Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500, Tim SAR Berjuang Hadapi Medan Terjal dan Kabut Tebal
Tim SAR menembus kabut Bulusaraung evakuasi korban ATR 42-500, dua jenazah ditemukan, identifikasi menunggu DVI.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar jatuh di Gunung Bulusaraung, Sulsel, Sabtu (17/1/2026).
- Dari 10 orang di dalam pesawat, dua korban telah ditemukan meninggal dunia.
- Tim SAR gabungan berjuang menembus medan ekstrem dan kabut tebal untuk evakuasi
- Identifikasi jenazah menunggu pemeriksaan DNA oleh DVI Polri.
TRIBUNNEWS.COM - Tim SAR terus berjuang menembus medan terjal dan kabut tebal untuk mengevakuasi korban pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
Diketahui, Pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta - Makassar jatuh di Gunung Bulusaraung pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat itu mengangkut 10 orang terbagi dari tujuh awak dan tiga penumpang. Hingga hari ketiga pada Senin (19/1/2026) ini, tercatat sudah ada dua korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Korban pertama adalah laki-laki yang ditemukan pada hari Minggu lalu. Korban kedua merupakan seorang perempuan dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Namun, kepastian terkait identitas maupun kondisi korban tetap menunggu hasil resmi dari tim DVI Polri.
Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengumumkan penemuan korban kedua dalam operasi pencarian, Senin (29/1/2026). Korban ditemukan sekitar pukul 14.10 Wita, hanya 15 menit sebelum konferensi pers di Kantor Basarnas Makassar.
“Dari hasil komunikasi kami yang terhubung langsung dengan tim di lapangan, hari ini kembali ditemukan satu korban,” kata Syafii.
Korban ditemukan di jurang dengan kedalaman sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Meski demikian, korban belum bisa dibawa ke posko seiring kendala cuaa buruk dan angin kencang. Evakuasi berlanjut esok pagi.
Baca juga: Korban Pesawat ATR 42-500 yang Ditemukan Belum Dievakuasi Karena Terkendala Cuaca
Tim SAR Fokus Evakuasi Korban ATR 42-500, Black Box Jadi Prioritas Kedua
Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menegaskan bahwa pencarian korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung masih menjadi fokus utama tim SAR gabungan. Hal ini disampaikan di Posko AJU Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Senin (19/1/2026) sore.
“Untuk black box kami belum fokus ke black boxnya. Melihat dari jumlah korban, kami fokusnya di korban dulu,” ujarnya.
Andi menambahkan, titik koordinat bagian ekor pesawat sudah diketahui. Namun, kondisi medan yang sulit membuat lokasi tersebut belum sepenuhnya dapat dijangkau.
“Tetap juga nanti kita upayakan, itu kan titik koordinat ekornya sudah jelas,” jelasnya.
Untuk memperluas area pencarian, tim SAR berencana melibatkan masyarakat setempat yang memahami medan, termasuk pencari madu yang terbiasa menembus jalur ekstrem.
“Besok mungkin kita bersama masyarakat pencari madu melakukan pencarian di lokasi,” tambahnya.
Tim SAR dan Relawan Berjuang Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500 di Lereng Gunung Bulusaraung
Di tengah kabut di kaki Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, menyelimuti medan yang curam dan hutan lebat.
Di Posko AJU, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, personel SAR bersiaga di tengah dingin menggigit dan medan ekstrem untuk mengevakuasi korban pesawat.
Posko operasi dipadati personel Basarnas, TNI, Polri, BPBD, Polhut, relawan, dan warga setempat yang mematangkan strategi sebelum menembus jalur-jalur terjal pegunungan.
Helm dan alat komunikasi melekat di tubuh para rescuer, sementara peta jalur pendakian menjadi panduan di balik kabut tebal yang sering menutup jarak pandang.
Gunung Bulusaraung, dengan ketinggian 1.353 mdpl, menjadi medan ekstrem: curam, vegetasi rapat, dan cuaca yang berubah cepat.
Kabut tebal dan hujan sering memaksa tim menghentikan pencarian, tetapi mereka tetap menunggu, siaga, dan bersiap setiap kali cuaca membuka celah.
Senin siang, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii meninjau langsung operasi SAR, didampingi Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, serta Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Bangun Nawoko.
Rombongan kemudian membahas langkah lanjutan, termasuk rencana modifikasi cuaca oleh BMKG dengan menyemai kapur di sekitar lokasi untuk menipiskan kabut dan mengurangi potensi hujan.
“Kondisi cuaca masih kurang bersahabat. Dengan modifikasi cuaca, kami berharap operasi SAR bisa lebih maksimal,” ujar Menhub Dudy.
