Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Ada Pertemuan dengan Tokoh Kritis dan Ormas, Pengamat: Prabowo Tak Lagi Tinggal di Menara Gading

Pertemuan dengan tokoh kritis dan ormas Islam menjadi penanda bahwa Prabowo kini mulai terbuka dalam komunikasi politiknya.

Tribun X Baca tanpa iklan
Ringkasan Berita:
  • Presiden RI Prabowo Subianto mengadakan pertemuan dengan tokoh kritis atau oposisi pada Jumat (30/1/2026), dan tokoh serta pimpinan organisasi Islam pada Selasa (3/2/2026).
  • Menurut Direktur Eksekutif Skala Data Indonesia Arif Nurul Imam, pertemuan tersebut menandakan bahwa ungkapan Prabowo seolah 'tinggal di menara gading' kini tak lagi berlaku.
  • Pertemuan ini menjadi penanda bahwa Istana mulai membuka diri untuk mendengar aspirasi masyarakat, temasuk mereka yang vokal mengkritik pemerintah.

TRIBUNNEWS.COM - Direktur Eksekutif Skala Data Indonesia, Arif Nurul Imam menanggapi sejumlah pertemuan yang dilakukan Presiden RI, Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh kritis dan organisasi Islam.

Beberapa hari terakhir, Prabowo mengadakan sejumlah pertemuan:

1. Bertemu Tokoh Kritis

Pada Jumat (30/1/2026), Prabowo bertemu dengan sejumlah tokoh 'oposisi' di kediaman pribadinya yang terletak di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

Pertemuan ini berlangsung selama kurang lebih selama lima jam.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menjamu tokoh-tokoh yang disebut berseberangan dengan pemerintah, di antaranya ahli politik dan demokrasi Siti Zuhro, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu, dan mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim Polri) Susno Duadji.

Sementara, Prabowo didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara RI (Mensesneg) Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri RI (Menlu) Sugiono, Menteri Pertahanan RI (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin, mantan perwira tinggi TNI-AD Zacky Makarim, serta beberapa orang kepercayaan lainnya.

Rekomendasi Untuk Anda

2. Bertemu Ormas Islam

Prabowo mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh dan pimpinan organisasi Islam maupun pondok pesantren (ponpes) di Istana Merdeka, Jakarta pada Selasa (3/2/2026).

Beberapa tokoh yang datang adalah Ketum MUI Anwar Iskandar, Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti, Ketum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Waketum MUI Cholil Nafis, serta tokoh-tokoh Muslim lainnya.

Salah satu hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah keikutsertaan Indonesia di Board of Peace (BoP) Charter atau Piagam Perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Baca juga: Di Balik Dukungan Dua Periode Prabowo-Gibran, Upaya Jokowi Amankan Masa Depan Sang Anak di 2029

Prabowo Mulai Terbuka, Tak Lagi Tinggal di Menara Gading

Arif Nurul Imam yang pernah menjadi Staf Ahli Ketua DPD RI periode 2014-2024 menyebut, pertemuan dengan tokoh-tokoh tersebut menandakan bahwa Prabowo kini mulai terbuka dalam komunikasi politiknya.

Hal ini sangat berbeda, karena menurut Arif, komunikasi politik Mantan Menteri Pertahanan RI itu sebelumnya selalu terkesan tertutup.

PRABOWO PIDATO - Presiden RI Prabowo Subianto saat berpidato dalam annual meeting World Economic Forum di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).
PRABOWO PIDATO - Presiden RI Prabowo Subianto saat berpidato dalam annual meeting World Economic Forum di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). (Tangkapan layar dari YouTube World Economic Forum)

Apalagi, yang diundang adalah tokoh-tokoh yang kerap melontarkan kritik terhadap pemerintah dan kebijakannya.

"Pertemuan tersebut tentu dapat dibaca bahwa Prabowo Subianto mulai terbuka untuk melakukan komunikasi politik dengan stakeholder-stakeholder demokrasi di Indonesia," kata Arif dalam program On Focus yang diunggah di kanal YouTube Tribunnews, Kamis (5/2/2026).

"Kita tahu komunikasi politik Pak Prabowo selama ini terkesan tertutup, tetapi belakangan ini mulai terbuka."

"Kemudian mengundang tokoh-tokoh yang dianggap memiliki gagasan gagasan terkait kebangsaan termasuk tokoh-tokoh yang selama ini kritis terhadap pemerintah Prabowo."

"Kita tahu kemarin ada Bang Said Didu yang selama ini kritis pada pemerintah, terus Abraham Samad dan lainnya."

"Tentu ini menjadi kabar baik bahwa pemerintah Prabowo-Gibran mulai sadar bahwa menjalin komunikasi dengan berbagai stakeholder merupakan penting untuk dilakukan."

Arif juga menilai, ungkapan Prabowo seolah 'tinggal di menara gading' kini tak lagi berlaku.

Adapun ungkapan 'tinggal di menara gading' menggambarkan keadaan terpisah dari realitas kehidupan, sehingga tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi.

"Selama ini, Presiden Prabowo Subianto terkesan eksklusif sehingga berbagai aspirasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat seolah 'menabrak tembok,'" jelas Arif.

"Sehingga, Presiden terkesan berada di menara gading, tidak memahami apa yang terjadi di tengah masyarakat."

"Kehadiran para tokoh-tokoh bangsa tersebut tentu ini menjadi semacam saluran untuk menyampaikan aspirasi, menyampaikan ide dan gagasan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini."

Arif menyebut, pertemuan dengan tokoh kritis dan ormas menjadi penanda bahwa Istana Negara kini mulai membuka diri untuk mendengarkan aspirasi masyarakat, temasuk mereka yang vokal mengkritik pemerintah.

"Di sisi lain komunikasi ini juga mengesankan bahwa Istana mulai berubah untuk mendengarkan suara-suara publik, suara-suara aspirasi masyarakat, aspirasi masyarakat, bahkan termasuk suara-suara yang tidak sepakat," jelas Arif.

"Kita tahu tokoh-tokoh yang datang kemarin sebagian merupakan tokoh-tokoh vokalis yang kerap mengkritik aneka kebijakan termasuk kebijakan-kebijakan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto."

(Tribunnews.com/Rizki A.)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas