Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Khutbah Jumat 19 Desember 2025: Ibu Jalan Menuju Rida Allah

Khutbah Jumat berjudul Ibu: Jalan Menuju Rida Allah dibacakan pada salat Jumat 19 Desember 2025, merenungkan tingginya kedudukan ibu dalam Islam.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lanny Latifah
Editor: Nuryanti
zoom-in Khutbah Jumat 19 Desember 2025:  Ibu Jalan Menuju Rida Allah
Surya/Purwanto
KHUTBAH SALAT JUMAT - Umat muslim melaksanakan salat Jumat pertama di bulan Ramadhan 1445 H di Masjid Agung Jami Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (15/3/2024). Khutbah Jumat berjudul Ibu: Jalan Menuju Rida Allah dibacakan pada salat Jumat 19 Desember 2025, merenungkan tingginya kedudukan ibu dalam Islam. SURYA/PURWANTO 
Ringkasan Berita:
  • Khutbah Jumat berjudul “Ibu: Jalan Menuju Rida Allah” dibacakan pada salat Jumat, 19 Desember 2025.
  • Khutbah berfungsi sebagai nasihat dan bimbingan moral bagi jamaah dalam ibadah salat Jumat.
  • Bertepatan dengan Hari Ibu tanggal 22 Desember, khutbah mengajak merenungkan tingginya kedudukan ibu dalam Islam.

 

TRIBUNNEWS.COM - Teks khutbah berjudul "Ibu: Jalan Menuju Rida Allah" bisa dibacakan saat salat Jumat hari ini, 19 Desember 2025.

Khutbah Jumat adalah ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.

Khutbah merupakan bagian penting dari ibadah salat Jumat dan memiliki beberapa fungsi, seperti memberikan nasihat, bimbingan moral, dan pesan-pesan agama kepada jamaah.

Bertepatan dengan peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, teks khutbah ini akan mengajak kita untuk merenungkan kembali kedudukan ibu dalam Islam.

Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat tinggi, bahkan melebihi segala bentuk ibadah sunah.

Dikutip dari laman Simbi Kemenag, berikut teks khutbah berjudul "Ibu: Jalan Menuju Rida Allah" untuk shalat Jumat, 19 Desember 2025.

Baca juga: 5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi Seorang Khatib, Menentukan Sahnya Ibadah

Ibu: Jalan Menuju Rida Allah

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اتَّقُوا اللهَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ، وَجَانِبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ : وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ.

Rekomendasi Untuk Anda

Hadirin jemaah salat Jum'at yang dirahmati Allah Swt,
Pada kesempatan khotbah ini, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember, marilah kita merenungkan kembali kedudukan ibu dalam Islam. Islam menempatkan ibu pada posisi yang sangat tinggi, bahkan melebihi segala bentuk ibadah sunah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw pernah ditanya:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ.

"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw sambil berkata: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab: "Ibumu." Dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Kemudian ayahmu." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw menyebut ibu tiga kali, baru kemudian ayah. Kenapa ibu begitu istimewa? Ini bukan tanpa alasan. Karena pengorbanan ibu tidak bisa diukur dengan apa pun. Ibu mengandung dalam keadaan lemah, melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa, menyusui, merawat, dan mendidik tanpa pernah menghitung balas jasa. Karena itu jangan heran kalau rida Allah sangat bergantung pada rida ibu. Sebaliknya, murka Allah pun bisa datang karena murkanya ibu.

Jemaah Jum'at yang berbahagia,
Ada kisah yang sangat menggetarkan tentang seorang ahli ibadah bernama Alqamah. la rajin salat, rajin puasa, dikenal sebagai orang saleh. Tapi saat menjelang wafat, lisannya terkunci, tidak bisa mengucapkan La ilaha illallah.

Rasulullah saw bertanya, ternyata masalahnya bukan kurang ibadah, tapi ibunya belum rida, karena Alqamah lebih memihak istrinya dan sering menyakiti hati ibunya. Begitu ibunya memaafkan dan meridai, barulah Alqamah bisa mengucapkan kalimat tauhid dan meninggal dengan tenang.
Artinya apa? Ibadah yang banyak bisa tertahan, kalau ibu terluka.

