Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Ruang Damai Angkat Nilai Refleksi dan Toleransi di Tengah Konflik Global  

Pertemuan dua hari besar tersebut sebagai peluang strategis bagi Indonesia untuk menunjukkan praktik perdamaian kepada komunitas global

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Ruang Damai Angkat Nilai Refleksi dan Toleransi di Tengah Konflik Global  
HO/IST/HO/IST
PERDAMAIAN DUNIA - Diskusi lintas perspektif dalam webinar “Spirit Nyepi dan Idul Fitri untuk Perdamaian Global” yang diselenggarakan Ruang Damai, menghadirkan akademisi, pegiat budaya, dan tokoh masyarakat untuk membahas peran nilai keagamaan dan kearifan lokal dalam membangun perdamaian dunia. (HO/IST) 
Ringkasan Berita:
  • Webinar Ruang Damai menyoroti momentum berdekatan Nyepi dan Idul Fitri 2026 sebagai simbol refleksi dan pengendalian diri untuk perdamaian global.
  • Pembicara menekankan pentingnya kearifan lokal, dialog antarbudaya, dan tantangan identitas di tengah perubahan sosial dan digital.
  • Indonesia dinilai memiliki potensi besar menjadi model perdamaian dunia melalui nilai toleransi dan keberagaman.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  - Di tengah dinamika konflik global yang terus meningkat, organisasi kemanusiaan Ruang Damai menggelar webinar bertajuk “Spirit Nyepi dan Idul Fitri untuk Perdamaian Global” pada akhir pekan kemarin, 16 Maret 2026. 

Kegiatan ini mengangkat momentum unik tahun 2026, ketika Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri berlangsung dalam waktu yang berdekatan—membawa pesan kuat tentang refleksi diri dan pengendalian emosi sebagai fondasi harmoni dunia.

Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, dalam sambutannya menilai pertemuan dua hari besar tersebut sebagai peluang strategis bagi Indonesia untuk menunjukkan praktik perdamaian kepada komunitas global, khususnya di tengah ketegangan geopolitik seperti di Iran.

Ia menegaskan bahwa dialog menjadi instrumen penting dalam merawat perdamaian. Nilai-nilai luhur dari ajaran agama, menurutnya, dapat menjadi basis kokoh dalam membangun hubungan yang lebih harmonis antarbangsa.

Baca juga: DPR RI Minta Pemerintah Mitigasi Dampak Konflik Global terhadap Ekonomi Nasional

Dalam pemaparannya, Direktur Eksekutif Jakatarub, Wawan Gunawan, menyoroti pentingnya kearifan lokal sebagai hasil interaksi panjang antara manusia dan lingkungannya.

Ia merujuk pada gagasan Gus Dur tentang “Indonesia Islam” yang menempatkan nilai agama selaras dengan konteks budaya tanpa menghilangkan jati diri masyarakat.

Wawan juga mengidentifikasi tiga tantangan budaya utama saat ini, yakni existential vacuum (hilangnya kesadaran identitas budaya), pluralitarisme budaya (munculnya sikap superioritas budaya), serta sleeping giant (potensi besar keberagaman yang belum dioptimalkan untuk perdamaian). Ia mencontohkan tradisi menyekar saat Idul Fitri sebagai bentuk dialog spiritual yang sarat nilai kemanusiaan universal.

Rekomendasi Untuk Anda

Sementara itu, Kaprodi Hubungan Internasional UIN Jakarta, Robi Sugara, mengulas perspektif keamanan global di era Revolusi 6.0, di mana batas antara dunia fisik dan digital semakin kabur. Ia mengingatkan bahwa ketidaksiapan menghadapi perubahan ini berpotensi memicu krisis mental yang berdampak pada stabilitas sosial.

Dari sudut pandang Hubungan Internasional, Robi juga menyoroti sejumlah teori perdamaian, termasuk Teori Perdamaian Liberal yang menekankan pentingnya interdependensi ekonomi dan peran lembaga internasional. Ia menekankan konsep positive peace, yakni kondisi damai yang tidak hanya bebas dari konflik, tetapi juga ditopang oleh kesejahteraan dan stabilitas.

Melengkapi diskusi, Ketua PERSADHA Nusantara Provinsi Bali, I Ketut Sae Tanju, menegaskan bahwa Nyepi merupakan identitas budaya dan spiritual masyarakat Bali yang harus dihormati. Ia menekankan bahwa Nyepi bukan ruang kompromi antar-perayaan, melainkan titik temu nilai-nilai universal.

Menurutnya, Nyepi dan Idul Fitri memiliki esensi yang sejalan, yakni pengendalian diri, penyucian batin, dan refleksi. Kesamaan nilai ini dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Melalui forum ini, Ruang Damai mendorong penguatan dialog dan toleransi lintas budaya serta agama. Pemahaman yang mendalam terhadap tradisi diyakini dapat menjadikan Indonesia sebagai model perdamaian berkelanjutan di tingkat global.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas