Akademisi UI: PSEL Solusi Strategis Penanganan Sampah Perkotaan
Sampah Indonesia tembus 70 juta ton per tahun. Pemerintah dorong PSEL ubah sampah jadi energi, namun akademisi ingatkan pentingnya tata kelola ketat
Penulis:
Chaerul Umam
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Masalah sampah perkotaan kian serius dengan timbulan nasional lebih dari 70 juta ton per tahun, sementara banyak TPA sudah kelebihan kapasitas dan masih open dumping.
- Pemerintah mendorong Proyek Strategis Nasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi mengurangi sampah sekaligus menghasilkan energi.
- Akademisi UI menilai PSEL strategis, namun harus didukung tata kelola, pemilahan sampah, dan pengawasan ketat agar tidak memicu masalah lingkungan baru.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masalah sampah perkotaan di Indonesia kian mengkhawatirkan. Timbulan sampah nasional setiap tahun diperkirakan menembus lebih dari 70 juta ton, sementara sebagian besar masih ditangani melalui Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah kelebihan kapasitas dan menerapkan sistem open dumping.
Kondisi ini menjadi tantangan serius, terutama di tengah kebijakan pemerintah yang menargetkan penutupan seluruh TPA open dumping demi menekan dampak pencemaran dan ancaman kesehatan masyarakat.
Sebagai upaya menjawab persoalan tersebut, pemerintah mendorong penerapan teknologi waste to energy melalui Proyek Strategis Nasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Program ini diposisikan untuk mengurangi ketergantungan pada TPA sekaligus mengonversi sampah menjadi sumber energi alternatif.
Akademisi lingkungan Universitas Indonesia, Louis Fransiscus Yuniarto, menilai PSEL sebagai langkah strategis yang relevan dengan kondisi pengelolaan sampah saat ini.
Baca juga: Terpal Biru Tutupi Sampah di Flyover Ciputat, Ahli Sebut Darurat Kesehatan
Namun, ia mengingatkan bahwa PSEL tidak dapat berdiri sendiri dan harus ditempatkan dalam kerangka sistem pengelolaan sampah yang komprehensif.
“PSEL penting dalam kerangka ekonomi sirkular karena mampu menekan volume sampah secara signifikan dan menghasilkan energi. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola, transparansi, dan kesiapan ekosistem pendukung,” kata Louis, dalam keterangan yang diterima wartawan, Senin (15/12/2025).
Louis, yang juga Konsultan Senior ESG Management di Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Sekolah Ilmu Lingkungan UI, menekankan pentingnya kesiapan dari sisi hulu.
Menurutnya, tanpa pemilahan sampah dari sumber, kepastian teknologi yang digunakan, serta pengawasan ketat terhadap emisi dan residu, PSEL justru berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan baru.
“Jika dirancang dan diawasi dengan serius, PSEL bukan hanya solusi teknis, tetapi cerminan keseriusan negara dalam mengelola sampah secara modern dan bertanggung jawab,” tandasnya.
Baca tanpa iklan