Jemaah Jum'at rahimakumullah,
Ada juga kisah Juraij, seorang ahli ibadah dari Bani Israil. Ia sedang salat sunah, ibunya memanggil. Juraij memilih meneruskan salatnya. Ibunya kecewa, lalu berdoa. Akibatnya, Juraij diuji dengan fitnah yang berat. Sebagaimana disebutkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrod:

فَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًا فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ وَهُوَ يُصَلِّي، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ وَهُوَ يُصَلِّي -: أُمِّي وَصَلَاتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلَاتَهُ، ثُمَّ صَرَحَتْ بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ : أُمِّي وَصَلَاتِي فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلَانَهُ، ثُمَّ صَرَحَتْ بِهِ الثَّالِثَةَ، فَقَالَ: أُمِّي وَصَلَاتِي ؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلَاتَهُ، فَلَمَّا لَمْ يُحِبْهَا قَالَتْ: لَا أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَيْجُ حَتَّى تَنْظُرَ فِي وُجُوهِ الْمُؤْمِسَاتِ، ثُمَّ انْصَرَفَتْ.

(Suatu ketika) datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya (Juraij) ketika ia sedang melaksanakan salat, "Wahai Juraij." Juraij lalu bertanya dalam hatinya, "Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan salatku?" Rupanya dia mengutamakan salatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di dalam hati, "Ibuku atau salatku?" Rupanya dia mengutamakan salatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, "Ibuku atau salatku?" Rupanya dia tetap mengutamakan salatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, "Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur." Lalu ibunya pun pergi meninggalkannya.

Tak lama kemudian, seorang wanita pezina (atau wanita yang difitnahkan) menuduh bahwa Juraij adalah ayah dari anaknya. Masyarakat marah, menghancurkan tempat ibadahnya, dan menyeret Juraij ke hadapan umum.

Ini adalah buah dari doa ibu yang tersakiti, meskipun tidak bermaksud mencelakakan. Pelajarannya jelas: salat sunah boleh diputus demi memenuhi panggilan ibu. Kisah Juraij ini menjadi ibrah bagi kita bahwa seorang anak hendaknya sangat berhati-hati terhadap kemurkaan orang tuanya. Sebab ketika orang tua tersakiti hingga melantunkan doa keburukan, doa tersebut termasuk doa yang sangat mudah dikabulkan.

Jemaah yang dirahmati Allah,
Tapi Islam juga penuh dengan kisah indah tentang bakti kepada ibu. Ada seorang pemuda yang menggendong ibunya yang sudah tua untuk tawaf di Kakbah. Ketulusan baktinya itulah yang mengantarkannya kepada kemuliaan yang luar biasa di sisi Allah, meskipun ia hampir tidak dikenal oleh manusia. Pemuda itu adalah Uwais bin 'Amir, seorang lelaki saleh dari Yaman.

Karena baktinya yang luar biasa kepada sang ibu, Rasulullah saw menyebut bahwa doa Uwais sangat mustajab. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa 'Umar bin Al-Khattab r.a. bertemu dengan Uwais:

قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: يَأْتِي عَلَيْكُمْ أَوَيْسُ بْنُ عَامِرٍ مَعَ أَمْدَادِ أَهْلِ الْيَمَنِ، مِنْ مُرَادٍ ثُمَّ مِنْ قَرْنٍ، كَانَ بِهِ بَرَضٌ فَبَرَأَ مِنْهُ إِلَّا مَوْضِعَ دِرْهَم، لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِمَا بَرِّ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ فَافْعَلْ.

"Umar berkata, "Aku sendiri pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: "Nanti akan datang seseorang bernama Uwais bin 'Amir bersama serombongan pasukan dari Yaman. la berasal dari Murad kemudian dari Qarn. Ia memiliki penyakit kulit kemudian sembuh darinya kecuali bagian satu dirham. la punya seorang ibu dan sangat berbakti padanya. Seandainya ia mau bersumpah pada Allah, maka akan diperkenankan yang ia pinta. Jika engkau mampu agar ia meminta pada Allah supaya engkau diampuni, mintalah padanya." (H.R. Muslim).

Dari kisah ini, jemaah sekalian, kita belajar bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan diukur dari popularitas, jabatan, atau kedudukan dunia, melainkan dari ketulusan iman dan bakti kepada orang tua, khususnya kepada ibu. Lihatlah 'Umar bin Khattab r.a., sahabat utama Rasulullah saw sekaligus khalifah kaum muslimin, meminta kepada Uwais bin 'Amir agar memohonkan ampunan kepada Allah untuknya. Betapa mulianya kedudukan Uwais di sisi Allah, sebuah kemuliaan yang lahir dari ketulusan baktinya kepada sang ibu.

Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa memuliakan ibu, berbakti kepadanya dengan penuh keikhlasan, serta meraih rida ibu yang mengantarkan kita kepada rida Allah Swt. Amin ya Rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمِ، وَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ اللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أن لا إله إلا الله وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا، رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ، رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَحْطَأنَا، رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ، رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، ولذكر الله أكبر.

(Tribunnews.com/Latifah)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas