Prabowo Ungkap Alasan Belakangan Jarang Mau Diwawancara: Rakyat Percaya Bukti, Bukan Kata-kata
Prabowo ungkap alasan jarang diwawancara: rakyat percaya bukti kerja, bukan kata-kata. Publik menyoroti pola komunikasinya.
Penulis: Taufik Ismail
Editor:
Acos Abdul Qodir
Ringkasan Berita:
- Jarang diwawancara bukan anti-media, Prabowo sebut rakyat lebih percaya bukti kerja nyata.
- Kritik serba salah pejabat di lapangan dijawab dengan komitmen bukti, bukan kata-kata.
- Publik dan pakar menyoroti pola komunikasi Presiden, antara keterbukaan dan fokus kerja.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang menegaskan alasan jarang diwawancara media, karena rakyat Indonesia lebih percaya bukti kerja nyata dalam penanganan bencana banjir di Sumatra.
Prabowo menyampaikan bahwa dirinya jarang memberi wawancara bukan karena tidak menghormati profesi jurnalis, melainkan karena memahami psikologi masyarakat Indonesia.
“Kalau saudara perhatikan saya jarang kasih wawancara dengan pers. Saya bukan tidak hormati pers, karena saya mengerti psikologi rakyat Indonesia,” kata Prabowo.
Menurutnya, rakyat lebih percaya bukti kerja nyata dibanding kata-kata.
“Rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti, bukti. Kita sekarang dalam rangka membuktikan,” ujarnya.
Prabowo menekankan bahwa pemerintah saat ini berupaya menunjukkan kerja nyata, terutama dalam penanganan bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Ia menilai kepercayaan publik dibangun dari hasil yang bisa dilihat langsung, bukan sekadar pernyataan.
Pejabat Turun Lapangan
Ia juga menyinggung kritik terhadap sejumlah pejabat yang turun ke lokasi bencana.
Menurutnya, kehadiran pejabat bukan untuk wisata, melainkan untuk memastikan penanganan berjalan cepat.
“Jadi kalau ada menteri-menteri pejabat turun, itu dia tidak turun untuk wisata. Dia datang, dia melihat, mencatat, mengerti, mengambil keputusan, kan demikian,” pungkasnya.
Wawancara Terakhir
Berdasarkan data yang dihimpun, wawancara terakhir Prabowo dengan jurnalis berlangsung pada 13 Desember 2025 di Pangkalan Udara Soewondo, Medan, Sumatra Utara.
Saat itu ia baru saja meninjau lokasi bencana di Takengon, Bener Meriah, Aceh, serta Langkat, Sumatra Utara.
Baca juga: Qodari Minta Polisi Usut Dalang Teror ke Aktivis dan Konten Kreator: Nanti Pemerintah yang Dituduh
Sorotan Publik
Pernyataan Prabowo muncul di tengah sorotan publik atas pola komunikasinya yang jarang diwawancara.
Sejumlah warganet menilai wawancara terbuka sebelumnya dengan pemimpin redaksi media nasional sebagai langkah positif bagi keterbukaan informasi.
Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, menilai wawancara Prabowo dengan jurnalis senior di Hambalang (April 2025) menunjukkan komitmen terhadap kebebasan pers.
Namun, ia juga menekankan bahwa konsistensi komunikasi publik tetap penting agar masyarakat tidak hanya menunggu bukti kerja, tetapi juga mendapat penjelasan langsung dari Presiden.
Pernyataan Prabowo ini sekaligus menegaskan rakyat hanya percaya bukti nyata. Di sisi lain, publik tetap menilai keseimbangan kerja dan keterbukaan informasi penting bagi demokrasi.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.