Prabowo Minta Rakyat Siap Hadapi Kondisi Sulit, INDEF: Sinyal Negara Kewalahan Kurangi Dampak Perang
sebelum konflik Timur Tengah memanas, kondisi perekonomian Indonesia sejatinya memang sudah berat untuk berkembang
Penulis:
Rizki Sandi Saputra
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
- Pemerintah sudah mulai kewalahan memitigasi dampak perang yang pengaruhnya secara global tersebut
- Konflik Timur Tengah ini, semakin memperburuk perkembangan kondisi ekonomi tanah air
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto agar masyarakat mulai bersiap menghadapi kondisi sulit dinilai menjadi suatu sinyal kalau pemerintah akan turut melibatkan masyarakatnya dalam menanggapi konflik di Timur Tengah.
Sebab kata Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abdul Manap Pulungan, pemerintah sudah mulai kewalahan memitigasi dampak perang yang pengaruhnya secara global tersebut.
"Saya pikir berarti kalau seperti itu berarti pemerintah sudah memang melihat situasinya semakin memburuk ya. Ekonomi global yang perang ini memang pada akhirnya terkonfirmasi pemerintah sudah kewalahan untuk mengurangi dampak gejolak global terhadap ekonomi nasional," kata Pulungan kepada Tribunnews, Selasa (10/3/2026).
Pulungan menyatakan demikian bukan tanpa dasar, pasalnya, dia berpandangan sebelum konflik Timur Tengah memanas, kondisi perekonomian Indonesia sejatinya memang sudah berat untuk berkembang.
Dengan adanya konflik Timur Tengah ini, semakin memperburuk perkembangan kondisi ekonomi tanah air.
"Karena gini, sebelum gejolak itu pun muncul, ekonomi kita memang sudah agak berat perkembangannya ya. Pertumbuhan kita itu hanya bergerak di 5 persen. Ditambah lagi dengan inflasi yang sangat besar gitu, sangat tinggi, terutama dari inflasi bahan makanan," kata dia.
Terlebih kata dia, belum lama ini Menteri Keuangan RI (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kalau fiskal RI mengalami defisit Rp 135,7 triliun.
Kondisi itu disebut Pulungan menjadi salah satu pertanda kalau kondisi ekonomi RI sedang tidak baik-baik saja dan justru akan makin berat dengan adanya konflik saat ini yang telah berdampak pada melonjaknya harga minyak mentah dan lesunya nilai Rupiah.
"Jadi mungkin pemerintah sudah mulai ngasih sinyal-sinyal kepada masyarakat bahwa situasinya akan semakin berat nih ke depannya," ucap Pulungan.
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira.
Bhima menyebut, pernyataan Prabowo telah menginformasikan kalau pemerintah akan melibatkan rakyatnya dalam mendorong kembali pertumbuhan ekonomi.
"Statemen presiden sebenarnya pertanda beban akan diserahkan ke masyarakat bukan APBN," kata Bhima saat dimintai tanggapannya di hari yang sama.
Potensi kebijakan yang sangat mungkin akan dilakukan pemerintah yakni dengan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan LPG baik yang subsidi maupun non-subsidi.
"Sinyal kenaikan harga BBM dan LPG mulai dirasakan. Beban biaya hidup masyarakat naik karena pendapatan masih lesu terutama kelas menengah bawah," kata dia.
Baca juga: 9 Negara yang Berpotensi Terseret dalam Perang Iran vs. AS-Israel
Tak hanya kenaikan harga BBM dan LPG, Bhima juga memprediksi kalau penerimaan pajak dari rakyat akan digalakkan.
Dia menyebut, tidak menutup kemungkinan ke depannya harga barang termasuk barang elektronik hingga kendaraan akan melejit naik.
"Inflasi akan ciptakan kontraksi ke konsumsi rumah tangga. Bahkan efek sampingan naiknya suku bunga KPR dan kendaraan bermotor makin memberatkan cicilan bulanan," kata dia.
Hal itu menurut Bhima, dampaknya kepada daya beli masyarakat yang akan makin rendah dan berujung pada lemahnya omzet bagi para pelaku usaha serta pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pekerja.
"Perang di timur tengah juga membuat nilai tukar rupiah melemah. Pangan hingga produk elektronik kulkas, rice cooker harganya akan disesuaikan. Inflationary pressure berdampak ke biaya produksi, sudah harga mahal omzet turun, phk jadi worst scenario nya," tukas dia.
Prabowo Minta Warganya Siap Hadapi Masa Sulit
Presiden Prabowo Subianto mengingatkan potensi kesulitan yang terjadi pada Indonesia imbas perang AS-Israel dengan Iran.
Menurut Presiden perang tersebut berdampak tidak hanya bagi negara negara Teluk melainkan juga negara lainnya.
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo saat meresmikan 218 jembatan di sejumlah wilayah di Indonesia secara daring, pada Senin, (9/3/2026).
“Saudara-saudara, seluruh dunia sedang mengalami goncangan, seluruh dunia. Akibat perang di Timur Tengah kita terus terang saja harus siap menghadapi kesulitan,” kata Prabowo.
Baca juga: Iran Disebut Akan Melawan hingga Titik Darah Penghabisan, Peluang Negosiasi Sangat Kecil
Mantan Danjen Kopassus tersebut menjelaskan bahwa kondisi geopolitik global sekarang ini sedang panas. Peperangan terjadi di sejumlah wilayah. Selain perang antara Rusia dan Ukraina, terkini perang terjadi di kawasan Timur Tengah yakni antara AS-Israel dengan Iran.
"Saya ingin menyampaikan ini karena kita sadar dan mengerti bahwa dunia kita sekarang penuh dengan dinamika yang berbahaya. Di mana-mana meletus perang, hampir di semua kawasan di dunia, terutama di kawasan Timur Tengah," kata Prabowo.
Menurut Presiden peperangan yang terjadi di sejumlah wilayah tersebut berpotensi akan berdampak kepada Indonesia. Meskipun secara geografis, letak Indonesia jauh dari negara negara yang sedang bertikai.
"Walaupun kita berada secara geografis jauh dari tempat itu, tapi bumi kita sudah menjadi sesungguhnya kecil. Apa yang terjadi di satu kawasan akan mempengaruhi kawasan-kawasan lain," pungkasnya.
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.