Bicara Perubahan Iklim, Megawati Soekarnoputri Tekankan Prinsip ‘Memayu Hayuning Bawana’
Megawati Soekarnoputri dalam pembukaan Rakernas I dan HUT ke-53 Partai menuai simpati luas, terutama dari kalangan kader muda.
Penulis:
Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Pidato Megawati Soekarnoputri menuai simpati kader muda PDIP karena menonjolkan empati terhadap bencana alam dan perubahan iklim.
- Politikus muda PDIP menilai sikap Megawati mencerminkan kenegarawanan, dengan perhatian serius pada mitigasi perubahan iklim.
- Pesan Megawati tentang kearifan lokal dan ajaran Bung Karno.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pidato politik Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam pembukaan Rakernas I dan HUT ke-53 Partai menuai simpati luas, terutama dari kalangan kader muda.
Di tengah hiruk-pikuk politik nasional, Megawati justru memilih menonjolkan empati terhadap bencana alam dan isu perubahan iklim sebagai prioritas utama.
Politikus muda PDIP, Muhammad Syaeful Mujab menilai sikap tersebut menunjukkan level kenegarawanan yang tinggi.
Alih-alih terjebak dalam narasi politik praktis, Megawati justru memberikan perhatian mendalam pada musibah banjir bandang di Sumatera Barat.
"Di saat situasi bencana melanda, Ibu Megawati memilih untuk tidak fokus bicara politik kekuasaan. Ini adalah sikap kenegarawanan yang luar biasa," kata Mujab dalam konferensi pers di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta, Minggu (11/1/2026).
Mujab menekankan bahwa perhatian Megawati terhadap lingkungan bersifat konsisten.
Dia pun mengutip pesan Megawati pasca bertemu Paus Fransiskus, yang menyebut bahwa perubahan iklim saat ini lebih menyeramkan daripada perang.
"Sebagai negara kepulauan, Indonesia butuh mitigasi yang tepat. Pidato Bu Mega menunjukkan concern pada keadilan antargenerasi. Bagaimana kita hari ini bertanggung jawab agar generasi mendatang tetap memiliki alam yang layak," terangnya.
Mujab pun menyinggung pesan yang disampaikan Megawati yakni soal nilai kearifan lokal Jawa, Memayu Hayuning Bawana (memperindah keindahan dunia), menjadi roh dalam pidato tersebut.
Menurutnya, ini adalah pengingat bahwa menjaga alam berarti memastikan alam menjaga manusia.
Sementara, Kader muda PDIP lainnya, Mega Putri Novia, menambahkan bahwa kekhawatiran Megawati terhadap eksploitasi alam di Sumatera merupakan refleksi dari ajaran Bung Karno sejak tahun 1946.
"Bu Mega sangat khawatir dengan kondisi lingkungan kita. Beliau selalu mengingatkan anak muda untuk tidak melakukan eksploitasi. Sejak 1946, Bung Karno sudah menghubungkan ketahanan pangan dengan kelestarian hutan dan sumber air," kata Mega.
Bagi Mega, pesan ini adalah panggilan bagi anak muda untuk bergerak menciptakan tata kelola negara yang lebih amanah dan pro-rakyat.
Baca juga: Senyum Megawati Saat Tiba di Acara Rakernas PDIP Hari Kedua
"Tantangannya adalah bagaimana anak muda berkontribusi mengubah yang tidak amanah menjadi amanah, demi menjaga keberlanjutan lingkungan kita," tandasnya.
Baca tanpa iklan