4 Hal yang Perlu Diketahui Mengenai HUT Ke-53 dan Rakernas PDIP di Ancol
Rangkaian agenda selama tiga hari bersifat tertutup namun informasi kepada media akan disampaikan secara berkala di area media center.
Editor:
Hasanudin Aco
Ringkasan Berita:
- Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan menggelar peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 PDIP
- Dilanjutkan dengan rapat kerja nasional (Rakernas) di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta pada 10-12 Januari 2026
- Rakernas hingga 12 Januari 2026 akan dihadiri pengurus pusat partai dan pengurus daerah
- Pagi ini kader partai mulai berbondong-bondong menghadiri lokasi acara
- Rakernas ini menindaklanjuti hasil Kongres ke-VI PDIP yang dilaksanakan Agustus 2025 lalu.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan menggelar peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-53 dan dilanjutkan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta, pada 10 hingga 12 Januari 2026.
Informasi yang diperoleh Tribunnews.com, peringatan HUT ke-53 PDIP dimulai pada hari ini, Sabtu 10 Januari 2026, pukul 13.00 WIB sampai selesai.
Rangkaian agenda selama tiga hari bersifat tertutup namun informasi kepada media akan disampaikan secara berkala di area media center.
Berikut fakta-fakta mengenai kegiatan tersebut:
Bersifat internal tak undang partai lain
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengatakan Rakernas kali ini bersifat internal dan tidak mengundang partai politik lain.
"Rakernas kali ini fokus konsolidasi internal partai," kata Andreas kepada Tribunnews.com, Jumat (9/1/2026).
Berdasarkan informasi, acara HUT ke-53 dan di lanjut Rakernas I PDIP akan d buka pukul 14.00 WIB oleh Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.
Ini merupakan konsolidasi ideologi dan refleksi politik sekaligus Pidato Megawati Soekarnoputri, dan diskusi kader mengenai arah politik ke depan
Partai penyeimbang
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa Rakernas PDIP bukan sekadar agenda rutin tahunan.
Rakernas disebut sebagai momentum konsolidasi partai untuk meneguhkan peran PDIP sebagai partai penyeimbang melalui kerja nyata di tengah rakyat.
Hasto mengatakan peran tersebut diwujudkan melalui keberpihakan pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan kepentingan rakyat, termasuk dalam penanganan berbagai bencana di Tanah Air.
"PDI Perjuangan menegaskan diri sebagai partai penyeimbang dengan kerja nyata di tengah rakyat di tengah berbagai bencana yang melanda di Tanah Air, dengan spirit kemanusian, keadilan dan keberpihakan kepada rakyat," kata Hasto di Jakarta, Jumat.
"Di dalam Rakernas ini akan dibahas sikap politik, termasuk jawaban partai atas berbagai persoalan geopolitik, krisis ekologis, korupsi, persoalan ekonomi, penegakkan hukum, hingga program internal Partai dan tanggung jawab kerakyatan Partai," imbuh Hasto.
Maskot Banteng Diluncurkan
Dalam acara ini, PDIP akan meluncurkan maskot Banteng, hasil sayembara yang dilaksanakan partai selama tiga bulan, sejak Oktober-Desember 2025.
Maskot Banteng tampil mengenakan jaket berwarna merah, dengan celana hitam serta sepatu putih bergaris merah.
Ketua Koordinator Media Pintar Perjuangan (MPP), Henky, mengatakan Maskot Banteng tidak sekadar menjadi simbol visual, melainkan representasi semangat perjuangan partai.
“Maskot Banteng bukan hanya simbol. Ia adalah energi. Energi yang tumbuh dari rakyat, untuk rakyat. Nama maskot akan diumumkan saat perayaan HUT ke-53 PDI Perjuangan,” kata Henky, Jumat (9/1/2026).
Henky menyebut gerakan yang diusung melalui Maskot Banteng bersifat inklusif dan terbuka untuk semua kalangan.
“Inilah movement, pergerakan rakyat yang nyata. Gerakan yang menumbuhkan empowerment, pemberdayaan di setiap lapisan masyarakat. Inilah makna di balik Maskot Banteng,” ungkapnya.
Nantinya nama maskot Banteng dari hasil sayembara akan diumumkan secara resmi pada perayaan HUT ke-53 PDIP.
Makna Tema Satyam Eva Jayate
Dalam Rakernas kali ini, PDIP mengusung tema Satyam Eva Jayate dengan subtema Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya.
Satyam Eva Jayate merupakan slogan berbahasa Sanskerta yang berarti “Kebenaran Akan Menang”.
Menurut Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto tema tersebut menjadi perisai moral yang berlandaskan kebenaran ideologi Pancasila, dengan merujuk pada spirit kelahirannya pada 1 Juni 1945.
"Tema Satyam Eva Jayate menjadi perisai moral dengan standar kebenaran ideologi Pancasila dengan spirit kelahirannya pada tanggal 1 Juni 1945. Bagi para pemuda, Satyam Eva Jayate bukan sekedar slogan, namun pesan moral dalam dunia digital untuk berani berbicara kritis sebagai cermin kebebasan berpendapat yang dilindungi Konstitusi serta berani menempuh jalan 'anti mainstream' di dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan," urai Hasto.
Adapun subtema Di Sanalah Aku Berdiri untuk Selama-lamanya, yang dikutip dari lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman, menurut Hasto menggambarkan daya tahan dan keteguhan sikap dalam memperjuangkan kebenaran.
"Keteguhan terhadap posisi "di sanalah aku berdiri” juga menggambarkan kesetiaan pada jalan kerakyatan di tengah godaan pragmatisme politik," lanjut Hasto.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.