews.com/Latifah)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.