Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dari Kenakalan Jadi Harapan: Sekolah Rakyat Bantu Julio Menata Masa Depan

Melalui Sekolah Rakyat, Kementerian Sosial terus berupaya memastikan bahwa anak-anak seperti Julio tidak kehilangan masa depan.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Content Writer
zoom-in Dari Kenakalan Jadi Harapan: Sekolah Rakyat Bantu Julio Menata Masa Depan
Dok. Kemensos
SISWA SEKOLAH RAKYAT - Julio, siswa Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 2 Surakarta. Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi titik balik Julio untuk kembali belajar dan menjauh dari pergaulan bebas. 

TRIBUNNEWS.COM - Takdir Julio sebagai anak yatim tidak membuatnya minder. Berkat doa dan dukungan dari sang nenek, ia bisa meraih kesempatan belajar di Sekolah Rakyat.

Julio dan neneknya, Welas (74) selama ini tinggal di rumah sederhana di Kampung Kedung Tungkul, Surakarta, Jawa Tengah.  Untuk memenuhi kebutuhan hidup sang cucu, Welas berjualan sayur keliling. Namun, satu hal yang tak pernah pudar adalah harapannya agar sang cucu, Julio, memiliki masa depan yang lebih baik.

Bagi Kementerian Sosial, kisah Julio bukan sekadar angka dalam data kemiskinan atau potret anak putus sekolah. Ia adalah wajah nyata dari anak-anak yang membutuhkan uluran negara untuk kembali menemukan arah hidup.

Sejak kehilangan ayahnya di usia satu tahun, Julio tumbuh dalam keterbatasan bersama sang nenek. Tanpa pendampingan yang memadai, ia sempat terjerumus dalam pergaulan yang salah. Hari-harinya diwarnai kenakalan remaja, dari lempar batu hingga membawa senjata tajam. Ia pun putus sekolah di bangku kelas 3 SD.

Kondisi ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi Welas. Dalam keterbatasannya, ia terus mencari jalan agar cucunya tidak semakin jauh tersesat. Harapan itu akhirnya menemukan jalannya melalui Sekolah Rakyat, sebuah program pendidikan berasrama gratis yang dihadirkan Presiden RI Prabowo Subianto bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Kini, Julio tercatat sebagai siswa di Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 2 Surakarta.

Perubahan perilaku Julio perlahan tampak. Julio yang dulu sulit diatur, kini mulai menunjukkan sikap yang lebih tenang. Ia kembali belajar, mengenal kedisiplinan, dan yang paling menghangatkan hati, menemukan kembali kasih sayang dalam hubungan dengan neneknya.

Baca juga: Proses Seleksi Sekolah Rakyat Melalui Penjangkauan Langsung ke Keluarga Miskin, Tak Ada Suap-Titipan

“Sekarang dia lebih dekat. Bisa merangkul, menciumi saya. Katanya senang di sekolah,” tutur Welas dengan mata yang berbinar.

Rekomendasi Untuk Anda

Bagi Kementerian Sosial, Sekolah Rakyat menjadi bentuk ruang aman yang memulihkan tempat anak-anak tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar tentang nilai, kedisiplinan, dan masa depan.

Kehadiran sekolah berasrama juga meringankan beban keluarga. Jika dulu Julio kerap meminta uang jajan harian yang memberatkan, kini kebutuhan dasarnya terpenuhi. Negara hadir tidak hanya sebagai penyedia layanan, tetapi sebagai pelindung bagi anak-anak yang rentan.

Di tengah usianya yang semakin renta, Welas pun kini bisa sedikit bernapas lega. Harapannya sederhana, Julio tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, dan tidak terlantar.

“Kalau saya sudah tidak ada, saya titip cucu saya. Semoga dia jadi orang baik,” ucapnya lirih.

Dalam setiap doanya, ia menitipkan masa depan Julio, sebuah harapan yang ia tahu suatu hari harus ia lepaskan.

Kisah Julio menjadi pengingat bahwa intervensi yang tepat dapat mengubah arah hidup seorang anak. Melalui Sekolah Rakyat, Kementerian Sosial terus berupaya memastikan bahwa anak-anak seperti Julio tidak kehilangan masa depan hanya karena lahir dalam keterbatasan.

Baca juga: Pimpinan DPR Dorong Percepatan Sekolah Rakyat: Pendidikan Kunci Membentuk SDM Unggul

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas