Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Densus 88 Tangkap 7 Teroris Jaringan NII dan Ansharuh Daulah di Libur Nataru 2026

Densus 88 tangkap 7 teroris NII & AD saat libur Nataru 2026, Indonesia tetap zero serangan teror.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Densus 88 Tangkap 7 Teroris Jaringan NII dan Ansharuh Daulah di Libur Nataru 2026
SURYA/PURWANTO
DENSUS 88 - Densus 88 tangkap 7 teroris NII & AD saat libur Nataru 2026, Indonesia tetap zero serangan teror. 
Ringkasan Berita:
  • Densus 88 Antiteror Polri menangkap 7 tersangka terorisme dari jaringan NII dan Ansharuh Daulah (AD) saat libur Nataru 2026. 
  • Dua tersangka NII ditangkap di Sumatera Utara, sementara lima anggota AD diamankan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Papua karena aktif menyebarkan propaganda ISIS. 
  • Meski ada penangkapan, Polri menegaskan Indonesia tetap bebas serangan teror sepanjang 2025, mempertahankan status Zero Terrorism Attack sejak 2023.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap tujuh tersangka terorisme selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.

Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana mengatakan tujuh tersangka itu tergabung dalam dua jaringan kelompok teror yakni Negara Islam Indonesia (NII) dan Ansharuh Daulah (AD).

NII adalah sebuah gerakan yang bertujuan mendirikan negara Islam di Indonesia, muncul sejak awal kemerdekaan dan kemudian ditetapkan sebagai organisasi terlarang serta dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh pemerintah.

Sementara itu, AD adalah kelompok teror di Indonesia yang berafiliasi dengan ISIS, aktif menyebarkan propaganda dan seruan aksi teror.

Mayndra mengatakan dua orang kelompok NII ditangkap di wilayah Sumatera Utara. Saat ini, kedua tersangka sudah langsung dilakukan penahanan.

"2 tersangka dilakukan penegakkan hukum terkait perannya dalam struktur organisasi NII. Keduanya diamankan di Sumatera Utara," kata Mayndra dalam keterangan tertulis, Rabu (31/12/2025). 

Kemudian, untuk lima orang tersangka lainnya ditangkap di lokasi yang berbeda-beda yakni di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Papua.

Rekomendasi Untuk Anda

Mayndra menyebut kelima tersangka ini terlibat aktif melakukan propaganda dan seruan kepada masyarakat untuk melaksanakan aksi teror. 

"Pendukung Daulah (ISIS) yang aktif menyerukan propaganda dan seruan untuk melakukan aksi teror," ungkapnya. 

Baca juga: Tren 2025: Teroris Gaet Anak-anak di Game Online dan Medsos, Begini Cara Mereka Bekerja

Tak Ada Serangan Teror

Sebelumnya, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri berhasil menjaga komitmen menjaga Indonesia bebas dari serangan teroris sepanjang 2025.

Kabareskrim Polri Komjen Syahardiantono mengatakan hal itu terbukti tidak adanya serangan terorisme sejak 2023 hingga 2025.

"Densus 88 Anti Teror berkomitmen menjaga Indonesia bebas dari serangan teror sepanjang tahun 2025. Telah berhasil mempertahankan status Zero Terrorism Attack sepanjang tahun 2023 hingga 2025 melalui langkah penegakan hukum yang proaktif," kata Syahar dalam rilis akhir tahun 2025 Polri di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (30/12/2025).

Kesuksesan itu, kata Syahar, juga didukung oleh penangkapan pelaku sebanyak 147 tersangka pada tahun 2023, 55 tersangka pada tahun 2024 dan 51 tersangka di tahun 2025.

"Yang tentunya ini secara efektif menekan potensi ancaman serta menjaga stabilitas keamanan nasional," ucapnya.

Adapun Syahar juga merincikan beberapa kasus menonjol yang berhasil diungkap selama 2025 oleh Densus 88 Antiteror Polri.

Pertama, pengungkapan jaringan radikalisme pada anak di bawah umur dengan rekrutmen online yang melibatkan 5 tersangka teroris dengan target 110 anak di 23 provinsi.

Menggagalkan 4 rencana aksi terorisme oleh kelompok Anshor Daulah, meenggagalkan 20 rencana aksi serangan oleh anak di bawah umur, penangkapan 7 tersangka terorisme dalam pengamanan natal dan tahun baru.

"Penanganan 68 anak di 18 provinsi yang terpapar ideologi kekerasan ekstrim melalui grup TCC seperti Neo-Nazi dan White Supremacy, di mana mereka ditemukan telah menguasai berbagai senjata berbahaya dengan rencana aksi yang menyasar lingkungan sekolah serta teman sejawat mereka," ungkapnya.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas