Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Hari Raya Nyepi 2026 Tanggal Berapa? Berikut Sejarah dan Tradisinya di Indonesia

Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahunnya, berikut jadwal dan sejarah perayaan Hari Raya Nyepi di Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Hari Raya Nyepi 2026 Tanggal Berapa? Berikut Sejarah dan Tradisinya di Indonesia
WARTA KOTA/YULIANTO
HARI RAYA NYEPI - Umat Hindu melaksanakan prosesi dalam upacara Tawur Agung Kesanga 2023 di Pura Amerta Jati, Cinere, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2023). Berikut sejarah dan jadwal perayaan Hari Raya Nyepi 2026. 

TRIBUNNEWS.COM - Hari Raya Nyepi akan segera dirayakan pada tahun ini.

Nyepi adalah hari besar keagamaan bagi umat Hindu, merupakan momen pergantian tahun dalam kalender Caka.

Masyarakat umat Hindu biasanya akan melakukan kegiatan ibadah seperti persembahyangan, sebagai wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa pada saat Nyepi.

Hari Raya Nyepi dimaknai sebagai hari sunyi yang terjadi selama 24 jam selama bulan Maret, setiap tahun, setelah bulan baru.

Nyepi juga diartikan sebagai hari keheningan wajib bagi seluruh umat Hindu.

Baca juga: 100 Kata-Kata Hari Raya Nyepi 2026, Sarat Doa dan Harapan Baik

Kapan perayaan Hari Raya Nyepi tahun 2026?

Menurut Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama (Menag), Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Nomor: 1497 Tahun 2025, Nomor: 2 Tahun 2025, dan Nomor: 5 Tahun 2025, Hari Raya Nyepi jatuh pada bulan ini.

Menurut SKB 3 Menteri, perayaan hari suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026.

Rekomendasi Untuk Anda

Pada perayaan Nyepi juga terdapat jadwal cuti bersama, yaitu pada 18 Maret 2026.

Waktu libur tersebut dapat dimanfaatkan umat Hindu untuk melaksanakan berbagai rangkaian tradisi Hari Raya Nyepi.

Baca juga: Jadwal Libur Bursa selama Nyepi dan Idul Fitri 2026, Catat Tanggalnya

Tujuan dan Makna Nyepi

Nyepi didefinisikan sebagai waktu penyucian diri sebelum Tahun Baru.

Hari Raya Nyepi juga dimaknai sebagai momen dimana semua roh jahat yang telah mengintai di sekitar kita secara metaforis diminta untuk menjauh dari sekitar kita.

Nyepi memiliki filosofi dimana umat Hindu memohon kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, untuk melakukan penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam dan seluruh isinya). 

Dikutip dari disbud.bulelengkab.go.id, pada saat Nyepi tidak boleh melakukan aktifitas seperti pada umumnya, seperti keluar rumah (kecuali sakit dan perlu berobat), menyalakan lampu, bekerja dan sebagainya.

Tujuannya adalah agar tercipta suasana sepi, sepi dari hiruk pikuknya kehidupan dan sepi dari semua nafsu atau keserakahan sifat manusia untuk menyucikan Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (manusia). 

Sebelum hari raya Nyepi, dilaksanakan serangkaian upacara dan upakara yang bertujuan agar Penyucian Buana Alit dan Buana Agung berjalan dengan lancar.

Baca juga: Libur Nyepi 2026 Mulai Tanggal Berapa? Cek SKB 3 Menteri

Sejarah dan Tradisi Perayaan Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi merupakan peringatan pergantian Tahun Baru Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali.

Perayaan ini jatuh sehari setelah Tilem Kesanga, tepatnya pada tanggal 1 Sasih Kedasa dalam penanggalan Bali.

Mengutip dari situs resmi Dinas Kebudayaan Buleleng, Nyepi memiliki arti “sepi” atau “sunyi”.

Sesuai maknanya, perayaan ini dijalankan dengan suasana hening sebagai bentuk perenungan diri.

Khususnya di Bali, perayaan Hari Raya Nyepi memiliki beberapa rangkaian tahapan, yaitu:

1. Melasti, Mecaru, dan Pengerupukan

Melasti merupakan ritual penyucian alam yang dilakukan dengan menghanyutkan segala kotoran atau hal negatif menggunakan air suci (Tirta Amerta).

Mecaru atau Tawur Mecaru dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, tepatnya pada Tilem Sasih Kesanga.

Upacara ini dilakukan dengan mempersembahkan sesajen kepada Bhuta Kala atau unsur negatif, dengan tujuan agar tidak mengganggu kehidupan manusia.

Setelah itu, dilanjutkan dengan Pengerupukan, yakni ritual yang dilakukan dengan menebar nasi tawur, menyalakan api atau obor di sekitar rumah, serta menimbulkan suara gaduh dengan memukul berbagai benda.

Hal ini bertujuan untuk mengusir energi negatif dari lingkungan.

2. Hari Raya Nyepi

Saat Hari Raya Nyepi berlangsung, suasana di Bali menjadi sangat sunyi. 

Seluruh aktivitas dihentikan, dan masyarakat menjalankan Catur Brata Penyepian, termasuk berpuasa serta melakukan introspeksi diri.

3. Ngembak Geni

Ngembak Geni merupakan rangkaian terakhir yang dilaksanakan sehari setelah Nyepi.

Pada hari tersebut, masyarakat kembali beraktivitas dan saling mengunjungi keluarga, tetangga, serta kerabat untuk mempererat hubungan dan saling memaafkan.

(Tribunnews.com/Oktavia WW)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas