Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Hadapi Gejolak Global, BKSAP DPR Tegaskan Peran Diplomasi Parlemen Indonesia

Ketua BKSAP DPR Syahrul Aidi Maazat menegaskan bahwa diplomasi parlemen memegang peran strategis dalam menghadapi berbagai konflik global.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Chaerul Umam
Editor: Wahyu Aji
zoom-in Hadapi Gejolak Global, BKSAP DPR Tegaskan Peran Diplomasi Parlemen Indonesia
Tribunnews/Chaerul Umam
GEJOLAK GLOBAL - Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, menegaskan bahwa diplomasi parlemen memegang peran strategis dalam menghadapi berbagai konflik global, rivalitas kekuatan besar, serta krisis kemanusiaan yang kian kompleks. Hal itu disampaikan Ketua BKSAP DPR Syahrul Aidi Maazat, dalam agenda Refleksi Kebijakan Politik Luar Negeri 2025 dan Outlook Kebijakan Politik Luar Negeri 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (18/12/2025). 
Ringkasan Berita:
  • BKSAP DPR RI menegaskan peran strategis diplomasi parlemen sebagai instrumen penting untuk menjaga kepentingan nasional Indonesia di tengah konflik global.
  • Indonesia konsisten mengedepankan agenda kemanusiaan dan politik luar negeri bebas aktif.
  • Diplomasi Indonesia diarahkan agar berdampak langsung bagi rakyat.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, menegaskan bahwa diplomasi parlemen memegang peran strategis dalam menghadapi berbagai konflik global, rivalitas kekuatan besar, serta krisis kemanusiaan yang kian kompleks. 

Diplomasi parlemen dinilai menjadi instrumen penting, untuk menjaga kepentingan nasional Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia.

Hal itu disampaikan Ketua BKSAP DPR Syahrul Aidi Maazat, dalam agenda Refleksi Kebijakan Politik Luar Negeri 2025 dan Outlook Kebijakan Politik Luar Negeri 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (18/12/2025).

Syahrul mengatakan, pelaksanaan politik luar negeri Indonesia tidak hanya melalui jalur eksekutif, tetapi juga dijalankan secara aktif melalui parlemen.

Dalam konteks ini, BKSAP berperan membangun komunikasi dan jejaring antar-parlemen dunia, sekaligus mengawal kebijakan luar negeri agar tetap sejalan dengan kepentingan nasional dan aspirasi rakyat.

“Diplomasi parlemen menjadi instrumen penting untuk memastikan kepentingan Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika global yang semakin kompleks,” kata anggota DPR RI dari Dapil Riau II tersebut.

Dalam refleksi kebijakan luar negeri 2025 dan proyeksi 2026, BKSAP secara aktif menyoroti berbagai konflik internasional yang menjadi perhatian dunia. 

Rekomendasi Untuk Anda

Sejumlah isu yang diangkat antara lain konflik Palestina, Sudan, dan Yaman, serta dinamika kawasan Timur Tengah yang melibatkan berbagai aktor regional, termasuk Uni Emirat Arab (UEA).

BKSAP menegaskan konsistensi sikap Indonesia dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina, serta mendorong penyelesaian damai konflik di Sudan dan Yaman melalui gencatan senjata, dialog politik, dan mekanisme multilateral. 

Melalui forum antar-parlemen, Indonesia terus mengedepankan agenda kemanusiaan dan stabilitas kawasan.

Di kawasan Indo-Pasifik, meningkatnya rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok dipandang sebagai tantangan nyata bagi implementasi politik luar negeri bebas aktif. 

Syahrul Aidi menekankan bahwa Indonesia harus tetap menjaga keseimbangan dan kemandirian dalam menjalin kerja sama global.

“Indonesia tidak boleh menjadi objek tarik-menarik kepentingan. Kita harus menerapkan hedging diplomacy, terbuka bekerja sama, tetapi tidak menjadi alat geopolitik pihak mana pun,” ujarnya.

Selain menghadapi konflik global, BKSAP juga menekankan bahwa diplomasi Indonesia harus memberikan manfaat konkret bagi rakyat. 

Perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri, khususnya pekerja migran, menjadi salah satu prioritas utama.

Syahrul Aidi menyoroti masih tingginya kerentanan pekerja migran Indonesia terhadap penipuan, perdagangan manusia, hingga deportasi paksa. 

Dia mendorong penguatan sistem perlindungan WNI yang lebih cepat, modern, dan berbasis perjanjian bilateral yang kuat.

Ancaman perubahan iklim dan bencana kemanusiaan juga menjadi perhatian serius BKSAP

Syahrul menyinggung banjir besar di Sumatera sebagai contoh nyata pentingnya penguatan climate diplomacy dan humanitarian diplomacy, termasuk pemanfaatan teknologi satelit dan akses pendanaan global untuk mitigasi bencana.

“Diplomasi Indonesia ke depan harus memperkuat posisi sebagai pemimpin Global South, berorientasi pada perlindungan rakyat, serta memastikan kerja sama luar negeri memberi manfaat nyata bagi ketahanan energi, pangan, pertahanan, teknologi, hingga ruang siber,” katanya.

Syahrul menambahkan, diplomasi parlemen Indonesia ke depan akan dijalankan secara lebih tegas, berdampak, dan berorientasi pada hasil nyata.

Baca juga: Syahrul Aidi Resmi Jadi Ketua BKSAP DPR RI, Perkuat Posisi Indonesia di Forum Internasional

“Indonesia tidak hanya hadir dalam percaturan global, tetapi harus tampil sebagai negara yang diperhitungkan dan dihormati,” tandasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas