Tempe Didorong Sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia
Menteri Fadli juga menyoroti potensi budaya tempe sebagai ekonomi budaya, sesuai dengan salah satu butir objek pemajuan kebudayaan.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Kementerian Kebudayaan mendorong pengakuan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
- Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa tempe memiliki nilai budaya, filosofis, dan ekonomi, serta menjadi sumber penghidupan jutaan perajin di Indonesia.
- Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan kreatif sebagai ajakan publik melestarikan tempe sebagai tradisi, identitas budaya, dan gaya hidup berkelanjutan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Intangible Cultural Heritage), sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai budaya, sosial, dan ekologis yang terkandung dalam tradisi tempe.
Diketahui Kementerian Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Promosi Kebudayaan, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, menggelar rangkaian kegiatan Budaya Tempe Goes to UNESCO di halaman Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa budaya tempe tidak hanya berkaitan dengan pangan, tetapi juga memuat nilai filosofis dan pengetahuan tradisional yang penting dilestarikan.
“Budaya tempe sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait kedaulatan pangan. Tempe adalah bagian dari tradisi pangan lokal, pengetahuan tradisional, dan nilai-nilai filosofis yang sudah mengakar di masyarakat,” tegasnya.
Baca juga: UNESCO Resmikan Reog, Kolintang, dan Kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda
Menteri Kebudayaan juga menyoroti peran budaya tempe dalam perekonomian kerakyatan.
Terdapat sekitar 170.000 komunitas pembuat tempe dan lebih dari 1,5 juta perajin di seluruh Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa Budaya Tempe tidak hanya warisan budaya, tetapi juga sumber penghidupan bagi jutaan keluarga di Nusantara.
Lebih lanjut, Menteri Fadli juga menyoroti potensi budaya tempe sebagai ekonomi budaya, sesuai dengan salah satu butir objek pemajuan kebudayaan.
“Jadi ini bagian juga dari ekonomi budaya, karena budaya itu termasuk di dalam objek pemajuan kebudayaan itu termasuk juga pangan lokal, karena pangan lokal ini ada ekspresi budaya di dalamnya tidak
bisa dipisahkan dari cultural expression atau ekspresi budaya,” imbuh Fadli Zon.
Festival Budaya Tempe menghadirkan berbagai kegiatan edukasi, ekonomi kreatif, seni budaya, dan olah raga yang disambut antusias oleh masyarakat. Acara ini mengusung tema
“Tidak Ada yang Tahu Semua Tempe” dan dilangsungkan pada hari bebas kendaraan bermotor di Jakarta. Acara ini menjadi momentum yang tepat untuk mengajak publik merayakan khazanah tempe yang mencakup tradisi kuliner, inovasi pangan, serta gaya hidup sehat dan berkelanjutan.
Salah satu acara utama dalam festival ini adalah Fun Run Budaya Tempe, yang menjadi simbol dukungan publik terhadap proses pengusulan Budaya Tempe ke UNESCO.
Setiap langkah para peserta dimaknai sebagai wujud solidaritas dan kebanggaan kolektif terhadap warisan budaya bangsa, serta ajakan untuk menjadikan tempe sebagai bagian dari gaya hidup sehat, ramah lingkungan, dan relevan bagi generasi mendatang.
Baca juga: Fadli Zon Sebut Prabowo Minta Keraton, Istana dan Warisan Budaya Jadi Prioritas Revitalisasi
Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat umum. Sinergi lintas sektor tersebut menjadi fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan Budaya Tempe, baik sebagai identitas budaya maupun sebagai sistem pengetahuan tradisional yang mampu menjawab tantangan global.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan Kementerian Kebudayaan, termasuk Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha Djumaryo, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, serta Direktur Jenderal Pemanfaatan, Pengembangan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra.