Muhadjir: Muhammadiyah Lebaran Duluan, Bukan Soal Taat atau Tidak ke Pemerintah
Muhadjir Effendy menyebut umat Islam yang merayakan lebaran lebih dulu maupun yang mengikuti keputusan pemerintah tetap sama-sama taat
Penulis:
Mario Christian Sumampow
Editor:
Erik S
Ringkasan Berita:
- Muhadjir Effendy menegaskan perbedaan Idulfitri bukan berarti tidak taat pada pemerintah.
- Ia menyebut umat yang merayakan lebih awal maupun mengikuti pemerintah tetap sama-sama patuh.
- Perbedaan terjadi karena metode penentuan hilal yang berbeda dan sama-sama memiliki dasar kuat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy menegaskan perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah bukan bentuk ketidaktaatan terhadap pemerintah.
Ia menyebut umat Islam yang merayakan lebaran lebih dulu maupun yang mengikuti keputusan pemerintah tetap sama-sama taat.
"Jadi ini kan kita sudah biasa berbeda gitu dan jangan diinterpretasikan yang penting, yang dimaksud taat kepada pemerintah itu bukan berarti lebarannya sama gitu ya," ujar Muhadjir saat ditemui di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (20/3/2026).
"Jadi baik yang lebaran hari ini maupun besok itu ya sama-sama taat kepada pemerintah, ini yang harus kita tekankan," sambung dia.
Muhadjir menegaskan hal tersebut karena adanya kecenderungan anggapan bahwa pihak yang merayakan Lebaran lebih awal dianggap tidak patuh.
Menurut dia, perbedaan yang terjadi dilandasi oleh argumen yang sama-sama kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Muhadjir juga merujuk ceramah cendekiawan muslim, Muhammad Quraish Shihab, yang menyampaikan bahwa siapa pun yang menyaksikan datangnya bulan Ramadan maka hendaknya berpuasa.
Ia menilai hal tersebut serupa dengan keyakinan dalam mengucapkan syahadat, yang didasarkan pada akal dan keimanan.
"Karena kita akal sehat kita menyatakan bahwa ada Tuhan itu, tidak ada Tuhan selain Allah maka kita bersyahadat. Sama itu, jadi ini soal perbedaan metodologi yang saya kira tidak perlu dipertajam," ucapnya.
Lebih lanjut, Muhadjir menjelaskan Muhammadiyah menggunakan konsep tajdid dalam menentukan awal bulan Hijriah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal.
Dalam konsep wujudul hilal saat ini, penentuan awal bulan tidak lagi terbatas pada wilayah tertentu, melainkan berlaku secara global.
Baca juga: Wali Kota Sukabumi Disoraki Warga Muhammadiyah Saat Beri Sambutan Salat Idulfitri, Ini Penyebabnya
Ia mencontohkan, pada tahun ini hilal pertama kali muncul di Alaska, sehingga kemunculan tersebut menjadi acuan bagi seluruh dunia, tidak hanya berlaku di wilayah tersebut saja.
"Dan itulah perbedaannya antara wujudul hilal yang lama yang itu terbatas untuk Indonesia, sekarang wujudul hilal itu berlaku untuk seluruh dunia dan sekarang sudah diratifikasi lebih dari 10 negara ya untuk kalender Hijriah Global Tunggal itu," pungkasnya.
Berdasarkan Maklumat Resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1 Syawal 1447 Hijriyah jatuh pada Jumat
Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H karena didasarkan hasil sidang isbat yang menjadi forum musyawarah dengan menimbang data hisab dan hasil rukyatul hilal atau pengamatan hilal di berbagai wilayah Indonesia.
Baca tanpa iklan