Gubernur Andi Sudirman menambahkan, “Insya Allah, ini bisa mempermudah akses tim SAR.”
Evakuasi dilakukan dengan hati-hati. Tim SAR gabungan, dipimpin Arman (38) warga Desa Tompobulu yang pertama menemukan lokasi mayat, menarik kantong jenazah dari tebing menggunakan tali.
Operasi ini melibatkan personel TNI, Brimob, Polhut, relawan, dan masyarakat setempat. Sebelum diberangkatkan, tim mengikuti apel dan pengarahan dari Asrem Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Abi Kusnianto, disertai doa keselamatan.
BPBD Sulsel juga memastikan kesiapsiagaan penuh 24 jam, menurunkan puluhan personel untuk mendukung logistik dan pencarian di medan ekstrem. Koordinasi lintas daerah dilakukan dengan BPBD kabupaten dan kota, Damkar, dan organisasi relawan untuk memperkuat efektivitas operasi.
Ribuan relawan dari lebih 60 organisasi ikut terlibat, termasuk BASARNAS, Kodam XIV, SAR Universitas Hasanuddin, Mapala, PMI, Banser, Dompet Dhuafa, hingga komunitas lokal. Kepala Basarnas RI menyebut, total personel yang terlibat mencapai sekitar 1.200 orang.
Baca juga: Pilot Pesawat ATR 42-500 yang Kecelakaan di Maros Dikenal Sosok Perhatian Terhadap Lingkungan
Sampel DNA Korban ATR 42-500 Diambil Setelah Jenazah Diserahkan, Identifikasi Terpusat di Makassar
Proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) tidak dilakukan di lokasi kejadian. Sampel Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) atau asam deoksiribonukleat baru akan diambil setelah jenazah diserahkan dan diperiksa di tempat pemeriksaan resmi.
Kabid Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri, Kombes Wahyu Hidayati, menegaskan hal tersebut di kantor Biddokkes Polda Sulsel, Jl Kumala, Makassar, Senin (19/1/2026) sore.
“Untuk jenazah, pengambilan sampel akan dilaksanakan di tempat pemeriksaan jenazah. Kami tidak pernah mengambil sampel di TKP, supaya semua terdata dengan baik, termasuk penomoran dan administrasinya,” ujarnya.
Hingga saat ini, tim DVI belum menerima jenazah korban sehingga pemeriksaan post mortem belum dapat dilakukan.
Meski demikian, proses identifikasi tetap berjalan dengan mengumpulkan data ante mortem (AM) dari keluarga korban. Pemeriksaan dilakukan terpusat di Pos Ante Mortem Biddokkes Polda Sulsel, berdekatan dengan RS Bhayangkara Makassar.
“Karena jenazah belum diterima, berarti memang belum ada pemeriksaan jenazah. Namun kami tidak tinggal diam. Kami terus mengumpulkan data ante mortem,” jelas Wahyu.
Sejauh ini, data ante mortem dari delapan keluarga korban telah berhasil dikumpulkan, sementara dua keluarga lainnya masih dalam perjalanan.
Keluarga korban diketahui tidak seluruhnya berada di Sulsel, sebagian tercatat di Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Bekasi. Kondisi tersebut membuat tim DVI harus melakukan koordinasi lintas wilayah dengan Kabiddokkes Polda setempat.
“Sebagian keluarga difasilitasi maskapai untuk datang ke sini, tapi ada juga yang data ante mortem-nya diambil di daerah asal. Karena itu, kami masih menunggu dan terus berkoordinasi,” tambah Wahyu.
Dia menegaskan, komunikasi dengan keluarga akan terus dilakukan jika dibutuhkan data tambahan untuk kepentingan identifikasi.
Baca juga: Keluarga Deden Maulana ke Makassar, Lengkapi Data Antemortem Identifikasi Korban Pesawat ATR 42-500
Berikut adalah daftar 10 korban kecelakaan pesawat Indonesia Air Transport:
Kru pesawat (7 orang):
1. Kapten Andy Dahananto (Pilot in Command)
2. Kopilot Farhan Gunawan (Second in Command)
3. Hariadi (Flight Operation Officer)
4. Restu Adi P (Engineer)
5. Dwi Murdiono (Engineer)
6. Florencia Lolita (Awak Kabin/Flight Attendant)
7. Esther Aprilita S (Awak Kabin/Flight Attendant)
Penumpang (3 orang):
1. Ferry Irawan (Pegawai KKP, Analis Kapal Pengawas)
2. Deden Mulyana (Pegawai KKP, Pengelola Barang Milik Negara)
3. Yoga Noval (Pegawai KKP, Operator Foto Udara)
(TRIBUNTIMUR/TRIBUNNEWS)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.