Komdigi: Jangan Takut AI, Pendidikan Harus Manfaatkan Teknologi
Komdigi menegaskan kecerdasan buatan perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas pendidikan, dengan kunci literasi digital.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Wahyu Aji
Ringkasan Berita:
- Rizki Ameliah menegaskan kecerdasan buatan perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan dan kualitas pendidikan, dengan kunci pada literasi digital agar masyarakat lebih produktif dan kritis.
- Belajaraya Jakarta 2026 menjadi bagian dari gerakan pendidikan di berbagai kota, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan bahwa pendidikan tidak hanya sebatas sekolah formal.
- Inisiatif dari Semua Murid Semua Guru ini menghadirkan berbagai aktivitas edukatif dan kolaboratif.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital Komdigi, Rizki Ameliah, menilai kecerdasan buatan (AI) tidak perlu ditakuti.
AI, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan masyarakat.
"Di tengah perkembangan teknologi, termasuk AI, kita tidak boleh takut, tetapi harus melek dan mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan keterampilan diri," kata Rizki.
Pesan itu disampaikan Rizki dalam konferensi pers Belajaraya Jakarta 2026, yang akan digelar pada 2 Mei bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional di Taman Ismail Marzuki.
Ia menekankan, kemampuan literasi digital menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara produktif dan kritis.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya teknologi itu sendiri, melainkan kesiapan sumber daya manusia dalam beradaptasi.
"Pemerintah perlu bergerak bersama komunitas, swasta, akademisi, hingga platform digital," ujarnya.
Tahun ini, Belajaraya mengusung tema “Merayakan Kerja Barengan untuk Ekosistem Pendidikan” dan telah digelar di berbagai kota seperti Bali, Bandung, Makassar, Semarang, Surabaya, hingga Kupang, sebelum ditutup di Jakarta.
Inisiator SMSG, Najeela Shihab, menilai perluasan Belajaraya ke sembilan kota menjadi sinyal kuat bahwa gerakan pendidikan berbasis komunitas semakin berkembang dan tidak lagi terpusat di kota besar.
Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru terletak pada cara pandang masyarakat yang masih menyamakan pendidikan dengan persekolahan formal.
"Pendidikan bukan sekadar soal ijazah, tetapi perubahan perilaku dan kontribusi nyata terhadap masyarakat," ujarnya.
Belajaraya Jakarta 2026 akan menghadirkan beragam aktivitas, seperti Ngobrol Publik, Kelas Belajar, Booth Komunitas, hingga pertunjukan seni dan musik yang dirancang inklusif dan kolaboratif.
Ketua Umum SMSG, Marsya Nurmaranti, menyebut Belajaraya bukan sekadar acara, tetapi gerakan kolaboratif untuk mendorong perubahan pendidikan secara berkelanjutan.
"Upaya memajukan pendidikan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada keterlibatan bersama dari berbagai pihak," ujarnya.
Baca juga: Literasi Digital Makin Penting untuk Hadapi Maraknya Hoaks
Sejumlah tokoh lintas sektor dijadwalkan hadir, di antaranya Meutya Hafid, Nasaruddin Umar, Quraish Shihab, Najwa Shihab, hingga figur publik seperti Nikita Willy dan Ryan Adriandhy.
Baca tanpa iklan