Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

RI Siap Jadi Penengah AS–Iran, Pengamat: Mediasi Harus Dipercepat Sebelum Rusia dan China Terlibat

Pengamat menilai rencana Prabowo Subianto menjadikan Indonesia mediator konflik antara Amerika Serikat dan Iran perlu dipercepat.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Wahyu Aji
zoom-in RI Siap Jadi Penengah AS–Iran, Pengamat: Mediasi Harus Dipercepat Sebelum Rusia dan China Terlibat
Pexels
ILUSTRASI BENDERA IRAN - Benteng Karim Khan di Kota Shiraz, Iran. Rencana Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto yang berupaya menjadi mediator ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran perlu dipercepat agar konflik tidak makin meluas.  
Ringkasan Berita:
  • Pengamat menilai rencana Prabowo Subianto menjadikan Indonesia mediator konflik antara Amerika Serikat dan Iran perlu dipercepat agar ketegangan di Timur Tengah tidak semakin meluas.
  • Jika serius menjadi penengah, Indonesia disarankan mengundang kedua negara untuk bernegosiasi serta melakukan diplomasi langsung ke Tehran dan negara-negara Timur Tengah.
  • Upaya mediasi dikhawatirkan semakin rumit jika Rusia dan China ikut terlibat langsung membantu Iran.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto yang berupaya menjadi mediator ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran perlu dipercepat agar konflik tidak makin meluas. 

"Rencana Prabowo jadi mediator harus dipercepat agar konflik di Timur Tengah dampaknya tidak bertambah luas," kata pengamat politik hukum dan keamanan, Dewinta Pringgodani, Senin (9/3/2026).

Mantan Staf Khusus dari eks Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Muhammad Tito Karnavian ini mengatakan jika Indonesia serius menjadi mediator, Presiden Prabowo perlu mengundang perwakilan AS dan Iran untuk bernegosiasi, termasuk terbang ke Tehran dan negara di Timur Tengah yang memiliki pangkalan militer AS seperti Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.

Dewinta menilai ada optimisme rencana mediator ini bisa terwujud. Mengingat Presiden Prabowo punya hubungan baik dengan AS dan negara-negara di Timur Tengah lainnya.

Namun dirinya mengingatkan rencana sebagai penengah perdamaian bisa makin runyam ketika Rusia dan China terlanjur bergabung dengan Iran untuk menghadapi AS.

"Jangan sampai Rusia dan China ikut campur membantu Iran baru dilakukan mediasi. Nanti bakal makin runyam," kata Dewinta.

Rekomendasi Untuk Anda

Dewinta melihat, sejauh ini Rusia dan China baru sebatas berperan di belakang layar membantu Iran menghadapi AS dan Israel. 

Sedangkan serangan balasan dari Iran membombardir Tel Aviv dan pangkalan militer AS dianggapnya sebagai sebuah kewajaran, sebagaimana hak membela diri sesuai Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa - Bangsa (PBB).

"Keterlibatan Indonesia sebagai mediator dapat menjadi titik balik bagi stabilitas kawasan," kata Dewinta.

Sebelumnya Presiden Prabowo Subianto mengirim sepucuk surat kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Surat tersebut disampaikan oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono kepada Dubes Iran untuk RI Mohammad Boroujerdi, di Jakarta.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne mengungkap surat dari Presiden Prabowo berisi kesiapan Indonesia untuk menjadi mediator atau fasilitator dialog atas konflik yang memuncak di Timur Tengah.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas