Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Usai Sholat Idul Fitri, Ini Amalan Sunnah yang Bisa Dilakukan

Setelah sholat Idul Fitri, umat Islam dianjurkan lakukan silaturahmi, sedekah, dan saling memaafkan.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Widya Lisfianti
Editor: Endra Kurniawan
zoom-in Usai Sholat Idul Fitri, Ini Amalan Sunnah yang Bisa Dilakukan
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Umat muslim melaksanakan sholat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H di Masjid Raya Al Arif Jalan Stasiun Senen, Jakarta Pusat, Kamis (13/5/2021). Setelah sholat Idul Fitri, umat Islam dianjurkan lakukan silaturahmi, sedekah, dan saling memaafkan. 
Ringkasan Berita:
  1. Silaturahmi dan saling memaafkan menjadi amalan utama setelah sholat Id
  2. Sedekah dan berbagi membantu memperluas kebahagiaan Idul Fitri
  3. Tradisi mengunjungi kerabat dan memberi ucapan selamat tetap dianjurkan

TRIBUNNEWS.COM - Setelah melaksanakan sholat Idul Fitri, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan hari raya dengan berbagai amalan yang memiliki nilai ibadah dan sosial. 

Amalan ini menjadi bagian penting dalam menjaga semangat Ramadhan sekaligus mempererat hubungan antar sesama.

Berdasarkan penjelasan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Kementerian Agama (Kemenag), terdapat sejumlah amalan yang dapat dilakukan setelah sholat Idul Fitri. 

Amalan tersebut tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan setelah sholat Idul Fitri:

1. Menjalin Silaturahmi dan Saling Memaafkan

Salah satu amalan utama setelah sholat Id adalah menjalin silaturahmi dan saling memaafkan. 

Umat Islam dianjurkan untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah terjadi, baik kepada keluarga, tetangga, maupun sahabat.

Rekomendasi Untuk Anda

Silaturahmi menjadi sarana untuk memperbaiki hubungan sosial. Dengan saling berkunjung dan bermaaf-maafan, suasana kebersamaan semakin terasa dan hubungan menjadi lebih harmonis.

2. Bersedekah dan Berbagi Kebahagiaan

Selain zakat fitrah yang telah ditunaikan sebelumnya, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak sedekah.

Baca juga: 5 Amalan sebelum Sholat Idul Fitri yang Dianjurkan, Apa Saja?

Sedekah dapat diberikan kepada fakir miskin, anak yatim, atau orang yang membutuhkan. Bentuknya bisa berupa makanan, pakaian, maupun bantuan lainnya.

Amalan ini menjadi wujud kepedulian sosial agar kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

3. Mendatangi Tempat Keramaian

Pada masa Rasulullah, terdapat riwayat bahwa beliau pernah mendatangi tempat keramaian bersama Aisyah.

Dalam hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Aisyah sampai menjengukkan (memunculkan) kepala di atas bahu Rasulullah untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. 

Hal ini menunjukkan bahwa menikmati hiburan yang positif pada hari raya diperbolehkan selama tetap dalam batas syariat.

4. Mengunjungi Rumah Sahabat atau Keluarga

Tradisi mengunjungi rumah kerabat atau sahabat telah ada sejak zaman Rasulullah.

Ketika Idul Fitri tiba, Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya dan saling mendoakan kebaikan. 

Tradisi ini masih terus dilakukan hingga saat ini dalam bentuk silaturahmi atau halal bihalal.

Baca juga: 89 Lokasi Sholat Idul Fitri 1447 H Muhammadiyah di Solo Jumat 20 Maret 2026

5. Tahniah (Memberi Ucapan Selamat)

Memberikan ucapan selamat menjadi bagian dari tradisi Idul Fitri yang dianjurkan.

Beberapa contoh ucapan yang umum digunakan antara lain “taqabbala allâhu minnâ wa minkum”, “kullu ‘âmin wa antum bi khair”, “minal aidin wa al-faizin”, dan “mohon maaf lahir batin”.

Berikut salah satu penjelasan ulama terkait tahniah:

“Sebuah penutup. Al-Qamuli berkata, aku tidak melihat dari para Ashab (ulama Syafi’iyah) berkomentar tentang ucapan selamat hari raya, beberapa tahun dan bulan tertentu seperti yang dilakukan banyak orang. Tetapi al-Hafizh al-Mundziri mengutip dari al-Hafizh al Maqdisi bahwa beliau menjawab masalah tersebut bahwa orang-orang senantiasa berbeda pendapat di dalamnya. Pendapatku, hal tersebut hukumnya mubah, tidak sunnah, tidak bid’ah.”

“Al-Syihab Ibnu Hajar setelah menelaah hal tersebut menjawab bahwa tahniah disyariatkan. Beliau berargumen bahwa al-Baihaqi membuat bab tersendiri tentang tahniah, beliau berkata; bab riwayat tentang ucapan manusia satu kepada lainnya saat hari raya; semoga Allah menerima kami dan kalian;. Ibnu Hajar menyebutkan statemen al-Baihaqi tentang hadits-hadits dan ucapan para sahabat yang lemah (riwayatnya), akan tetapi rangkain dalil-dalil tersebut bisa dibuat argumen dalam urusan sejenis tahniah ini”.

(Tribunnews.com/Widya)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas