Menlu Sugiono Sentil Pihak yang Khawatir Dampak Ketegangan di Selat Hormuz
Sugiono meminta masyarakat untuk melihat keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan BBM secara proporsional.
Penulis:
Igman Ibrahim
Editor:
Dewi Agustina
Ringkasan Berita:
- Menteri Luar Negeri RI Sugiono merespons terkait kekhawatiran publik terhadap dampak ketegangan di Selat Hormuz terhadap ketahanan energi nasional.
- Sugiono meminta masyarakat untuk melihat keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan BBM secara proporsional dan tidak hanya terpaku pada krisis di luar negeri.
- Menurut Sugiono, keberhasilan pemerintah dalam menjaga suplai energi sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan kendala yang saat ini terjadi di Selat Hormuz.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono merespons terkait kekhawatiran publik terhadap dampak ketegangan di Selat Hormuz terhadap ketahanan energi nasional.
Sugiono meminta masyarakat untuk melihat keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan BBM secara proporsional dan tidak hanya terpaku pada krisis di luar negeri.
Baca juga: Modus Penyalahgunaan BBM-LPG Subsidi: Pakai Istilah Helikopter, Bermain dengan Petugas SPBU
"Jadi supaya kita tidak hilang gambaran. Jangan nanti kita kuman di seberang lautan kelihatan tapi gajah di pelupuk mata nggak kelihatan," ujar Sugiono di Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Jakarta Pusat, Rabu (22/6/2026).
Menurut Sugiono, keberhasilan pemerintah dalam menjaga suplai energi sebenarnya jauh lebih besar dibandingkan kendala yang saat ini terjadi di Selat Hormuz.
Ia mengingatkan pentingnya menempatkan permasalahan tersebut dalam perspektif yang proporsional tanpa bermaksud meremehkan situasi yang ada.
"Keberhasilan pemerintah menjaga supply BBM, supply energi ini ya lebih besar daripada apa yang sekarang sedang nyangkut di Hormuz," tuturnya.
Terkait dua kapal Pertamina yang berada di wilayah tersebut, Sugiono menjelaskan bahwa total muatannya mencapai sekitar 2 juta barel crude atau minyak mentah.
Namun, angka tersebut dinilai relatif kecil jika dibandingkan dengan total kebutuhan energi nasional harian Indonesia.
Sugiono merinci bahwa muatan kapal tersebut hanya setara dengan kebutuhan energi untuk durasi waktu yang sangat singkat di dalam negeri.
"Dan kebutuhan itu kalau misalnya disandingkan dengan kebutuhan energi kita merupakan satu kebutuhan yang relatif kecil. 1,6 hari lah ya. Dua hari," jelasnya.
Untuk menjamin keamanan pasokan ke depan, pemerintah saat ini sedang menjajaki berbagai sumber energi alternatif dari negara-negara strategis lainnya.
Rusia dan Amerika Serikat disebut sebagai beberapa mitra potensial yang masuk dalam skema pemenuhan suplai bahan bakar tersebut.
Selain itu, kata Sugiono, Indonesia terus melakukan negosiasi intensif melalui Kedutaan Besar RI di Tehran dan tim Pertamina terkait izin melintas kapal-kapal di Selat Hormuz.
Baca tanpa iklan